Senin, 26 Juli 2010

SEMPRÉ VIVA

Rizky Q.




U know, this is my second nights staying in this room. Room that I rent for a week indulging my passion of writing. But still…, I have nothing in mind to jot down in my notebook.

Kata-kata tersebut tertulis di layar notebook applenya mengawali cerita yang akan ditulisnya, tetapi kemudian ia merasa hilang, blank dalam kebuntuan.
Majalah FHM, surat kabar terbitan hari ini dan The Book of Lost Things-nya John Connolly terserak di atas kasur. Tidak ada dipan di kamar itu, hanya sebuah kasur yang isi tengahnya sudah terbagi ke sisi samping, di bungkus seprai putih yang bersih dan sederhana. Dan kasur itu diganjal dengan ambal merah di bawahnya yang dilipat sedemikian rupa sehingga menjadikannya lebih tinggi menghindari dinginnya lantai. Tak ada meja juga. Hanya ada sebuah kipas angin yang kipasnya berhasil mengumpulkan debu setengah millimeter mungkin dan berbunyi layaknya mesin Robin pada kapal nelayan. Tak ada lemari pakaian, sebagai gantinya hanya ada sebuah keranjang plastik biru persegi empat yang biasa digunakan sebagai tempat menaruh pakaian bayi pada rumah-rumah keluarga kelas menengah ke bawah, dan dalam keranjang itupun masih tersisa beberapa pakaian anak-anak yang kemudian ditimpa oleh semua pakaian Bara diatasnya.
Baiknya, kamar ini terlihat bersih ketika ia pertama kali melihatnya dengan cahaya yang baik.
Dan lampu itu mungkin satu-satunya benda terbaru yang menghuni kamar ini.
Itulah pikirnya sewaktu kemarin.
Rumah ini adalah rumah yang terbuat dari kayu yang dihuni pasangan tua yang ketiga anak-anaknya sudah pergi entah kemana menjalani hidup sendiri-sendiri. Pak Tun dan Mak Rogayah adalah nama mereka. Dalam kesehariannya Pak Tun dan Mak Yah hanya ditemani oleh seorang perempuan yang bertugas sebagai emban yang meringankan banyak kerjaan bernama Rohimah atau Bi Imah. Dalam pandangannya mereka adalah orang-orang yang ramah. Hanya saja Pak Tun tidak terlihat sebagai orang yang banyak berbicara. Ia hanya bicara seperlunya. Tapi ia merasa kalau itu hanya pandangannya saja.
Kamar Bara sendiri terletak di lantai tingkat dua. Dan hanya Bara sendiri yang berada di lantai ini. karena kamar di sebelahnya juga kosong. Oleh karena itu, otomatis kebanyakan perkerjaan dan hunian dilakukan di lantai di bawah kamarnya.
Kukira mungkin mereka sedikit terkejut malam kemarin ketika aku mengajukan diri untuk menginap di rumah mereka dan menyewa kamar ini selama seminggu (atau dua minggu…?).
Bara memperkenalkan diri sebagai seorang mahasiswa yang sedang membutuhkan kamar untuk menulis risetnya. Biar saja, toh takkan ada yang mengenalinya sebagai seorang penulis yang sudah punya nama di desa ini, rumah Pak Tun dan Mak Yah didapat dari orang-orang sekitar desa setelah dirinya bertanya ke sana-kemari. Dan kebanyakan mereka menunjuk rumah pasangan ini sebagai tempat yang memiliki kamar kosong dan bebas dari bising dan jahilnya anak-anak yang kemungkinan dapat mengganggu pekerjaan. Dan itu baginya adalah …
Sempurna!
Bara memang tidak menyukai anak-anak.
‘Mungkin kapasitasmu sebagai paman keponakanmu harus dipertanyakan Bar, atau bagaimana nanti kalau kau menikah? Kau kan akan dihadapi dengan munculnya makhluk baru yang akan keluar dari rahim istrimu.’
Ia hanya diam ketika Joe menanyakan hal itu padanya setelah ia menyuruh Ren, anak kakaknya yang berkunjung ke rumah, untuk pergi main menjauh darinya.
Ah, itu bisa dipikirkan nanti. Itu yang ada dalam benaknya yang dipelihara selama bertahun.
Joe sendiri telah menikah dan memiliki anak satu dan segera satu lagi beberapa bulan mendatang. Usia mereka sama, 33 tahun. Tapi Bara seakan tidak mau dipusingkan dengan perkawinan dan …anak!
Baginya, anak-anak, apalagi di bawah 10 tahun tak ubahnya seperti jamur yang siap menjalar menggerogoti tubuh secara perlahan. Menggelikan sekaligus mengiritasi. Ia bergidik sendiri mengenai hal itu. Entahlah, sebenarnya Ia pernah mempertanyakan hal tersebut pada dirinya sendiri. Mengapa Ia bisa tidak menyukai anak-anak? Apa yang istimewa pada mereka. Terkadang ia (sedikit) menyunggingkan senyum bila melihat tingkah menggemaskan yang dibuat Ren atau saudara kembarnya Jan. Tapi segera seperti ada sensor dalam kepalanya yang berbunyi mengingatkannya untuk menarik tarikan tipis di mulutnya tersebut ke posisi awal dan berpalinglah dari mereka segera. Dan Iapun melakukannya.
Dan itu pulalah yang menjadi alasan bagi Nia, pacar terakhirnya untuk tidak melanjutkan hubungan dengannya. Bara belum siap dengan anak-anak. Tetapi ia sangat siap dengan prosesnya. Ia menyenanginya. Tidak ada satu orangpun mantan pacarnya yang tidak takluk pada dirinya dan menolak tidur dengannya. Dan untungnya mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya Nia. Perempuan terakhir itu adalah yang terlama menjalin hubungan dengannya dan dialah yang (mungkin) sedikit memberikan rasa sakit pada hatinya ketika mereka berpisah.
Sebagai penulis yang cukup produktif ia merasa kini ia harus fokus pada kerjaannya. Artikel mingguannya yang ditunggu 3 surat kabar dan tulisan lepasnya yang menghiasi satu atau dua media tiap bulannya.
But married and kid? Oow, they have to wait.

Satu halaman cerita mengisi lembaran words-nya. Mungkin ini bukan untuk buku yang akan terbit selanjutnya, tapi bisa untuk sebuah cerita pendek. Hanya satu halaman, kemudian pikirannya mandeg, dan matanya terserang kantuk yang sangat.
‘Pukul sebelas sudah.’ Ia putuskan untuk segera tidur.

* * *

Tak lama tertidur, sesuatu mengusiknya.
Bruk, bruk bruk!
Suara riuh dari luar kamarnya membuatnya terbangun dalam keterkejutan. Semua berguncang. Seperti sesuatu yang besar berjalan dengan sangat tergesa berasal dari beranda luar kamarnya.
Tergesa? Tidak, berlari lebih tepatnya.
Dan itu seperti gempa yang seakan hendak merontokkan semua lantai kayu di tingkat dua itu untuk kemudian naik ke atas atap. Gaduh dan cepat!
Dan begitu gaduh itu menghilang, belasan anjing liar di luar kemudian melolong serentak seperti dikomando. Dari yang terdekat sampai yang terjauh yang bisa ditangkap oleh telinganya.
Bara yang tersentak oleh guncangan hanya bisa mendongak dan terdiam.
Apa itu di luar?
Berkelebat banyak tanya di benaknya tapi tetap tidak membuatnya beranjak dari kasur untuk beberapa saat. Entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup kencang dan tak keruan. Ia meraih jam yang terletak di samping kasurnya, meraih ponselnya dan menyalakannya untuk memberi sedikit penerangan padanya untuk melihat.
00.36 dini hari!
Siapa yang berlari di rumah kayu ini malam-malam? Tidak mungkin ia tidak tahu kalau hal itu akan membuat riuh satu rumah.
‘Pencuri!’
Ia singkap kainnya untuk kemudian berdiri. Perlahan ia menuju pintu kamar untuk melihat ada apa di luar. Pikirannya masih dapat memanggil kembali rasa kaget karena lantai yang goyang dan riuh. Ia masih dapat merasakan getaran setiap lantainya.
Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan melirik, tak ada siapapun di luar!
Lampu jalanan hanya memberi sedikit penerangan di hadapannya dan anjing-anjing sialan itu masih terus melolong.
Benar, tak ada siapapun di luar.
Di kejauhan ia dapat melihat bulan separuh meredup tertutup awan.
‘Anjrit! Bikin kaget aja!’
Bara menyusuri beranda atas itu. tangannya meraih satu tiang dan memanjat ke atas pagar pembatas untuk melongok ke atas atap rumah yang memang rendah. Di atas juga tak ada sesiapapun atau apapun. Kembali ia melihat ke beranda dan berjalan ke ujung.
Mungkin pencuri itu bersembunyi diantara rimbunan semak di samping rumah dan masih di sana.
Dari atas ia pandangi sekeliling dengan penglihatan terbaiknya di daerah yang minim cahaya itu. Sedikit cahaya dari lampu jalanan dan lampu halaman tetangga membantunya.
Tetap, tak ada siapapun di sana.
‘Kampret, sialan! Gerutunya, Ia kembali ke arah kamarnya.
Satu tanya mengalir di benaknya,
Mengapa Bapak dan Emak Yah tidak terbangun ya? goncangannya cukup keras, dan itu bukan gempa. Atau Bi Imah? Kenapa ia juga tidak merasakannya?
Ia menepis pikirannya. Mungkin sepasang musang atau kucing sedang dalam masa birahi yang berkejaran melintasi rumah. Ada-ada saja…
Bara mengarahkan pikirannya ke peristiwa semacam itu, dan melanjutkan tidurnya.
Benarkah?

