Selasa, 28 September 2010

Saksi pada Puisi

Sudah tak pandai lagi aku berpuisi
Sudah hilang prosa dan diksi untuk ditulisi.

- Q –

Kamis, 23 September 2010

PULAU DALAM AYUNAN MAUT

Simeulue, pertama kali saya menginjakkan kaki di pulau ini pada tanggal 16 November 2005. Saya datang untuk memenuhi tugas dinas dari sebuah LSM internasional dari Irlandia, Concern Worldwide, yang memiliki program membangun pulau pasca tragedi gempa-tsunami akhir tahun 2004 dan gempa Nias pada 23 Maret 2005. Saya ingat, pada malam pertama saya ditempatkan di kota utamanya, Sinabang, di sebuah penginapan yang bernama Andini di pulau itu, saya menangis dan bertanya apakah keputusan saya mengambil tawaran bekerja dengan LSM ini adalah keputusan yang tepat? Saya menangis karena ditempatkan di sebuah pulau asing yang tidak pernah saya dengar sebelumnya kecuali dari berita pasca gempa-tsunami di televisi pada saat itu. Saya menangis karena ini adalah pulau yang minim fasilitas yang bahkan kalau mati listrik maka mati juga-lah sinyal pada telepon seluler saya. Apakah saya bisa bertahan di tempat yang jauh berbeda dengan kota Medan dengan semua fasilitasnya dan kehancuran yang masih sangat terasa pada saat itu?

Bahkan masih ada kejutan setelahnya ketika saya diberitahu bahwa air yang saya pakai mandi dan gosok gigi adalah air tadahan hujan yang dapat membuat gigi cepat keropos, dan air hujanlah yang dipakai mayoritas masyarakat di pulau ini sebagai air mandi bahkan pada saat itu untuk minum juga. Lalu, untuk apa saya menggunakan air itu untuk mengosok gigi saya? Saya berencana untuk mencoba bertahan setidaknya sampai bulan ketiga saya berada di sana dan mengundurkan diri setelahnya kalau saya merasa tidak cocok.

Dan itu semua belum seberapa, dengan bertempat di koordinat 5° 55′ 0″ LU, 95° 0′ 29″ BT, pulau Simeulue tepat berdiri di atas salah satu lintasan gempa aktif dunia yang jalurnya terus turun hingga ke pulau Jawa. Saya telah merasakan gempa dengan kekuatan 2 SR hingga 6 SR di sana.

Tapi semua anggapan itu berubah. Saya ternyata dapat bertahan pada bulan setelahnya dan terus setelahnya. Ada sesuatu pada pulau itu yang membuat saya bertahan. Keindahan alamnya, tipe masyarakatnya dengan segala hal di dalam kehidupan mereka, teman-teman, dan kerjaan saya tentunya.

Setiap pagi ketika datang ke kantor yang bertempat di kawasan Kolok, maka saya akan dihadapkan dengan udara pagi yang segar dengan sinar matahari yang terang, kalau cuaca bagus dan tidak hujan tentunya, dan pemandangan ke teluk yang mengagumkan. Dan suara-suara burung dan monyet liar di hutan belakang kantor saya dulu. Sesuatu yang sangat disyukuri.

Mengenai cuaca dan hujan itu sendiri, pulau Simeulue memiliki cuaca yang aneh dan tidak bisa diperkirakan. Ia sebenarnya memiliki curah hujan yang tinggi apalagi bila masuk di musim penghujan, tapi kita juga akan dihadapkan dengan cuaca panas yang ekstrem berdebu karena topografinya yang dekat dengan laut. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa jika hujan pada hari Jum’at maka hujan pulalah yang akan kita dapatkan untuk seminggu ke depannya. Dan kadangkala saya berpikir itu benar. Adakalanya saya mendapatkan hujan lokal yang yang hanya berjarak seratus meter dan kering di sisi yang lainnya. Bahkan ada kalanya hujan selebat-lebatnya dengan matahari yang juga bersinar pada saat yang bersamaan.