* * *

Ini adalah hari yang biasa seperti kemarin. Biasa dengan langit berawan yang tetap menggantung di atas desa ini. Biasa dengan hawa yang sejuk dan semilir angin yang melewati tiap telinga. Biasa dengan orang-orang yang telah terbiasa dengan terasa lambannya waktu berjalan di sini. Bara telah bangun dari tadi. Ia bahkan sudah berjalanjalan dengan kaki telanjang di kebun samping rumah, dan mencuci mukanya di sumur pompa di belakang kandang kambing kosong. Kandang yang kini hanya menjadi tempat timbunan kayu dan alat pertukangan Pak Tun.
Dan Bara, memutuskan untuk menyusuri desa dan daerah sekitarnya pagi ini setelah pamitan pada Mak Yah untuk sarapan.
Lambungnya diisi dengan sepiring nasi pecal di pasar dan bergegas berjalan setelahnya. Ia lewati jalan desa, dan halaman sambil tersenyum sesekali menyapa orang yang berpapasan. Ranselnya tergantung di belakang berisikan perlengkapan perang untuk menulisnya, sementara di tangannya tergantung kamera untuk pengabadi rute perjalanannya. Beberapa gadis dan ibu-ibu yang mencuci di sungai melihat padanya ketika ia melintasi jembatan kecil. Dan malah ia yang tersipu malu.
Beberapa orang berpapasan dengannya sedang memanggul rumput gajah dan menggiring sapi mereka, beberapa dengan kambing. Kakinya membawanya melewati sawah, kebun, dan jalan-jalan setapak desa. Tapi ia belum berhenti.
Hingga akhirnya ia sampai di setapak ujung lereng dengan pemandangan kebun teh yang luas terhampar di bawahnya, dan hutan pinus di atasnya.
Amazing!
Ia segera membidik kameranya pada pemandangan ini. Pemandangan yang bisa bagi orang-orang sekitar tapi tidak bagi dirinya. Sederhana tapi mengagumkan. Sementara kabut terlihat seperti belum mau beranjak dari lereng-lereng tersebut. Ia mengancingkan sweaternya tinggi. Udara semakin dingin.
Bara turun menyusuri setapak di antara kebun. Beberapa buruh petik acuh tak acuh padanya. Dan malah tersenyum ketika Ia mengambil gambar mereka. Dan hari memang telah menunjukkan maksudnya sedari awal. Gerimis perlahan turun membuat ia harus berlari mencari tempat berteduh. Sebuah saung kecil menjadi tujuannya. Tapi hanya dia. Para buruh petik tetap melanjutkan pekerjaan mereka walau hujan membasahi. Mereka telah terbiasa dengan ini.
Bara menggelengkan kepala melihat mereka, dedikasi yang luar biasa.
Di saung itu ia melap kameranya dan mulai mengeluarkan isi ranselnya. Apple-nya di letakkan di atas lantai bambu saung dan jarinya mulai memainkan tuts-tuts di keyboard. Bara merasa memiliki banyak hal yang bisa ia tumpahkan saat ini untuk tulisannya. Beberapa buruh petik melirik padanya dan mulai berbisik sambil tersenyum. Dan Bara tahu kalau ia jadi pusat perhatian.
‘Ehmm.’, Ia mendehem untuk dirinya sendiri.

* * *

Hari telah senja. Tak terasa berlalu dengan singkatnya bagi Bara. Gerimis telah berhenti beberapa jam yang lalu. Ia kini berada di lereng bukit. Tak berapa jauh dari kebun teh tempatnya bernaung tadi. Bara merapikan perlengkapannya dan bersiap untuk kembali.
‘Nak Bara, darimana saja? Baru pulang.’
‘Ah baru selesai jalan Mak. Jalan sampai ke kebun teh dan lereng sana.’
‘Untung kamu gak tersesat. Ayo mandi dulu, habis itu kita makan malam sama-sama. Ya.’
Bara menggangguk. Benar. Ia belum ada mengisi perutnya sedari siang tadi. Undangan makan malam itu disambut dengan baik.
‘Iya, mak.’

* * *

Hari ini adalah hari yang baru. Bara memiliki rute yang lain lagi untuk dijelajahi. Kawasan hutan pinus yang juga dijadikan sebagai daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Daerah setempat. Dan benar. Hutan itu memang memberikan aura tersendiri baginya. Ia dapat menyelesaikan sepuluh halaman untuk bukunya kelak. Dan itulah saat dimana Ia harus kembali kerumah sebelum kemalaman seperti kemarin.
Bara sampai di rumah ketika hari sudah mulai gelap. Ketika ia akan masuk dari sampaing rumah, ia melihat seorang anak kecil berusia mungkin 7 atau 8 tahun berdiri di samping sumur pompa. Memakai kaos kucel bergambar spiderman, celana pendek dan tanpa sandal. Ia basah. Setidaknya, baju dan celananya menegaskan hal tersebut. Dan Ia melihat pada Bara.
Apa yang dilakukan anak itu senja begini?
‘Halo.’ Bara menyapa sekenanya. Anak itu hanya diam dan memandangnya dengan ekspresi heran. Tapi kemudian ia tersenyum pada Bara memperlihatkan beberapa giginya yang rusak dan ompong.
Hah! Barapun tersenyum. Anak yang aneh. Ia pun lalu mengatur kameranya dan membidikkannya pada anak tersebut. Kemudian,
‘Hei, sudah pulang sana! Sudah maghrib. Ntar di cari ibumu.’
Anak itu lalu cemberut tapi menuruti kata-katanya. Ia berlari dan menghilang di antara pepohonan dan rumah tetangga.

* * *

Hari ini Bara tidak kemana-mana. Ia harus menyelesaikan paling tidak sepuluh atau lima dua puluh halaman untuk apa saja. Bukunya, cerpen, artikel surat kabarnya. Apa saja. Ia tidak terlihat banyak keluar kamar. Sedari pagi setelah mandi ia hanya menghabiskan hari di kamar, dan turun untuk makan siang. Itupun setelah Bi Imah memenggilnya untuk turun. Dan kemudian, ia merasa semua tenaganya terkuras. Pikiran yang dipaksakan akan mempengaruhi seluruh kinerja organ tubuh, dan itu lebih melelahkan dari kegiatan fisik. Ia tertidur dengan laptop yang menyala.

* * *

Bara tersentak. Ia terbangun tiba-tiba.
Gila, jam berapa ini? Mengapa aku bisa sampai tertidur?
Lampu di kamarnya mati, semua gelap.
Ini belum tengah malam kan? Ia raba sisi tempat tidunya mencari ponsel yang diletakkan di sana. Layarnya dinyalakan,
19.12. Masih awal sekali dari malam.
Bara bangkit meraih sebuah senter kecil dari ranselnya. Mempermainkan saklar lampu untuk mengecek fungsinya. Sialan memang mati. Dirinya bisa membayangkan betapa gelapnya di luar kini.
Ia keluar dari kamar. Dari beranda bisa dilihatnya para tetangganya telah menyalakan lampu minyak dan obor di rumah dan halaman mereka. Ketika ia hendak berjalan menuju tangga, entah kenapa bulu di kuduknya meremang naik seperti merasakan sesuatu, seperti ada sesuatu di belakangnya, yang sedang duduk dan juga memperhatikannya
Ia berbalik cepat.
Kosong!
Sinar senter mengarah hingga ke pojokan beranda Tapi tak ada siapapun di sana. Cuma dirinya. Bergegas ia turun ke bawah.
Gelap sekali. Kemana orang-orang semuanya? Tangannya meraba dinding, sementara tangan yang lain masih memegang senternya yang tetap menyala.
Pada pojokan dinding dapur ia menemukan lampu teplok tergantung dan berinisiatif menyalakannya. Cahayanya meremang, tapi setidaknya dapat memberi sedikit bantuan untuk melihat ruangan. lalu Ia taruh senternya di meja makan.
‘Mak! Pak Tun, dimana? Bi Imah! Haloo.’ Tetap tak ada jawaban.
‘Gila, masak rumah ditinggal gitu aja lagi ada aku sendiri. Mati lampu lagi.’
‘Maaak Yah! Bik Imah! Bara terus memanggil. Tapi tetap tak ada jawaban.
Ia lalu membuka pintu belakang untuk keluar rumah. Tapi tak bisa. Pintu terkunci.
‘Apa-apaan ini?!’ aku ditinggal sendiri, terkunci lagi. Mati lampu.’
Bara berjalan ke depan untuk membuka pintu depan. Tapi sama saja. Pintu dikunci juga.
Ia mulai panik.
‘Woooi, Mak! Pak Tun! Bi Imah!
Tap! Tap! Tap! Tap!
Bara berpaling. Ada sesuatu di atas, sesuatu yang berlari di beranda. Bara berlari ke tangga. Dari bawah ia mengarahkan pandangannya ke atas.
Siapa di…
Perlahan, sesosok bayangan menyembul dari atas. Terlihat seperti seonggok kepala yang melongok kepadanya.
Hitam.
‘Hah!’
Bara kaget setengah mati! Cepat ia merogoh sakunya mencari senter. Tapi tak ada.
Sialan di mana senter tadi?
Lalu ia teringat pada meja makan. Cepat ia menuju meja menyambar senter kecilnya. Dan Duk! Kakinya terantuk kursi tapi tidak dihiraukan.
Cahaya diarahkan ke atas.
Kosong!
Dengan tertatih karena sakit ia menaiki tangga dan menyinari apapun yang bisa.
Kosong!
Jantungnya berdegup kencang. Satu dua keringatnya mulai membasahi.
Apa itu tadi?! Bayangan aneh tadi masih memenuhi kepalanya.
Begitu ia ingin memasuki kamar, sesuatu menghentikannya. Ada suara seseorang di pintu depan yang memanggilnya.
‘Nak Bara! Bara!’ Pak Oyong tetangga depan sudah berada di depan pintu.
‘Oh sudah bangun. Maaf ya kamu dikunci dari luar.’
Bara tak berkata-kata.
‘Tadi Pak Tun dan Mak Yah menitipkan kunci pada saya. Mereka pergi tahlilan di ujung desa. Bi Imah juga ikut makanya rumah jadi kosong. Katanya, mereka tadi berinisiatif mengajak nak Bara ikut tahlilan, tapi mereka lihat nak Bara tertidur pulas sekali, jadi mereka gak tega untuk membangunkan.’
Bara tetap tak berkata-kata. Mukanya pucat. Ia hanya mengangguk.
‘Kenapa nak? Bagaimana kalau menunggu mereka di rumah bapak saja?’
‘Iya,’ Bara menjawab pelan. Dan mengikuti Pak Oyong.
‘Beginilah di sini, kadang-kadang mati lampu, jadinya ya cuma pakai lampu minyak.’ Tapi Bara tidak memperhatikan lagi apa kata-kata Pak Oyong. Ia hanya mengikutinya dari belakang.
Dari beranda rumah Pak Oyong Bara masih memperhatikan beranda kamarnya di atas. Ia seakan-akan mencari pembenaran akan ada sesosok bayangan yang bergerak-gerak menandakan ada seseorang yang menyelinap ke rumah. Bila ia melihatnya, kali ini Ia berencana untuk segera kembali ke rumah, naik ke atas dan menyeretnya keluar.
Sialan! Enak aja masuk rumah orang lain!
Tapi ada sisi lain di hatinya yang meragukan keberadaan seseorang di atas sana.
Sisi lain yang kecil dalam hatinya yang mengatakan kalau itu bukan seperti sosok apa yang ingin Ia harapkan.