Selama di sana, saya telah menjelajah ke hampir semua tempat di Simeulue dengan menyisakan sedikit keinginan, yaitu mengitari bagian terujung atas pulau, daerah Alafan dan sekitarnya, dan menembusnya. Saya telah melalui daerah Sibigo sebelumnya tapi waktu itu adalah perjalanan satu sisi pulau saja. Walaupun harus ‘mencuri’ mobil kantor dengan banyak alasan bohong di dalamnya pada pimpinan.

Setelah hampir dua tahun bergabung dengan Concern Worldwide, tibalah saatnya saya untuk mengakhiri tugas dan berpisah dengan pulau itu pada tengah tahun 2007. Begitu banyak hal yang saya dapat di sana dan menetap dalam pikiran saya.

Kenangan-kenangan yang tersisa memaksa pikiran saya untuk dapat kembali setelahnya lagi dan lagi. Dan itu terjadi!
Setahun setelahnya saya kembali lagi ke pulau itu walau hanya untuk 5 hari. Mengunjungi teman-teman lama dan menarik kembali kenangan yang ada dan mencoba melakukan lagi hal-hal yang dulu saya lakukan bersama teman-teman. Dan pada saat itu saya masih berharap untuk dapat kembali lagi.

Dengan hanya mengikuti perkembangan dan berita dari surat kabar dan teman-teman yang berada di pulau Simeulue, saya masih menyimpan harap untuk dapat kembali lagi ke sana suatu saat. Dan ternyata Allah sangat pemurah pada saya. Dia mengijinkan saya untuk kembali ke pulau itu pada akhir tahun 2009, dan mungkin juga benar kata masyarakat pulau itu, bila sudah terminum air pulau Simeulue, maka kita akan balik dan balik lagi ke pulau tersebut. Maka saya kembali lagi ke Simeulue untuk bergabung dengan Palang Merah Jepang, JRCS - Japanese Red Cross Society - untuk program yang sama dengan LSM tempat saya dulu bekerja, rekonstruksi.
Dan kali kembali lagi ke Simeulue ini, cukuplah bagi saya untuk menuntaskan semua rindu pada teman dan tanah Simeulue. Dan bertemu kembali dengan ibu angkat saya, Ibu Salmi, yang selalu melebarkan tangannya sepenuh hati untuk menampung saya di rumahnya kapan saja saya kembali ke pulau itu.

Kali ini, posisi dan kapasitas kerja saya lebih besar dari sebelumnya dan lebih sibuk, namun anehnya, saya dapat menjalaninya dengan lebih lapang dan tenang seakan tak ada beban. Bahkan kali ini saya berkesempatan untuk menjelajah bagian ujung atas pulau dan mengitarinya. Sebuah pengalaman yang takkan saya lupakan. Namun masih ada satu ingin lagi yang saya ingin penuhi yang belum tercapai.

Setelah beberapa bulan bergabung dengan Japanese Red Cross Society, saya harus mengakhiri tugas saya di pulau itu (sekali lagi) pada tanggal 1 April 2010 yang lalu, namun saya sengaja melambatkan kepulangan saya ke kota Medan sampai tanggal 11 April karena saya masih ingin merasakan atmosfir pulau kecil saya yang tercinta. Hingga datanglah saat itu.

Pada tanggal 7 April 2010 pukul 5.15 yang lalu, saya tersentak, terbangun karena goyangan yang membuat tempat tidur saya bergeser. Saya yang merasa sudah terbiasa dengan gempa langsung terbangun dan menunggu beberapa detik untuk mengambil tindakan, apakah saya perlu diam saja kalau gempa ringan atau berlari keluar kalau gempa kuat. Dalam waktu sepesekian detik itu, saya yang sekali lagi merasa sudah terbiasa dengan gempa ringan berharap kalau gempa kali itu juga gempa ringan yang tak perlu dikhawatirkan. Namun saya keliru. Goyangannya terus menguat dan membuat saya harus berusaha lari ke luar kamar untuk menyelamatkan diri. Listrik yang otomatis padam saat itu semakin menyulitkan langkah saya membuka pintu kamar walau hanya dikunci dengan pacok dari kayu. Dalam gelap saya mencari pegangan karena kamar saya berada di lantai dua. Kaki saya gemetar dan berusaha menetapkan pijakan karena gempa terus menggoyang pulau dan pikiran saya berharap semoga tidak ada satupun tiang rumah yang patah yang dapat menyebabkan bangunan ambruk dan menjatuhkan saya dan beberapa orang lain di lantai dua rumah itu sehingga menimpa penghuni rumah yang ada di lantai bawah. Saya tidak bisa berpikir berapa lama goncangan berlangsung pada saat itu, karena ada ribuan hal yang melintas dalam pikiran saya yang kalut. Sementara bibir saya terus mengucapkan asma Allah dan berharap semoga ini segera berakhir. Sempat saya melihat orang-orang lain yang berada di lantai yang sama dengan saya bersusah payah menstabilkan diri sambil mengucap asma Allah, dan beberapa orang yang berada di jalanan yang rencananya mau ke mesjid untuk sholat Subuh, merapat ke tanah dan meneriakkan hal yang sama. Hingga akhirnya goyangannya berhenti. Tapi tidak untuk lama, karena beberapa detik selanjutnya bumi kembali bergoyang untuk semakin melemaskan tungkai yang belum tegak benar saat itu.

Pada saat goyangan benar-benar berhenti, saya meminta pada teman saya yang kamarnya berada di lantai yang sama untuk menghidupkan mobil dan memutuskan kalau kami semua yang berada dalam rumah itu untuk berangkat mengungsi ke daerah yang tinggi. Yang ternyata juga sama dilakukan semua penduduk pada subuh hari itu. Lampu-lampu kendaraan memenuhi gelap di jalan Tengku Di Ujung, jalan utama di Pulau Simeulue, dan semuanya menunggu dengan cemas hingga fajar datang. Untungnya sinyal telepon tidak ikut mati sehingga komunikasi bisa terus berjalan. Baru kami mengetahui kalau gempa itu berkekuatan 7,2 SR yang terasa hingga ke Sumatera Barat di Pulau Sumatera. Paginya saya mendapat kabar kalau di daerah ‘kampung’ - istilah yang dipakai untuk daerah di luar Sinabang – di tempat saya bekerja di daerah Simeulue Tengah, air laut sempat surut sejauh 30 meter untuk kemudian naik lagi secara perlahan menuju normal. Kalau sempat surut itu naik secara drastic, maka apa yang dibayangkan dapat terjadi, tsunami.

Sekitar 20-an orang cedera, ratusan rumah dan bangunan publik rusak, dan kerugian yang timbul lainnya akibat gempa membuat saya berpikir kapan gempa akan berhenti menggoyang pulau ini?

Tanggal 11 April 2010. Waktunya saya untuk berangkat dari pulau itu menuju tanah kelahiran saya, Medan. Namun sebenarnya, saya yakin kalau Tuhan sudah menanam separuh jiwa saya di pulau itu sejak kali pertama saya menginjakkannya. Begitu banyak hal yang saya alami di sana yang tidak ingin saya relakan dengan apapun untuk ditukar.

Kini, belum dua minggu saya meninggalkan pulau itu, namun saya sudah merasa rindu padanya. Dan saya masih saja berharap kalau Tuhan akan mengijinkan saya kembali ke sana untuk melihat separuh jiwa saya yang tertinggal, menyegarkan kembali ingatan saya, bertemu dengan teman-teman, dan menuntaskan satu ingin saya yang belum pernah tercapai yaitu, untuk menaiki seekor kerbau jinak dan difoto ketika saya sedang menunggangnya. Semoga.