* * *

Ini adalah malam ke sembilan Bara berada di sini. Artikelnya untuk kedua surat kabarnya telah diselesaikan. Beberapa puisinya juga sudah selesai. Kini ia mau fokus pada bahan untuk bukunya selama beberapa hari ke depan. Dan malam ini ia juga tidak bisa terlelap. Mata yang mengantuk dan badan yang terlalu lelah malah membuatnya semakin sulit tidur. Ia beranjak untuk keluar dan ke kamar mandi. Kantung kemihnya terasa sangat sulit untuk menahan beban yang ada di dalam. Setelah dari kamar mandi ia mengambil sgelas untuk membasahi kerongkongannya, tapi kemudian telinganya seperti menangkap suara air dari arah luar.
Seperti ada yang mengambil air? Tengah malam begini?
Ia melihat ke tiap-tiap pintu kamar dan memastikan bahwa tak ada penghuni rumah yang keluar rumah untuk mengambil air dari luar.
Hal itu tidak penting bukan?
Kemudian Ia menuju pintu depan memastikan kalau memang bukan salah satu dari Pak Tun, Mak Yah ataupun Bi Imah yang keluar mengambil air.
Dan hal itu memang tidak penting bukan?
Tak ada pintu yang terbuka. Tak satupun dari penghuni rumah yang keluar dari kamarnya kecuali dirinya.
Bara lalu kembali menuju dapur dan mengambil kunci yang tersangkut di dinding dan memutuskan untuk mencoba melihat siapa di luar. Suara deburan air masih terdengar.
Tetangga yang manakah yang mengambil air dari halaman rumah? Bukankah air ledeng telah masuk ke tiap-tiap sudut desa. Apakah sebegitu pentingnya memompa air di tengah malam begini? Di luar rumah lagi. Suara air masih terus terdengar bahkan ketika ia memutar anak kunci. Dan,
Kreeek…pintu terbuka. Dan ia berlari ke belakang kandang.
Kosong.
Tak ada siapapun di luar sana.
Hanya ada ember yang terletak di samping pompa dan air yang masih menetes dari mulut pompa engkol itu. Bara keluar dan memperhatikan sekeliling. Benar-benar tak ada siapapun. Hanya dirinya dan gelapnya malam.
Tak mungkin ia bisa secepat itu menghilang tanpa ada sedikitpun suara. Bahkan tidak ada suara tumit dan telapak kaki yang melangkah atau kresekan daun semak tempatnya mungkin bersembunyi.
Tak ada. Semua hening. Benar hening. Ia melongok ke dalam ember. Ember itu sendiri memang seperti baru diisi dengan air. Ia berisi setengah dan tempat sumur pompanya sendiri masih becek karena air yang jatuh.
Tapi benar barusan ada yang mengambil air.
Bara masih tak habis pikir, lalu segera kembali ke dalam dan mengunci pintu. Kembali ke kamar dan mencoba untuk tidur.

* * *

Hari ini cuaca cerah. Hari yang sangat cerah malah. Dan Bara juga sudah melupakan kejadian semalam. Ia sedang membantu Pak Tun menyusun kayu-kayu di kandang dan membersihkannya. Pak Tun adalah orang yang ulet dan rajin. Bara bisa melihat itu. walaupun sudah cukup berumur tapi ia tetap tidak membiarkan dirinya terdiam tidak melakukan apa-apa. Pergi ke ladang, merapikan gudang, membersihkan kebun, ini, itu, apapun. Selalu saja ada yang dilakukannya. Tapi, Pak Tun memang bukan orang yang banyak ngomong.
‘Sepertinya teh manis dingin enak untuk kita sekarang ini, bukan begitu nak Bara?’
‘Heeh, engg. Iya pak, sepertinya begitu.’
Pak Tun tersenyum,
‘Tunggu bapak buatkan yah.’ Bara mengangguk, dan pak tun pergi ke dalam mempersiapkan teh mereka. Dan saat itulah bara melihat anak kecil itu kembali. Masih dengan pakaian yang sama, basah dan kucel, berdiri di antara sepasang pohon lengkeng sekitar dua puluhan meter ke depan. Tapi kali ini ia menatap serius ke arah Bara. Bara melambaikan tangannya, memanggil dan berharap anak itu dapat mendekat dan berkenalan dengan dirinya.
‘Sini.’ Anak itu diam saja. Tapi ada yang aneh. Sepertinya ada air yang merembes di sekitarnya, merembes jatuh dari pakaiannya yang basah. Banyak sekali. Bara merasa kasihan padanya.
Gila! Anak itu habis darimana? Ia bisa masuk angin dengan pakaian seperti itu?
‘Orang tuanya mana sih?’ Bara kemudian berdiri hendak menjemputnya,…
‘Bara, ini teh kamu.’ Pak Tun muncul dari dapur membawa teh manis dingin mereka. Dan Bara berpaling. Konsentrasinya pada anak itu buyar. Ia tak menjawab Pak Tun tapi kemudian kembali menoleh ke arah sepasang pohon kelengkeng tersebut. Tapi anak itu sudah pergi entah kemana. Bara berlari ke arah pohon kelengkeng itu. Ia melihat sekeliling.
Tak ada.
Hanya sedikit genangan air yang tersisa di bekas tempatnya berdiri tadi, yang sebagian telah terhisap oleh tanah.
‘Ada apa nak Bara? Nyari siapa?’ Pak Tun bertanya heran padanya dari jauh.
‘Ah, gak pak, gak ada apa-apa.’ Bara berkilah,
Ada apa ini?

* * *

Malam itu Bara kembali tidak dapat tidur, dan sayup ia kembali mendengar suara gemericik air di luar. Pelan, tapi ia pastikan kalau hal itu berasal dari sumur pompa belakang. Pasti ada yang main air lagi. Ia lalu keluar kamar dan mencoba melihat ke belakang dari beranda atas tapi,
Sialan, terhalang atap kandang!
Hal itu membuat matanya tak dapat menangkap, setidaknya, bayangan seseorang. Ia bergegas untuk turun menuju dapur, mengambil kunci yang tersangkut di dinding dan memutuskan untuk mencoba melihat siapa di luar. Suara deburan air masih terdengar. Ia mencoba membuka pintu belakang. Kreeek…pintu terbuka. Dan ia berlari ke belakang kandang.
Kosong.
Tak ada siapapun di luar sana.
Hanya ada ember yang terletak di samping pompa dan air yang masih menetes dari mulut pompa engkol itu. Bara keluar dan memperhatikan sekeliling. Benar-benar tak ada siapapun. Hanya dirinya dan malam. Tapi malam tak begitu gelap, masih ada cahaya remang lampu jalanan belakang rumah, masih ada cahaya bulan separuh.
‘Sialan!’ Umpatnya. Tapi tiba-tiba…
ia merasakan tangannya dipegang.
Salah! Ada yang memegang tangannya. Refleks dan terkejut membuatnya menoleh ke belakang dengan cepat.
Anak itu!
Anak itu kini berdiri di hadapan Bara. Memegang tangannya. Tapi ada yang aneh… badannya terlihat basah kuyup, kulit tangannya sangat lembek berair, seperti ada berton-ton cairan yang mengisi jaringan bawah kulitnya. Bara tidak memperhatikan benar wajah anak itu hingga ia melihat matanya, matanya… seperti menyiratkan sesal yang dalam dan sedih sekaligus. Bara dapat melihat belakang kepala anak itu, ada semacam luka menganga yang masih basah berdarah di antara rambutnya yang lengket.
Ia melihat kembali pada wajah anak itu, matanya kini seperti terbalik. Bagian hitamnya naik ke atas bingga hanya menampakkan putihnya saja. Mulutnya kini terbuka, menganga lebar seperti ada dua buah tangan yang siap mengoyaknya
Bara menghentakkan tangannya mencoba melepas pegangan anak tersebut, tapi tak bisa. Seperti ada rantai besi yang mengikat dan menarik tangannya.
Bara terus berusaha mencoba melepas dan meronta dari pegangan anak tersebut tapi… tak ada setitik suarapun yang keluar dari kerongkongannya. Tak sedikitpun hingga…
Bara merasa malam semakin gelap.
Tapi tidak,
malam tak begitu gelap,
masih ada cahaya remang lampu jalanan belakang rumah,
masih
ada
cahaya bulan,
separuh.

* * *

Sinar matahari telah tinggi di atas. Sebagian cahayanya masuk melalui jendela di atas dipan. Bara terbangun. Matanya masih berusaha menyesuaikan terangnya sinar. Ia mengucek matanya dan termenung.
Aku di kamar? Aku bermimpi?
Ia tidak memiliki penjelasan apapun mengenai bagaimana ia bisa berada di kamar. Apakah kejadian semalam hanya mimpi atau nyata.
Tapi itu begitu nyata untuk menjadi sebuah mimpi. Bergegas bara menuju ke bawah dan mendapati Mak Yah dan Bi Imah terbengong melihatnya. Tetapi mereka segera melanjutkan pekerjaan mereka.
‘Mas, tadi saya bikin nasi goreng buat sarapan, dicoba ya? Itu di meja, tapi sudah dingin, habis Mas Bara-nya bangun kesiangan.’ Lalu Ia melanjutkan pekerjaannya di dapur.
‘Eh, iya, makasih Bi,’ Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya.
Semalam adalah kejadian yang nyata, aku yakin itu. tapi orang-orang di rumah bersikap seperti… dan mengapa aku sdah ada di kamar. Sekilas apa yang dilihatnya semalam kembali terulang, tetapi tetap saja Ia tidak bisa menentukan apakah ia bermimpi atau tidak.
Pasti ada yang mengangkatku ke dalam kamar. Tapi siapa?
Hal itulah yang semakin menambah tanda tanyannya. Dan ia tetap tidak mau bercerita mengenai apa yang dialaminya selama ia tinggal di rumah ini.
Seminggu lebih Bara ada di rumah ini, ia ingin pamitan kembali ke tempatnya semula. Ia tidak mau lagi mengalami kejadian aneh di rumah ini. Cukup baginya.
Bara mengutarakan keinginannya untuk pamit pulang pada Mak yah, tak nampaknya Pak Tun, mungkin pergi ke ladang atau kemana Ia tidak tahu. Mak Yah mengiyakan, malah mengatakan mengapa ia begitu cepat pergi? Mungkin basa-basi. Tapi Bara cuma tersenyum. Sudah cukup baginya untuk menulis laporan atas penelitiannya di daerah ini. Ia beralasan.
Bukan itu sebenarnya alasanku Mak, bukan itu.
Ia memberi uang sewa berapa lama ia tinggal, sesuai kesepakatan sebelumnya, lalu naik ke atas dan membereskan segala sesuatunya. Laptopnya masuk ke dalam tas, buku-buku, dan pakaian. Ketika ia hendak merapikan pakaian yang ada dalam keranjang tersebut. Ia melihat hal yang sangat di kenalnya. Baju kaos anak-anak bergambar spiderman, berada di tumpukan bawah tepat setelah tumpukan bajunya. Ia tersekat. Ia angkat baju tersebut. Pas. Ini adalah ukuran baju anak aneh tersebut. Rekaman-rekaman semalam terputar kembali. Cepat ia bergegas kemas dan turun ke bawah. Ia pamit pada Mak Yah dan Bi Imah.
‘Sampaikan pamit saya pada bapak ya mak, nanti kalau saya ketemu dengannya di jalan saya akan pamit langsung padanya.’
‘Iya, nak.’
‘Mas bara, kapan-kapan mampir lagi kemari yah.’
‘Iya, bi.’ Lalu iapun pamit pergi.
Ia berjalan menusuri kembali jalan desa untuk menuju suatu pool angkutan umum yang akan membawanya keluar desa. Pool yang sangat sederhana yang sudah ditunggu warga untuk naik angkutan yang akan membawa mereka ke terminal besar atau kota selanjutnya. Bara duduk di atas sebuah batu besar sambil menyalakan rokoknya. Ia taruh ranselnya di samping. Hingga ia mendengar suaranya dipanggil.
‘Nak Bara, pulang hari ini?’ Pak Oyong tetangga depan sudah berada di sampingnya.
‘Eh bapak, iya, saya pamit pulang pak.’
‘Wah saya juga mau ke kota ini. berarti kita sama berangkatnya.’
‘Iya pak, berarti saya ada kawan nih ha ha.’
Sebentar kemudian mereka sudah terlibat percakapan basa-basi mengenai mengapa ia harus pamit, apakah kerasan tinggal di rumah Pak Tun dan sebagainya. Hingga kemudian Pak Oyong membuka cerita,
‘Kasihan Pak Tun, Ia menjadi pendiam semenjak ada kejadian pada keluarga mereka.’
‘Maksud bapak?’
‘Lima tahun yang lalu salah seorang anak mereka, Ina, tinggal bersama suaminya di rumah itu. Mereka memiliki seorang anak yang bernama Tomo yang berusia delapan tahun. Suatu hari Tomo mengalami kecelakaan naas. Ia masuk ke dalam sumur yang ada di samping belakang rumah pak tun. Kepalanya bocor terkena dinding sumur dan hal itu yang menyebabkan kematiannya. Tak ada yang menyadari hal itu setelah dua jam lamanya keluarga mencari kemana hilangnya Tomo. Seluruh keluarga sangat terpukul dengan kepergian anak itu, terutama Pak Tun yang menemukan jenzah Tomo di dalam sumur, ia memang dekat sekali dengan cucunya tersebut. Enam bulan kemudian Ina dan suaminya pindah ke kota karena mereka merasa terus dibayang-bayangi kepergian anak mereka. Mungkin mereka ingin sedikit melupakan duka mereka. Tinggallah Pak Tun dan mak Yah di sana. Tapi Mak Yah bisa lebih tegar menerima kematian cucunya. Hanya Pak Tun yang masih belum bisa melupakan kejadian itu, bahkan sampai saat ini. Pernah tersiar kabar kalau Pak Tun masih sering melihat cucunya tersebut di sekitar sumur tersebut. Sumur itu sendiri telah ditutup, diratakan dan dijadikan sumur pompa di belakang kandang.’
Pak Oyong terus menceritakan kisah masa lalu itu, sedangkan Bara…, Ia diam saja tak bisa berkata apa-apa lagi. Namun kini Ia merasa rindu pada rumah dan kedua keponakan kembarnya, Ren dan Jan.