Ini adalah pemandangan yang saya ambil dari kantor saya dulu

ini dari teluk di belakang rumah kost saya, Teluk Pertamina.

Ini tepat di belakang rumah kost saya.

Ini di Pulau Siumat,

Ini adalah Pelabuhan di daerah Nasreuhe, namanya eksotik ya??

Ini pantai Along 

Tapi maaf, gambar kerbaunya tidak saya ambil, nanti deh kalau kesampaian (n_n)

Sabtu, 18 September 2010

Ģīlīŗaņ Şcoŗpīo Beŗķīşaħ



V
Şeļamať Ðaťaņġ
Đī Aŗaġūļļī


Pagi telah datang.
Ini adalah hari kedua menuju negeri Aragulli. Kini saatnya untuk Xëylon dan Laya bersiap untuk menyambung perjalanan mereka, Xëylon berkata kalau hari ini mereka akan sampai di sana. Dan cuaca terasa sangat dingin sekali pagi ini. Xëylon membuka sebuah tas besar di salah satu bawaan di pelananya, ada sebuah jaket bulu pendek di sana dan ia lalu memakainya. Ia kelihatan semakin gagah dengan jaket itu. Lalu Xëylon melirik pada Laya,
‘Bagaimana denganmu? Tidakkah kau memiliki baju hangat? Kau bisa memakai punyaku kalau tidak punya.’
Laya mengeluarkan jaket biru dalam ranselnya,
‘Aku akan baik-baik saja dengan jaket ini.’
‘Haha… Baiklah, kurasa itu juga cukup.’
Setelah mengemas semuanya, Xëylon lalu kembali menyampirkan busur di punggungnya, menempatkan kedua tas besarnya di tubuhnya yang juga sebagai dudukan untuk Laya, mengakatnya dan menaruh pedangnya di belakang salah satu tas tersebut. Ia lalu membantu Laya naik ke atas tubuhnya,
‘Baiklah, siap?’
‘Aku siap,’
‘Hmm, kita berangkat. Pegang yang erat.’ ia lalu menaikkan kedua kaki kuda depannya ke atas. Laya terkejut dengan lonjakan tiba-tiba itu sehingga hampir terjatuh, namun cepat ia berpegangan pada tubuh Xëylon, lalu dengan sekali hentakan Xëylon lalu berlari dengan kencangnya.
‘Nah, berpeganglah padaku lebih kuat kalau kau ingin merasa lebih hangat.’
‘Ya,’ namun Laya merasa kalau dirinya sudah cukup hangat kini. Berada di belakang punggung Xëylon juga tidak terlalu buruk. Walaupun mereka melaju kencang namun Laya merasa kalau ia masih dapat menahan laju dingin angin di tubuhnya.
Selama satu jam ke depan mereka kembali melintasi savana yang luas tersebut seperti kemarin, sesekali Xëylon melompat tinggi menghindari batu-batu besar tanpa takut Laya dan bawaannya jatuh di belakang. Ia benar-benar dapat mengendalikan dirinya. Beberapa jam kemudian, entah berada di mana mereka kini, tadi Xëylon mengatakan kalau mereka kini berada di kawasan yang bernama, entahlah… sesuatu yang dimulai (atau yang diakhiri) denga kabuu, Laya tidak mengingatnya dengan baik. Cuaca sepertinya cukup baik hari ini. Matahari tidak bersinar dengan kuatnya namun juga tidak mendung. Lucu bagi Laya melihat Xëylon memacu kaki kudanya berlari. Ia sudah terbiasa dengan pemandangan seekor kuda lengkap dengan kepalanya berlari dengan keempat kakinya, walaupun ia hanya melihatnya di televisi. Namun kini ia mengalami sendiri berada di belakang tidak hanya kuda namun juga seekor manusia kuda yang memiliki setengah badan manusia pada – yang seharusnya – leher kuda dan memiliki tangan manusia juga. Laya membayangkan bagaimana kalau dirinya sendiri menjadi manusia dengan empat kaki. Apakah ia juga dapat berlari dengan kencangnya?
Kawasan savana sudah terlewatkan di belakang, kini mereka telah sampai pada pinggir hutan pinus dan sebuah sungai kecil yang mengalir di dekat mereka. Laya turun dari punggung Xëylon dan mengisi dua kantung kulit air untuk perbekalan mereka. Xëylon juga mengambil tempat di bawah sebuah pohon yang rendah untuk beristirahat. Tangannya mengambil buah-buahan pohon tersebut yang berwarna ungu. Ia memberikan sebuah pada Laya untuk dirasa.
‘Cobalah, kau akan suka buah ini.’
Laya mencobanya, manis dengan sedikit asam terasa si lidahnya, namun kemudian ia mengambil sendiri buah itu lagi dari pohonnya dan duduk di samping Xëylon.