* * *

For MA – A belated birthday present

November 2008

KUCING

Seorang perempuan datang ke rumah Harun. Harun sadar bahwa ini masih dini hari, sangat dini malah. Perempuan itu memakai baju sutra merah menyala yang dihiasi sulaman bunga-bunga dari benang emas. Di belakangnya ada 6 atau 7 orang pelayan wanita. Perempuan itu sendiri kelihatannya telah berusia setengah baya tapi garis-garis kecantikannya tak dipungkiri masih jelas terlihat di wajahnya. Rambutnya yang panjang diikat sanggu ke atas.
‘Aku titip ini padamu.’ Hanya itu yang dikatakannya. Lalu Ia menyerahkan sebuah benda yang tak terlalu besar yang sedari tadi ada di tangannya. Benda tersebut dibungkus dengan sutra merah pula. Wajahnya selalu dihiasi senyum, begitupun wajah para pelayannya di belakang.
Dipandanginya kotak itu, kain dibuka, ternyata sebuah sangkar yang berukir indah. Lebih terkejut Ia. Di dalamnya bukan seekor burung atau ayam tangkapan seperti lumrahnya tetapi kucing. Kucing tanggung yang berwarna hitam, legam tapi terlihat sangat bersih terawat, kucing yang tidak terlihat seperti kucing yang biasa dilihatnya selama ini. Kucing yang sehat, sangat sehat dengan ekor yang tak terlalu panjang. Kucing itu dipandangi Harun lekat, lama.
‘Untuk apa kucing ini, saya…,’ belum selesai Ia bicara, Harun tak melihat ada siapa-siapa lagi di hadapannya. Kosong. Hanya ada halaman rumah nya yang luas dan rimbun berkabut. Dan dimana-mana berserakan kelopak bermacam bunga.
Harun tersentak,
‘Ya Allah, Astagfirullah al ‘aziiimm, mimpi mimpi! Wajahnya bercucuran keringat dingin. Dilihatnya tangannya, dilihatnya kolong tempat tidurnya. Tak ada apa-apa. Kosong

Di sisi lain tempat tidur dilihatnya Alina. Perempuan yang dinikahinya dua setengah tahun yang lalu. Alina masih teridur dengan pulasnya. Terdengar alunan nafasnya yang berhembus teratur berirama. Ia nampak sangat cantik dan damai.

Harun bangkit dan berjalan ke luar kamar. Pergi ke dapur mengambil gelas dan sebotol air dingin. Dari jendela kaca dapur Ia memandang ke luar rumah. Di halaman itulah mimpi itu terjadi.
* * *

Ranto yang mendengar cerita mimpi itu manggut-manggut.
‘Oh apa ya artinya. Pasti ada apa-apa. Nanti kulihat di primbon mimpi. Pasti ada artinya, apalagi kucingnya warnanya item, kucing item kan biasanya bawa sial.’
‘To, yang pasti itu cuma milik Tuhan. Manusia gak berhak tahu apa yang jadi milik-Nya.’ teman yang lain, Irwan, ikut-ikutan andil sambil bejalan ke meja perdebatan.
‘Oh enggak…, mimpi yang begitu itu ada artinya. Nanti kulihat run, nanti kulihat.’
Harun bengong. Ada perasaan menyesal mengapa Ia harus menceritakan mimpi anehnya semalam. Kenapa Ia tidak bersikap tak peduli saja, seperti mimpi lainnya.dan ia juga tipe orang yang percaya begitu saja dengan tahayul
* * *

‘Lin tanganmu?’ Harun langsung bertanya pada Alina begitu pulang dari kantornya.
‘Oh tadi ada anak kucing, di pukul sama kucing besar, dia lari ke halaman depan, tapi dipukul lagi sama kucingnya Pak Amin. Jadi kuusir kucing itu, untung pak Amin gak melihat jadi dia gak marah. . terus kuambil. Dia manis kan? Kucing jalanan tapi bersih.. bulunya hitam kilat lagi. Mungkin sebelumnya dia kucing piaraan ya bang?’
‘ Gak tau. Lalu Harun diam. Dia teringat dengan mimpinya. Mimpi tentang kucing hitam, semua terasa menjadi nyata. Harun berpikir, mungkin tinggal bad luck saja yang belum datang. Pikirannya kalut, ia belum habis piker, sebagian otaknya menerima hal-hal mistis dan tahayul, sementara sebagian lagi menentang habis-habisan.
‘Apa itu, mimpi dipercaya. Itu Cuma kebetulan run.’
‘Bukan, bukan kebetulan. Ini memang gara-gara mimpi, hati-hati!’
‘Enggak, enggak apa-ap. Mimpi ya mimpi, cuma bunga tidur, gak lebih. Semua sudah diatur sama Yang di Atas. Kalaupun itu pertanda dari-Nya, bukan begitu mimpi yang ditunjukkan.’
Terus…, terus…, kata-kata yang pro dan kontra akan tahayul terus terngiang di kepalanya. Mereka adalah ada dua versi lain dari dirinya yang terbang bergantian ke depan dan ke belakang. Membisik dan membentaknya untuk memilih satu pilihan.
‘Allahuakbar, Allahuakbaaar!’ Azan Maghrib menggema di kejauhan. Harun tersentak dari lamunannya
‘Huuuuuh, ya Allah!’ segera ia bangkit dan mengambil wudhu.
* * *

‘Iya kan, apa ku bilang, itu bukan mimpi biasa. Pasti ada makna di balik itu semua. Sekarang kamu buang kucing itu jauh-jauh. Jangan kamu bunuh. Kamu buang aja, kalau tidak, takutnya kamu bakal kena sial nanti.’ Ranto terus memperingati harun karena firasatnya yang diyakininya benar.
‘Gak usah dengar si gemblung ini, mimipi kok dipercaya. Kalo mau mimpi ya mimpi aja, puas-puasin sana, tapi begitu bangun ya udah, abis.’ A Lie, rekannya yang lain juga berkomentar. Dia menjadi pihak yang kontra. ‘Aku bilang ya, kucing itu makhluk Tuhan juga, ya udah anggap aja rejeki yang datang ke rumahmu, piara aja udah, kok repot. Kalau istri kamu Alina suka kan berarti itu hal yang bagus, berarti ada yang bikin dia senag, bikin dia terhibur, ada kawan kecil yang menemaninya selama kamu tidak ada di rumah. Kucing kecil bisa apa coba?’
Harun tersenyum, Ia sedikit terpengaruh sekaligus lega mendengar kata-kata A Lie.
‘Ya udahlah, kulihat dulu, sementara biar aja ad di rumah.’

Di rumah, ia melihat Alina dan kucing kecil, si keeling nama yang diberikan Alina, itu berdua. Mereka sterihat selalu berdua, kemana Alina pergi, si keling ikut. Ke dapur, menonton tv, ruang tamu, dapur, bahkan waktu tidur. Hup, tapi hal ini tidak bisa dibiarkan. Si keeling harus ada di luar kamar kalau mereka tidur, syukurnya Alina juga menyetujui hal ini.
* * *

Si keling berjalan dan kemudian diangkat oleh tangan seseorang. Ranto!. Ranto lalu memeluk kucing itu dan tertawa terbahak-bahak. Kucing itu mendadak menjadi aneh. Ia seketika melihat tajam kepada Harun, mulutnya seakan menyunggingkan senyum, senyum sinis.
‘Hah!’ keringat dingin mengucur dari dahi dan dadanya.
‘Mimpi mengerikan.’ dilihatnya Alina, masih tidur, pulas. Tapi si keling, kucing kecil itu, ada di sana dan melihatnya lekat-lekat. Darimana ia bisa masuk? Mungkin ia masih terkejut saat Harun bangun. Atau mungkin ia sudah melihat Harun sejak ia terlelap tadi. Lama ia memperhatikan kucing itu. Sekilas ia merasa kucing itu sedang dala posisi siaga siap untuk menggigit dan menggoyak-ngoyak wajahnya dengan mulut dan kukunya, ia segera bangkit dan pindah ke sofa di ruang tamu. Harun enggan memikirkannya lebih lanjut.
‘Kok kamu tidur di kamar sebelah semalam?’ Tanya Alina saat sarapan.
‘Panas.’ Harun malas menjawab dan segera mencium kening Alina, lalu berangkat, tapi tunggu…
‘Si keeling kok bisa ada di kamar semalam?’
‘Oo, iya maaf bang, semalam nampaknya dia kedinginan, jadi kubawa masuk. Cuma untuk semalam saja kok. Gak papa kan bang?’
‘Hemm, aku berangkat dulu yah.’
* * *

Harun kecewa, ia merasa hari-hari Alina selalu lebih disibukkan untuk si keling daripada untuk dirinya. Malam itu ia tidak tahan lagi, jatahnya bermesraan dengan Alina kembali di serobot kucing itu. Si keling meminta masuk kamar ingin tidur di kaki Alina, tapi langsung di tolak Harun.
Kucing itu ternyata masuk lagi ke dalam mimpinya, hingga harun merasa di siksa habis-habisan. Dan seperti mimpi sebelumnya, si keling ada di pelican Ranto, tapi bukan dia saja, ternyata di mimpi yang sama juga ada A Lie, Irwan, bahkan pak Darman bosnya. Mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat kepada dirinya, seakan mengejeknya. Bahkan di bibir kucing aneh itu juga tersungging semacam senyum mengejek. Ada apa ini semua?
* * *

Harun ingin rasanya membuang si kucing kecil itu, ke pasr yang terdekat atau bahkan ke selokan asl jauh dari dirinya. Tapi Alina selalu berada dekat dengan dirinya, dan si keling pun semakin manja dengan Alina.
Lagi, kucing itu ad dalam mimpinya. Padahal itu tidur siang! Bahkan di mimpi itu juga ada kucingnya pak Amrin, bukannya berantam malah bermain-main dengan si keling. Segera ia terbangun dan pergi, sepertinya rasa muak pada dirinya akan mimpi yang sama telah membuatnya mudah untuk bangun dari tidur dan mimpinya. Tapi Harun benar-benar muak dengan itu semua. Bahkan untuk melamun sajapun ia taku. Ia takut untuk jatuh tertidur da memimpikan hal yang sama.
* * *

Pagi yang cerah, harun keluar dari pintu lift kantornya. Ia meletakkan tas di mejanya dan duduk di sana. Betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di depannya. Di sana telah berdiri ranto dengan si keling di tangannya. Bukan hanya itu di sampingnya juga ada A Lie, Irwan, pak Darman hingga sekretarisnya, bahkan tukang sapu kantor, pengantar minum, petugas katering, dan… dan Alina juga ada di sana. Mereka semua ada di depannya, mereka dan seluruh ruangan semua tertawa, mengejek dan menunjuk pada dirinya.
Harun bingung, kalut, takut. Ia menyeruak kerumunan, berlari kemana saja ia bisa walau tak ada seorangpun yang menahannya. Mereka terus tertawa. Kini ia melihat si keling ada di pangkuan setiap orang. Harun terus berlari. Apak ini sebuah mimpi? Karena kalau ini sebuah mimpi, ia pasti akan menari jalan keluar atau sebuah pintu yang bertuliskan ‘Dunia Nyata’.
* * *

Ky
Akhir Mei 2000

Senandung Mendung

Rizky Q.




‘Kau ambiakkan sandal apak lakeh!’ Amdar menyuruh anaknya dengan sedikit menghardik. Raida melongok ke arah apaknya. Satu dua butir nasi masih menempel di bibir dan dagunya. Ia hentikan makannya dan mulai berjingkat menuruni anak tangga mencari sandal apaknya yang terjatuh di kolong rumah.
‘Lakehlah kalo di suruh urang tu! Mak oii… lambek bana kau.’ Dengan hardik tak sabar Amdar memerintah Raida, anak perempuannya satu-satunya. Piring makannya ia sandarkan ke dinding. Tangannya yang belum bersih benar dicuci dengan sisa air minumnya dari minyak dan kuah lauk, telah ia sampirkan ke mulutnya untuk mengelap sisa makan malam barusan.
Dari dapur, Salamah melirik dengan ekor matanya, tak berani ia melihat pada suaminya. Bibirnya terkunci.
Di bawah kolong, Raida berusaha mencari sandal apaknya diantara sinar lampu minyak yang mengintip dari celah lantai kayu rumah. Setelah sandal lusuh itu didapat, segera Raida naik lagi ke tangga dan mengangsurkan sandal apaknya tepat di hadapan kakinya.
‘Lambek bana kau! Tak baguna. Ketek tak baguna ba’a pulo beko…’ tangannya mendarat ke kepala Raida sambil sedikit keras mendorongnya ke belakang. Raida diam saja, ini adalah hal biasa yang didapatnya dari apaknya. Begitupun, masih saja ia bersandar di pintu melihat ke luar.
Masih terdengar olehnya ocehan Amdar sambil berjalan menuju laut. Malam ini bulan penuh, siluet apaknya jelas terlihat menjauh di antara batang-batang nyiur yang tinggi lalu berhenti di bawah pohon ketapang bergabung dengan siluet-siluet lelaki dewasa lainnya. Lalu terdengar mereka tertawa sebentar dan kemudian bersama berjalan lagi menuju kapal nelayan.
‘Raida, masuklah dikau nak, kancang bana angin di lua, angin malam. Tak baek untukmu.’ Salamah mendekati anak perempuannya itu. Ia menggandeng tangan Raida, menjauhkannya dari pintu dan angin malam di daerah pantai Pasir Jambak.
‘Apakmu mancari ikan, abangmu Si Din-pun lah kalua dari tadi. Bia ajo mereka. Si Ali pun kayaknya lah pai.’ Dari beranda kecil rumah itu, Salamah melihat ke samping, ke arah rumah anak tertuanya Ali, yang telah berbini, berjarak empat rumah di sebelah kiri dari rumah mereka. Raida juga melihat ke arah rumah abangnya.
‘Ayuk, masuk’ Salamah menyuruh Raida masuk ke dalam rumah.
Bukan apak yang hendak aku lihat mak, bukan dia.

Raida terus menatap ke luar. Kapan aku bisa seperti mereka. Berlabuh jauh ke tengah laut, berenang dan masuk menembus ke dalam awan-awan tebal.
Angin tetap berhembus kencang,
‘Raida, alahlah. Tutup pintunya.’ Salamah memanggil,
Mungkin kalau angin sangat kencang, ia bisa mendorongku ke tengah laut dengan cepat. Sendiri berenang bersama ikan.

‘Raida, masuklah dikau ke dalam, angin kencang di luar!’ suara emaknya membuyarkan lamunannya. Ia masuk ke dalam dan menutup pintu.
‘Habiskan makanmu, beko cuci tangan lalu mangaji basamo emak.’ Raida hanya mengangguk. Ia menyelesaikan makannya dan mencuci tangan dan piringnya yang kotor, lalu ia bergabung dengan emaknya yang telah siap dengan Al-qur’an di tangannya.
Raida mengenakan sarung dan selendang sekenanya. Ia lalu duduk berdampingan dengan Salamah membaca kitab suci itu.
Salamah membuka halaman kajiannya, lalu membacanya dan membacanya sekali lagi agar Raida dapat mengikuti. Bibir kecil itu lalu mengucap gagu…
‘ku uowwu aaa….’ Tak jelas apa yang diucapnya tapi Salamah tetap pada bacaannya. Membaca ayat untuk dirinya sendiri lalu membaca sekali lagi untuk diajarkan pada Raida. Inilah alasan mengapa ia tidak membawa lagi anaknya ke langgar untuk belajar mengaji bersama dengan anak-anak yang lain. Mereka akan menertawakan Raida yang gagu karena tak berlafal sempurna. Dan Umi mengajinya yang mengajar tak sabar pada dirinya. Raida juga malu.
Salamah memutuskan untuk mengajarkan sendiri anaknya mengaji. Tak ada rasa bosan dan lelah di wajahnya, walaupun pada saat yang sama ia teriris pada kondisi anaknya. Untungnya, Raida masih mau bersekolah. Memang kondisinya itu membuatnya menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya, bahkan gurunya, tapi ia tetap mau bersekolah, hingga kelas tiga ia kini. Walau ia hanya menulis dan menulis yang diajarkan tanpa pernah sekalipun ditanya oleh gurunya atau hanya menuliskan jawaban di papan tulis.
Di luar, angin bertiup kencang menggisik dedaunan nyiur, terkadang menggoyang buahnya yang tua dan menjatuhkannya hingga mendebum di pasir.
Salamah masih dengan bacaannya, membaca ayat untuk dirinya sendiri lalu membaca sekali lagi untuk diajarkan pada Raida. Raida mengikuti,
‘habbi ii maoob…’
* * *

Kasih melihat almanak yang tergantung di dinding dapurnya. Seminggu lagi bulan Desember.
Apa aku masih harus menunggu di sini? Aku tak tahan lagi.

Ia bimbang apakah harus menyusul Dirman ke Jakarta atau harus menunggu lagi. Sudah setahun setengah ia tidak bertemu dengan suaminya itu. Kabar terakhir dari Dirman adalah sebulan yang lalu pada saat ia menelepon Kasih menumpang lewat telepon tetangga. Kasih berulang kali mengutarakan keinginannya untuk menyusul Dirman dan bersama mencari peruntungan hidup di sana. Tapi Dirman selalu menolaknya. Yang ia tahu kalau Dirman berjualan di daerah Tanah Abang. Beberapa saudara dan tetangganya yang merantau juga mengatakan kalau Dirman sering terlihat di daerah itu. Hanya Uncu Bidin yang sering menelepon memberi kabar padanya bila Dirman menginap di rumah uncunya itu satu atau dua malam. Biasanya Kasih tak heran, karena Dirman juga memberitahu Kasih kalau ia menginap di tempat Uncu Bidin. Setelah itu tak ketahuan lagi ia ada di mana, bahkan Uncu Bidin sendiri tak tahu Dirman biasa dimana. Kasih tahu dan yakin kalau suaminya itu adalah seorang pekerja keras. Sudah tujuh tahun usia perkawinan mereka. Lima tahun lalu mereka pindah dari Medan ke Padang. Menginap di rumah Andungnya Kasih yang kosong.
‘Daripada kosong, biarlah kalian yang menjaganya.’ Itu kata-kata Andung Jasman saat itu. Hingga setahun kemudian Dirman pamit padanya untuk merantau sendirian ke Jakarta. Ia berjanji akan membawa Kasih pergi bersamanya ke Jakarta kalau ia sudah memiliki kehidupan yang sedikit mapan di sana. Sebulan atau dua bulan setelah kepergian Dirman, Kasih menghidupi dirinya dengan uang dari keuntungan membuka kedai kecil di rumahnya, lalu Ia menerima uang kiriman Dirman sekali dalam sebulan atau dua bulan, walaupun cukup besar baginya tapi bukan uang yang ia masalahkan sebenarnya. Kerinduannya yang tak tertahankanlah yang dirisaukan. Belum lagi gunjingan tetangga padanya dan keraguan pada kesetiaan Dirman selama di sana. Bahwa Dirman telah memiliki istri lain, bahwa Dirman tak bertanggung jawab, bahwa Dirman adalah orang jahat. Kasih sudah tebal kuping tapi ia juga tak bisa terus seperti ini. Ia merasa seperti seorang janda, perempuan yang tersia-sia, ada suami tapi seperti tak punya. Hanya sayang dan cintanya yang membuatnya terus bertahan dan mengiyakan keberatan Dirman akan keinginannya untuk turut pindah ke Jakarta.
‘Belum waktunya dik, sebentar lagi, sabar.’ Hanya itu yang selalu didengarnya setiap kali Dirman meneleponnya.
Seminggu lagi bulan Desember. Setelah itu tahun baru kembali, 1979. Apa aku masih harus menunggu di sini? Aku tak tahan lagi. Aku akan naik kapal dari teluk bayur, menyusul suamiku Dirman ke Jakarta.