‘Tuan Xëylon,’
‘Ya,’
‘Kata tuan kita akan menuju Aragulli kan?’
‘Ya, benar.’
‘Apakah Arragulli itu?’
‘Mmm, yah, Arragulli adalah salah satu negeri utama dari sembilan negeri di Dunia Tengah. Aragulli adalah sebuah tempat yang ramai dan sejauh ini kurasa cukup damai untuk ditempati. Walaupun kau tentu menyadari kalau orang yang berniat jahat dapat berada di mana saja. Saat ini Aragulli dipimpin oleh seorang raja yang bernama Erondya.’ Xëylon lalu terdiam.
‘Erondya?’
‘Yah, Erondya. Terus terang, aku sendiri tidak menyukai Erondya.’
‘Mengapa?’
‘Ah… Tidak apa-apa. Dulu, Erondya sendiri sebenarnya adalah seorang panglima perang kerajaan Aragulli. Raja yang terdahulu adalah Agastya yang terbunuh oleh para Fax dalam peperangan bertahun yang lalu. Aku sendiri berada di depannya pada saat itu, dan aku tak dapat menolongnya. Aku menyaksikannya mati di hadapanku. Lalu terjadilah kekosongan kepemimpinan di Erondya. Karena kekosongan pemimpin itulah, maka para tetua dan dewan memutuskan kalau Erondya adalah orang yang tepat untuk memimpin kerajaan, dan alasan yang lain lagi yang lebih pantas adalah, Erondya adalah adik dari Agastya.’
Xëylon lalu terdiam kembali, seakan menyesali saat-saat dahulu.
‘Oya, apakah sudah kubilang tadi kalau Aragulli adalah negeri yang ramai?’
Laya mengangguk, ‘Kau akan suka berada di sana. Mungkin sedikit berbeda dengan kota tempat asalmu, namun kurasa kau akan menyukainya.’
‘Di mana kita akan tinggal di Aragulli?’
‘Kita? Dirimulah yang menjadi perhatianku saat ini. Sedangkan aku dapat tinggal di mana saja yang aku suka. Dan sejujurnya aku tidak suka tinggal di satu tempat. Aku ingin bebas tak terikat. Sebenarnya, mayoritas kaum Chlom sendiri tinggal di perbukitan Ishmar, di antara padang rumput dan lembah. Seperti yang lain, aku juga memiliki satu tempat untuk bernaung di sana. Namun, maaf Laya, kau tidak akan tinggal bersamaku dan aku juga tidak dapat membiarkanmu tinggal bersamaku. Setelah aku pikir-pikir semalam, kau nanti akan kubawa menemui Orakel, akan kuminta padanya agar ia mau menerimamu di sana.’
Laya agak sedikit kecewa mendengar bahwa ia tidak akan tinggal dengan Xëylon, ia sudah merasa akrab dan nyaman bersamanya, namun tak apalah pikirnya, daripada ia harus kembali ke tempat bibi dan …
‘Orakel? Siapa itu orakel? Bagaimana jika tidak?’
‘Orakel adalah temanku. Saat ini, satu-satunya orang yang dapar memahamiku. Bagaimanapun gundah perasaaanku maka orang yang dapat mengerti adalah dirinya. Ia telah menjadi … sahabatku sejak lama.’
Kemudian Xëylon memandang ke arah padang yang telah mereka lewati tadi.
‘Kau tahu Laya, jika kau merasa tidak ada yang mempercayaimu lagi, atau ketika kau merasa semua orang menjauhi dan mengkhianatimu, maka orakel adalah orang yang akan ada di sampingmu untuk memberi semangat yang akan menumbuhkan kembali dirimu yang sesungguhnya. Tenanglah, ia tidak akan menolakmu, ia pasti mau menerimamu di tempatnya. Percaya padaku, ia pasti mau …’
‘Baiklah.’
‘Nah, sekarang taruh air-air itu di punggungku, dan naiklah, sudah cukup rasanya kita beristirahat.’
‘Baiklah.’
Setengah jam kemudian mereka telah keluar dari hutan tersebut,
‘Nah, tak berapa lama lagi kita akan sampai. Kau lihat bukit-bukit yang ada di sana itu. Itulah Aragulli.’ Xëylon berkata sedikit berteriak pada Laya setelah sekian lama mereka diam. Desiran angin telah mengganggu pendengaran mereka. Ia menunjuk ke depan.
Laya menajamkan matanya. Di kejauhan terlihat perbukitan putih yang yang menandakan kandungan granitnya. Tak berapa jauh lagi mungkin dalam tiga puluh menit lagi mereka akan sampai di sana. Laya kagum kepada Xëylon, ia dapat berlari sepanjang hari dengan stamina yang prima. Ia benar-benar seorang manusia kuda yang tangguh.