Matanya menatap ke depan, menyusur ilusi masa depan akan dirinya yang bertemu Dirman.
* * *

‘Alah pulang si Raida?’ Amdar bertanya pada Salamah, setelah ia baru terbangun dari tidurnya. Badannya terasa linu. Ia dan nelayan lain baru pulang pukul 6.30 pagi tadi lalu menjual ikan mereka di pelelangan.
‘Alun bang. Sabanta lai.’
Tak lama, dari jauh Amdar melihat anaknya itu di depan pintu, ia baru pulang sekolah, tak ada sepatu di kakinya, hanya sandal jepit butut yang menemani langkahnya pulang sekolah.
‘Cepat masuk. Kau ganti bajumu dulu trus kau pijitkan badan apak.’
‘Biarlah dia makan dulu da…’
‘Ah, bekolah tu. Ini kan hanya sebentar saja.’
Salamah diam, ia tidak pandai kalau harus menjawab kata-kata suaminya.
Dari dulu ia memang begitu, keras wataknya. Itulah kata-kata yang terus di dengungkan dalam benaknya akan Amdar.
Raida tak membantah, ia patuh pada apaknya, ia ganti baju sekolahnya tapi tidak dengan rok merahnya. Dengan sigap ia ambil minyak gosok dan mulai memijit apaknya yang telah telungkup di depan pintu. Ia dan setiap penghuni rumah ini tahu, bila membantah omongan apaknya, maka rasakanlah akibatnya.
‘Indak taraso, kueklah saketek manguruik tu! Aku capek dari semalam mencari ikan buat kau makan. Tak ada jasa kau untuk apakmu hah!’ ia berbalik badan dan mendorong kepala Raida. Raida hanya diam. Di luar, Din, abang Raida hanya mendengar ocehan apaknya, tanpa sekalipun melirik ke dalam rumah. Tangannya terus mengurai dan menjahit jala yang rusak.
‘Alah udahlah, pergilah kau sana!’ cukup baginya Raida memijit dirinya, kembali ia mendorong tubuh Raida.
Salamah tanggap, segera ia menghidangkan makan untuk suaminya. Dan membawa Raida ke belakang. Memberinya sepiring nasi dan menyuruhnya duduk diam di pojok sudut tangga belakang rumah panggung itu.
‘Wawwa… Aoo wa’aa icii…’ Raida bersuara saat menerima piring dari emaknya.
‘Hah! Makan pun kau ribut. A yang kau kecekan tu? Tak tahu orang apa yang kau bilang! Aaa ooo aaa. Macam mana nasib kau nanti kalau kau bisu gitu. Indak balakik kau beko, indak ada yang mau.’
‘Udahlah da.’ Salamah mencoba melerai.
‘Kau juga. Pasti ada salahmu yang kau buat sewaktu bunting. Sampai anakmu jadi bisu begitu!’
Di belakang, Raida tak sepenuhnya perhatian pada nasinya. Matanya terus menatap pada laut yang luas. Tak dengar ia pada kata-kata apaknya. Dalam pikirannya adalah bila angin dapat membawanya jauh berlayar sendirian ke tengah laut. Bahkan ia akan senang jika angin hanya mengangkatnya lalu mencampakkannya dengan keras, asalkan ia dapat berada di tengah laut. Berenang dengan banyak ikan dan menembus awan-awan. Pergi ke negeri seberang yang riang.

Apaknya pergi entah kemana. Sepengetahuannya, apak pergi ke kota bersama mamak Zal. Emak mengijinkannya untuk bermain. Raida senang sekali. Ligat ia berlari ke pantai. Jika ada apak Raida tak dapat bermain dengan tenang, selalu ada yang disuruhnya, apakah itu membantu emak atau membantunya menjahit jala atau yang lainnya. Tapi kini ia dapat bermain dengan tenang. Di pantai sudah ada Nety dan Ramlan tetangganya. Mereka bermain, mencari kerang, mencari siput, melempar kelapa yang jatuh ke laut dan berenang. Dan Raida memang perenang kecil yang hebat. Kulit mereka yang hitam semakin terpanggang karena sinar matahari yang tak bersahabat.
Suatu ketika Raida terdiam, ia pandangi laut lepas di hadapannya. Luas, biru dengan awan-awan yang terlihat menyentuh laut. Apa dibalik mereka?
Ia berenang menjauhi Ramlan dan Nety. Aku akan ke sana… ia kayuh kaki dan tangannya semakin jauh.
‘Raida! Raida hendak kemana dikau? Raida!’ Nety memanggil Raida, tak tak dihirau. Ramlan mencoba berenang mengejar, tapi arus terlalu kuat untuk tubuh kecilnya. Ia pun menyerah. Nety terus memanggil, kecemasan ada pada wajahnya dan juga Ramlan.
‘Raida! Raida, kembali!’
Raida terhenti, ia sedikit lelah, dirinya sudah jauh dari pantai dan kedua temannya. Tak ada apapun yang didengarnya, tapi ia tahu kalau teman-temannya memanggilnya. Beberapa kali terminum olehnya air laut. Asin yang menyegarkan. Dipandanginya lagi tengah lautan, lalu pada teman-temannya yang memanggil, lalu kembali tengah lautan, terus bergantian. Dirinya tak begitu lelah, ia merasa masih sanggup untuk terus berenang ke tengah menyambut awan yang mulai mendung dan negeri seberang. Tapi temannya tetap memanggil. Raida merasa bimbang.
Aku tak mau berhenti, aku bisa menggapai kalian. Menyeruak awan hingga nanti sampai ke negeri seberang.

Tapi tidak. Ia berbalik, kembali pada teman-temannya. Ombak terasa bersahabat dengannya. Seperti tak sedikitpun menghalanginya laju renangnya. Raida tahu, Ia dan laut adalah satu. Selamanya.
Kini semakin terlihat olehnya Nety yang menampakkan mimik muka meringis, menangis karena takut Raida terbawa ombak tak kembali lagi. Ketika mendekat, Ramlan lalu menarik tangannya dan membawanya menjauh dari laut.
‘Takuik bana ambo tadi kau tenggelam Raida. Jan kau buek macam tu lagi yo.’ Nety memohon padanya.
‘Iyo, mati kau beko ditelan ombak. Apalagi hari mulai gelap karena mendung.’ Ramlan juga takut, tapi Raida diam saja. Berbalik ia memandangi laut. Benar, awan mulai gelap tapi tak apa baginya.
Mungkin ini bukan saatnya, belum, tapi nanti aku pasti kembali.

Mereka lalu pulang bersama. Pasir menempel di kaki, muka dan rambut mereka. Di depan rumah Raida ternyata apak sudah menunggu. Menunggu di bawah nyiur dengan muka tak ramah. Melihat pada dirinya yang basah dan rok sekolahnya! Raida tahu ia bakal dihajar kini.
Plak!
Pipinya ditampar keras oleh Amdar.
‘Anak anjing kau! Habis kau buat kotor bajumu! Indak sekolah kau esuak hah!
Pungggungnya dipukul dengan sandal. Nety dan Ramlan yang sudah takut kehilangan Raida menjadi semakin takut melihat amarah Amdar dan berlari pulang ke rumah mereka. Beberapa orang melihat dengan miris dan menggumam. Salamah turun dan lalu menarik Raida ke dalam rumah dengan keras. Ia hanya bermaksud agar Amdar tak memukuli anak itu lebih lama dan menjadi tontonan orang, tapi Amdar tak berhenti. Ia terus memaki
‘Anak anjing, macam tak dididik kau! Aku pergi kaupun pergi bermain! Tak diajar kau rupanya hah! Kau juga Salamah. Tak bisa lagi kau menjaga anakmu ini diam di rumah?’
Ocehan dan libasan sandal di punggung, tangan, dan kaki terus diterima. Tapi Raida tak bergeming. Ia tahankan sakit di badannya. Terlihat matanya murung dan sedih tapi tak setitik ar keluar dari mata kecilnya. Justru ada pada emaknya yang memohon agar apak berhenti memukuli anaknya. Di luar mulai banyak awan mendung menutupi langit.
* * *

Kasih memegang tiket ditangannya. Kapal yang akan ditumpanginya ke Jakarta akan berangkat empat hari lagi, menyusul Dirman, menyusul kekasih hatinya. Matanya menyusuri lautan dan deretan beberapa kapal yang sandar di pelabuhan Teluk Bayur.
Sebentar lagi aku akan menyusulmu bang.

Kasih pulang dengan perasaan senang tertahan. Ia tersenyum sendiri.

* * *

Besok adalah hari keberangkatan Kasih ke Jakarta. Ia sudah berbenah diri dan memberitahukan pada Andung Jasman mengenai rencananya. Tentang yang terakhir ini. Kasih sudah memberitahukan beberapa hari sebelumnya, dan Andung Jasman sebagai pemilik rumah tak keberatan akan kepergiannya, Ia hanya minta kasih menitipkan kuncinya pada Uni Emmy tetangga sebelah.
Ia pandangi koper dan tas yang akan dibawanya. Ia juga membawa beberapa baju Dirman yang tertinggal agar dapat dipakai kembali oleh suaminya setelah ia sampai dan bertemu nanti di Jakarta. Dari balik jendela kamarnya ia memandang ke luar. Cuaca kembali mendung seperti hari-hari kemarin. Awan gelap dan hitam mulai terlihat. Padahal pagi tadi hari terlihat sangat cerah dan terik.
Semoga tak terjadi badai yang menggangu jalannya kapalku esok hari. Harap perempuan itu.
* * *

Raida baru pulang sekolah. Tas selempang dari kain yang dibuatkan emak tersangkut di bahunya. Ia melewati jalan setapak desa nelayan tapi matanya terus memandang ke arah laut. Hujan sepertinya akan turun. Di belakangnya, beberapa anak lelaki yang baru pulang sekolah berkejar-kejaran. Salah seorang diantaranya menyenggol Raida hingga membuatnya terjatuh.
Salah satu sandal kumalnya terjatuh ke dalam aliran muara di bawah jembatan.
‘Aaawaaaa waaa…’ Ia meminta anak-anak itu bertanggung jawab dan mengambilkan sandalnya, tapi mereka malah tertawa melihat Raida dan melanjutkan berkejar-kejaran. Raida melihat ke dalam muara, muara yang kotor dan penuh kotoran kerbau di dalamnya. Beberapa biawak mengintip dari balik pohon Rumbia. Raida merasa takut, belum lagi ular rawa yang mungin bersembunyi di sana. Tapi ia harus mengambil sandalnya, atau nanti apak akan sangat marah melihat dirinya pulang dengan pakaian yang tidak lengkap. Cuaca semakin mendung, rumahnya tidak jauh lagi dari sini. Ia harus segera mengambil sandalnya dan bergegas pulang.
Raida turun dari jembatan mendekati muara. Di letakkannya tasnya dan digapainya ebilah galah tak jauh dari tempatnya. Dicondongkannya badannya untuk membuat galah dapat menjangkau sandalnya. Tapi malang dirinya tercebur ke dalam muara dan membuat kotor badan dan pakaiannya.

‘Kasih…, Kasih.., dima kau? Ada telepon dari Jakarta, dari Uncu Bidin. Penting.’
Uni Emmy memanggil Kasih dari luar.
Uncu Bidin, biasanya Uncu menelepon waktu malam, mengapa ia menelepon siang begini? Apa bang Dirman ada di sana?
Segera kasih menghampiri Uni Emmy, wajah Uni Emmy kelihatan lain, ia tak bersuara, hanya menyeret kasih ke rumahnya untuk menerima telepon dan berdiri tak jauh darinya.
‘Ya Assalamualaikum Ncu? Halo…’
Di seberang sana Uncu Bidin bercerita menyampaikan berita duka cita. Dirman tewas dalam sebuah perang antar preman dan polisi di Tanah Abang. Uncu Bidin menerima kabar dari orang-orang yang mengenal hubungan Dirman dan dirinya. Semula ia tidak percaya akan berita itu hingga ia memastikan jasad Dirman di rumah sakit yang menampung tubuh bekunya. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dirman adalah salah satu preman yang ditembak polisi karena melawan. Bisa saja ia adalah korban antara preman dan polisi.
Kasih tak sanggup. Telepon itu jatuh dari genggamannya. Ia meraung terduduk di tempatnya. Unny Emmy juga menangis berusaha menenangkannya. Tapi itu tak membantu. Kasih gelap mata, ia melepas pegangan Uni Emmy dan berlari keluar, berlari, dan terus berlari kemana kakinya membawa.

Amdar lewat di dekat muara, malang bagi Raida karena apak melihatnya.
Tak butuh waktu lama untuk amarahnya timbul saat melihat Raida basah dan kotor, sumpah serapah dan tangannya lalu bermain di badan Raida,
‘Anak anjing! Setan kau!’
Ia tarik anaknya itu bersamanya. Raida terseret dan menangis tapi Amdar tak peduli. Mulutnya terus memaki anak perempuannya itu. Sesekali ia berhenti untuk memukul dan kembali lagi menarik Raida dengan keras.
‘Awwaa…, auuu awa.’
‘Diam! Bisu tak tahu malu kau!’
Raida terus terseret. Orang-orang keluar hendak tahu apa yang terjadi, dan miris melihat keadaan gadis kecil itu. Satu dua orang mencoba meredakan Amdar tapi malah kena marah olehnya karena telah ikut campur dalam urusannya dan anaknya. Beberapa ibu-ibu tak tahan melihat Raida meraung. Tapi tetap mereka tak berdaya. Hujan sudah mulai turun gerimis.

Kasih terus berlari. Tak dipedulikannya lagi kakinya yang telanjang menginjak batu dan duri. Tak peduli lagi hujan membasahi diri, tak peduli lagi sesak di ulu hati. Ia terus berlari, membagi duka pada pepohonan, pada hujan pada pasir pantai yang dilaluinya.

Raida masih menangis. Hatinya perih. Apakah dilihatnya awan semakin menghitam, hujan semakin membasahai dirinya. Rumahnya telah nampak kini di depan.
Apak, jangan sakiti aku lagi…
Ia gigit tangan apaknya, ia tinju perutnya. Rasa sakit membuat Amdar melepaskan cengkeramannya pada Raida.
Raida berlari sekencangnya. Berlari melewati deretan nyiur dan pohon ketapang. Amdar masih berteriak menyumpah dibelakangnya tapi ia tak mendengar apaknya lagi. Hujan semakin lebat. Amdar hendak mengejar tapi sakit membuatnya tertahan. Ia hanya memperhatikan Raida berlari dari jauh dan terus memaki.
Raida terus berlari. Melewati kawasan rumahnya (bahkan ia dapat melihta emaknya memangggilnya di pintu), melewati rumah abangnya Ali dan rumah Nety atau Ramlan. Ia sendiri heran mengapa ia bisa berlari sekencang ini. Mungkin angin yang mulai mendorongnya. Diantara airmatanya ia tersenyum lebar.

Kasih lelah, dirinya kini ada di ujung pantai pasir jambak. Diantara laut dan hujan.
Dirman suka laut, ia sangat suka laut. Mungkin aku akan menyusul Dirman saja dari sini. Melabuhkan jiwaku bersama laut.

Dari tempatnya dilihatnya sosok kecil jauh yang berlari kencang, semakin dekat, semakin dekat pada dirinya.

Raida dan Kasih. Keduanya kini berhadapan dalam beberapa jarak langkah. Keduanya memandang terdiam tetapi seperti saling mengetahui isi pikiran masing-masing. Raida melihat ke lautan. Laut yang mulai pekat sudah bergejolak mengombak seperti memanggil dirinya, siap mengantarnya ke negeri seberang.
Di sekitar hujan belum deras, tetapi hujan mengundang angin menderu mendekat, dan angin membawa awan kelabu pekat, dan awan menggandeng kilat dan guruh menyertai, dan mereka segera menjelma badai.
Laut sudah menyentuh kaki telanjang mereka.


Medan, November 29th 2008
For RRS – a birthday present.


Keterangan:
1. Kau ambiakkan sandal apak lakeh = Kau ambilkan sandal bapak, cepat
2. Lakehlah kalo di suruh urang tu! Mak oii… lambek bana kau = Cepatlah kau bergerak kalau disuruh orang. Ampun… lama sekali dikau
3. Lambek bana kau! Tak baguna. Ketek tak baguna ba’a pulo beko = lamban benar/sekali dikau. Tak berguna. Kecil tak berguna, bagaimana pula nanti
4. Kancang bana angin di lua = Kencang sekali angin di luar
5. Apakmu mancari ikan, abangmu Si Din-pun lah kalua dari tadi. Bia ajo mereka. Si Ali pun kayaknya lah pai = Bapakmu mencari ikan, abangmu si Din telah keluar dari tadi. Biarkan saja mereka. Si Ali pun kayaknya telah pergi juga.
6. Habiskan makanmu, beko cuci tangan lalu mangaji basamo emak = Habiskan makanmu, nanti cuci tangan lalu mengaji bersama emak
7. Alun bang. Sabanta lai = Belum bang, sebentar lagi
8. Indak taraso, kueklah saketek manguruik tu = Tidak terasa, kuatlah sedikit mengurutnya
9. Indak balakik kau beko, indak ada yang mau = Tidak bersuami kau nanti, tidak ada yang mau
10. Takuik bana ambo tadi kau tenggelam Raida. Jan kau buek macam tu lagi yo = Takut sekali aku tadi kau tenggelam Raida. Jangan kau buat hal seperti itu lagi ya

Kamis, 15 Juli 2010

KECOA

Oleh Rizky Q.

Atikah terseok pulang. Hari sudah pukul satu. Ia butuh tidur. Setelah menemani tiga orang lelaki tadi. Lumayan, malam ini tidak terlalu sepi. Seratus lima puluh ribu dibawanya pulang. Jumlah yang sudah besar untuknya. A Cin, toke bahan bangunan itu memberinya lebih seperti malam-malam sebelumnya kalau ia melayaninya. Seminggu bisa dua kali ia bertemu A Cin. Duda gemuk tanpa anak itu baik hati walau kadang suka main agak kasar padanya.

‘Kita kawin aja yok?’ Pinta A Cin suatu kali saat mereka selesai main.

Kan kita udah sering kawin?’

‘Nikah. Kamu tahu maksudku.’

Atikah diam saja. Ia tak penah mau diajak menikah. Ia belum siap. Jasman masih suaminya walau hubungan mereka menggantung tak jelas. Dua tahun sudah Jasman menghilang entah kemana. Katanya merantau. Tapi tak ada jejaknya. Sejak itu ia memutuskan mencari pendapatan lain selain berjualan membuka warung dan berjualan keripik singkong. Ia mulai menawarkan tubuhnya sebagai asset usaha pada setiap lelaki yang membutuhkan. Hal lain lagi, ia memiliki Pan, anak satu-satunya yang sedikit ‘lain’. Pikirannya agak terganggu. Terkadang ia bisa sangat normal, tapi terkadang Pan seperti tak mengenal Atikah sebagai ibunya. Ia tak ingin A Cin tak siap padanya lalu membatalkan pernikahan tiba-tiba atau berhenti di tengah jalan. Itu akan lebih sakit lagi terasa.

Atikah lalu pulang ke rumahnya. Rumah setengah batu dan kayu yang sedari dulu tak mengalami perubahan.

‘Mak, mak. Tikah pulang mak. Buka pintunya.’ tak lama pintu dibuka oleh seorang perempuan tua. Yang dipanggilnya mak itu sebenarnya adalah adik dari ibunya yang sudah mengasuhnya sejak 20 tahun, sejak ibunya meninggal dunia.

‘Mana Pan mak? Sudah tidur dia?’ ia melongok ke kamar. Dilihatnya Pan sedang tidur pulas sekali.

‘Sudah dari tadi.’ Mereka lalu duduk di kursi depan. Pandangan Atikah tertuju pada sesuatu di lantai. Di sana seekor kecoa melintas lalu menyelinap hilang melalui celah di antara retakan dinding.

‘Tikah, sudahlah, janganlah kau mengerjakan ini lagi nak? Ingat tuhan.’

‘Mak. Aku juga tak mau seperti ini, tapi kita mau makan apa nanti? Mamak sendiri sudah tua, darah tinggi pula, batuknya juga gak sembuh-sembuh. Jangan Cuma berharap dari jualan keripik singkong aja. Gak cukup mak. Kita tahu itu.’

‘Tadi pan berulah lagi.’

Atikah memperhatikan maknya dengan lekat.

‘Kenapa?’

‘Tadi sore waktu mak ada di dapur, ia keluar rumah dan mencengkram leher seekor kucing di jalan dan lalu membenamkannya ke selokan di depan rumah. Anak-anak lain pada teriak gara-gara itu. Semua jadi rebut. Lalu datang Pak Lih. Diambilnya kucing itu dari tangan Pan, lalu ditariknya Pan ke dalam. Habis mamak dimarahinya. Katanya kalau punya anak harus dijaga. Apalagi anak kayak Pan. Katanya lagi, Pan bukan hanya membuat anak-anak lain jadi takut karena ulahnya, tapi juga bisa membawa pengaruh buruk.’

Atikah hanya diam mendengarkan. Nampak dari matanya bahwa ia tidak setuju anaknya diperlakukan seperti itu, tapi bagaimana lagi. Ia merasa bahwa nasibnyalah sudah begini.

Mak menghela nafas, ia terbatuk kecil sebelum menyuruh Atikah berganti baju dan istirahat. Atikah hanya mengangguk. Pandangannya lurus ke depan. Pada dinding kayu kamarnya merayap dua ekor kecoa.

Makin banyak saja mereka sekarang. Perlahan Atikah bergerak mendekat dan melepas sepatunya.

Plak! Kecoa yang langsung membangkai itu masih menyisakan sisa dirinya di dinding.

‘Mampus!’

* * *

Malam ini terasa dingin sekali. Tak ada seorangpun yang datang untuk menawar dirinya sebagai penghangat sementra. Tak juga A Cin.

Apa mungkin ia kecewa terhadap ucapanku padanya semalam? Atikah hanya bisa bertanya-tanya. Perlahan ia berjalan menjauh dari tempat ia biasa mangkla. Sebuah taksi melintas lalu berhenti di sebelahnya.

Akhirnya, pelanggan pertama. Pikirnya,

Kaca taksi itu lalu turun perlahan, A Ci melonggokkan kepalanya ke dalam.

Tikah?! Sedang apa? Kamu kemalaman ya, mari pulang asama saya.’

Sial. Mas Lais, tetangganya satu kampong. Kenapa ia ada di sini?

‘Ah tidak usah m,as, saya juga lagi menunggu teman? Batinnya berbisaik teman apa pelanggan. Mampus kamu Tikah, setelah ini pasti semakin banyak berita yang beredar di kampung. Walaupun selama ini sudah banyak bisik-bisik mengenai dirinya.

Ah sudahlah. Ia membatin tak peduli.

* * *

Pagi ini terasa buruk bagi Atikah. Sejak bangun pagi Atikah uring-uringan terus. Apalagi Pan berulah. Piring makannya jatuh dan pecah menghamburkannya nasi ke setiap tempat di lantai. Ia membersihkan lantai itu dengan terpaksa. Mamak sendiri belum pulang dari pasar, belanja untuk warung dan dapur.

‘Dasar anak setan! Sama aja kau sama bapakmu. Bikin repot saja bisanya.’ sambil ke dapur ia masih sempat mendorong kepala Pan dengan tangannya. Lalau kembali ke hadapan Pan sambil membawa beberapa singkong untuk dikupas dan diiris.

‘Sudahlah, tak usah sarapan lagi. Ini kerjakan untuk digoreng nanti.’ Lalu ia kembali ke dapur. Di dapur Atikah terus mengoceh tentang pahitnya hidup apalagi saat bersama dengan Jasman. Bapak Pan yang entah kemana. Pan tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan ibunya. Ia tak pernah merasa jelas. Dihadapannya seekor kecoa melintas.

Cess!

Kecoa itu dihantamnya dengan singkong gemuk yang belum dikupas. Sebagian isi perutnya melompat keluar mengenai pipinya. Pan diam saja. Tak disekanya sisa binatang itu dari wajahnya. Atikah masih mengomel di dapur mengingatkannya jangan bermain-main dengan hewan menjijikkan itu. Sama menjijikkannya dengan Jasman. Pan tetap tak gubris.

Seekor lagi melintas di dinding tak jauh darinya. Matanya awas mengawasi gerak-gerik makhluk purba itu. Pisau besar di dekatnya tergenggam sudah. Tak ada lagi sinar lugu pada matanya. Tak ada lagi hampa di sana. Ia angkat pisau dan ia kejar kecoa itu.

Tap! Tap!

Goresan pisau tertanda pada bilah-bilah papan. Pan terus mengejar kecoa itu sampai kena. Sampai ia terpuaskan. Tapi ia seperti pintar menghindar. Dan semakin banyak yang keluar dari celah-celah rumah. Senyumnya mengembang kini tapi matanya tetap sama. Ia semakin bersemangat.

Tap! Cess… Suara gaduh terdengar dari luar. Beberapa orang terdiam dan berpaling. Apa yang menghebohkan. Sebagian berinisiatif melihat.

Pan makin bersemangat. Semua kecoa yang dilihatnya. Makin banyak dan makin banyak. Satu, dua, tiga. Lagi dan lagi. Kepala mereka putus. Kaki-kaki mereka berserakan. Tubuh-tubuh yang terbelah. Dan isi perut yang terburai keluar. Semua mengotori tubuh dan bajunya.

Tapi ia tetap tak berhenti. Pisau masih terayun mengalun.

‘Astagfirullahal’adziiim...’ kata seseorang dari luar pintu.

‘Aaaaaargh! Aaaaa...’ pekik seorang ibu mengundang reaksi yang lain.

Sebentar para tetangga sudah berkumpul di luar dan sebagian menyerbu ke dalam. Sementara di dalam rumah. Tubuh Atikah tertelungkup di lantaibersimbah darah. Tangan dan tubuhnya bergerak perlahan menandakan ia masih bernyawa. Dan Pan, ia terduduk di sana di antara genangan darah dan pisau di tangan tak jauh dari Atikah. Noda darah memercik ke mana-mana. Kursi, lantai, hingga ke dinding di antara kecoa-kecoa yang merayap.

* * *

03062009

PєTŮʼnJŮĶ

Lihat ke depan

Kau akan menjumpai sebuah pintu perak

Berukir naga dan burung phoenix yang saling berhadapan

Sentuhlah ukiran bola api yang ada di antara keduanya

Sebutkan kata kuncinya

Aku akan diam.

Perhatikan seksama…

Nanti kau akan melihat phoenix itu mengepakkkan sayapnya dan sang naga…

Sang naga akan menggerakkan ekornya.

P e r l a h a n

Tunggulah sesaat, maka pintu akan terbuka

Melangkahlah masuk

mulailah dengan kaki kananmu

Ingat! Dengan kaki kananmu

Maka di balik pintu…

Kau akan menjumpai sebuah padang dengan butiran embun yang masih membasahi rerumputannya

Kau tidak akan menjumpai hal itu bila melangkah dengan kaki kirimu

Itu kalau kau melangkah ketika hari masih terang.

Bagaimana bila hari telah gelap?

Kau akan tahu sendiri bila kau mengunjungi pintu di tempat itu lagi

Tapi ingat…

selalu dengan kaki kanan…

Melangkahlah terus melintasi padang.

Terus…

Terus…

Hingga kau menjumpai sebuah tonggak batu yang menyerupai nisan.

Turunilah tangga di depannya

Hingga kau menjumpai tiga jalan setapak menuju ke tiga arah

Ambillah jalan yang kiri

Ikuti saja hingga kau menemukan sebuah hutan kecil yang rindang yang bahkan sinar mataharipun tak dapat menembus daunnya.

Kalau kau menghitung pohon-pohonnya, maka mereka semua ada tiga puluh batang.

Tidak lebih dan tidak kurang.

Jumlah itu adalah jumlah yang sama sejak tiga millennium yang lalu

Carilah pohon dengan lubang besar di batangnya.

Jangan takut kau pasti menemukannya dengan mudah

Masuklah ke dalamnya

Disitu ada tangga untuk kau turuni…

Raihlah obor di dindingnya

Apa? Tak ada api?

Tak apa-apa, obor akan menyala sendiri jika kau tiup sumbunya.

Turunilah tangga itu hingga sampai ke dasar hingga kau melihat dua buah labirin

Perhatikan dengan seksama, di sana ada sebuah patung sphinx di antaranya.

Dengarkan teka-tekinya

Binatang apa yang berjalan dengan keempat kakinya di waktu pagi, dua kaki di waktu siang dan tiga kaki di waktu malam?

Maka kau katakan jawabannya seperti yang sudah kuberitahu.

Maka ia akan menunjukkan labirin mana yang akan kau lalui

Berjalanlah melalui labirin itu,

Dan jangan sekali-kali melihat ke belakang

Bila kau mendengar langkah kaki di belakangmu,

Hiraukan

Bila kau merasa hembusan hangat di punggung dan lehermu

acuhkan

Berjalanlah dengan agak cepat.

Aku ingatkan, jangan sekali-kali melihat ke belakang

Ingatkan dirimu.

Bahwa hanya ada kau dan obor yang terus kau pegang.

Jangan sampai obormu jatuh.

Atau…

Kau takkan mau tahu apa yang akan terjadi padamu nanti

Berjalanlah lurus hingga kau menemukan cahaya kecil di ujungnya

Ikuti cahaya itu dan kau akan berada pada ujung labirin

Sebuah pintu batu akan menutup labirin di belakangmu begitu

kau melangkah keluar

Kini kau ada di sebuah ruangan berbentuk kubah dengan lantai sebuah kolam penuh ikan.

Ada sebuah kolam batu kecil di tengahnya dengan pancuran air.

Sebuah kolam di dalam kolam

Ada puluhan ikan di kolam besar itu.

Carilah sebuah ikan putih dengan bintik hitam di dahinya.

Perhatikan dengan seksama..

Cepat waktumu tak banyak di dalam kubah itu!

Kau tak mau air akan terus mengalir memenuhi kubah itu kan.

Kau bisa tenggelam di sana.

Begitu kau menemukannya, tangkaplah ia dan masukkan ke dalam kolam batu kecil itu

Lihatlah apa yang terjadi dan kau akan menemukan sebuah pintu keluar

Sebuah pintu keluar dengan sebuah susunan tangga batu panjang di atas jurang yang dalam

Melangkahlah hati-hati.

Awas ada banyak anak tangga yang licin karena lumut-ratusan-tahunnya

Teruslah turuni tangganya hingga sampai ke seberang

Di sana ada seekor Griffin yang akan mengantarmu ke tempat kau pergi selanjutnya

Menunduklah padanya

Beri salam dan katakan nama dan tujuanmu

Kau tak lupa tujuan yang kuberitahukan?

Tetaplah menunduk sampai ia membalas tundukannmu

Jika ia berkenan, ia akan membalas salammu.dan kau boleh menaikinya.

Kuharap ia akan membalas salammu dan menurut padamu

Dan setelah ia membolehkanmu menaikinya, maka pergilah ke arah utara, menuju Gunung Biru atau katakan saja padanya kemana tujuanmu maka ia akan mengerti.

Nanti jika kau sudah sampai di sana Ia akan menurunkanmu di gua di kaki gunung itu. masuklah ke dalam dengan menuruni tangganya

Cepat waktumu semakin tidak banyak!

Lewatilah jurang kawah itu

Lewatilah sungai bawah tanah itu

Hingga kau akan sampai pada sebuah ruang.

Majulah dan kau akan melihat sebuah altar di sana.

Sebuah cincin kecil terdapat di tengahnya

Menggantung tanpa gantungan.

Melayang tanpa pijakan

Ambillah

Tapi tunggu!! Jangan sembarangan.

Letakkan sebuah benda sebagai pengganti cincin itu.

Sebuah batu kerikil kelihatannya boleh juga.

Tapi kau tetap harus waspada.

Begitu kau mengambilnya, kusarankan kau cepat berlari ke dinding batu di belakang altar.

Ada sebuah kunci emas yang tertanam dalam dinding itu.

Ambillah dan segeralah berlari ke tangga di belakangnya

Kau tahu mengapa kau kusuruh berlari?

Karena semua dinding batu itu akan runtuh di belakangmu.

Setiap lantai yang kau pijak akan berderak dan berguncang.

Maka itu tetap berlatilah.

Jangan kau kembali ke arah di mana kau datang,

Jangan pikirkan Griffin yang menunggu di luar

Ia pasti sudah tak di sana

Berlarilah menuju tangga itu dan kau akan sampai pada sebuah pintu

Bukalah dengan kunci itu.

Dan kau akan melihat sebuah lingkaran cahaya di tengah-tengahnya.

Lompatlah ke dalamnya

Jangan takut!

Itu tidak akan membuatmu celaka.

Mungkin hanya akan membuatmu sedikit pusing.

Cepatlah, waktumu semakin dan semakin tak banyak

Kau akan melalui sebuah lorong cahaya.

Yang panjang

Yang menyedotmu terus ke bawah

Dan

ke

bawah

Setelah itu semua selesai,

Kau akan sampai di sebuah sumur.

Panjatlah ke atas dan keluarlah dari sana.

Berhati-hatilah pada licinnya batu dan lumut basah.

Sesampai di atas, ikuti jalan setapak dari batu itu, dan kau akan sampai pada sebuah titik dengan tiga jalan setapak di hadapannya.

Kalau kau masih mengingat dengan baik

Itu adalah tiga jalan setapak yang kau lalui waktu kau pergi,

dan kau baru saja mengambil jalan setapak yang sebelah kanan.

Naikilah tangga itu dan seperti halnya kau pergi,

kau akan melintasi padang luas itu hingga kau menemukan pintu dimana kau pergi awalnya.

Bukalah dengan menyebut kata kuncinya.

Aku akan diam

Ingat, kau masih ingat kata kuncinya bukan?

Aku akan diam

Maka pintu itu akan membuka dan kau akan kembali di tempat di mana kau pergi sebelumnya.

Aku akan menunggumu di sana.

Dan kau akan menyerahkan cincin itu padaku.

Dan aku…

Aku akan menunjukkan siapa diriku pada dirimu kemudian.

Kau tidak boleh takut…

Kau tidak

boleh

takut.

December 20th 2008