Ķini negeri Aragulli telah ada di depan mata.
Dari jarak mereka kini Laya dapat melihat sebuah bukit putih kokoh yang tinggi terpahat dengan rapi membentuk sebuah bangunan megah, namun ia tidak dapat melihat dengan jelas karena semakin dekat dengan kawasan itu semakin dekat pula mereka dengan perbukitan granit yang memagari Aragulli. Langkah kaki Xëylon telah berhenti kini. Di hadapan mereka telah berdiri pintu gerbang Aragulli.
Laya dapat melihat kalau pintu gerbang itu sangat besar dan tinggi. Terbuat dari gabungan kayu dan logam yang melengkung dan tingginya kira-kira 15 prill (1 prill = 2 meter). Aragulli sendiri dikelilingi oleh tembok batu yang sedikit lebih tinggi dari pintu gerbangnya dan sangat panjang seperti bersatu dengan perbukitan granit itu sendiri. Di atasnya terdapat beberapa penjaga yang akan memberitahu dan melindungi dari apa saja yang terjadi di luar tembok. Laya bertanya-tanya bagaimana rupa Aragulli di dalam tembok yang luar biasa besar ini?
Beberapa penjaga ternyata telah melihat Xëylon dan Laya yang akan memasuki Aragulli dari kejauhan. Salah seorang di antaranya berteriak memberi aba-aba untuk membuka pintu bagi mereka.
‘Tuan Xëylon ada di luar, buka pintu gerbangnya!’
Tak berapa lama kemudian.
Huuuuurrrh….
Bunyi gemuruh keluar seiring dengan dibukanya pintu gerbang itu. Kini Laya menyadari betapa pintu gerbang itu begitu besarnya. Tebalnya saja kira-kira berukuran empat kali dirinya bila dijejerkan. Tidak, mungkin lima atau enam. Begitu celah pintu itu terbuka, ia masih harus melewati semacam lorong yang panjang. Wajar, diatas mereka bukan hanya sekedar pintu gerbang, namun juga benteng yang kokoh yang selalu diisi para penjaga yang kuat sepanjang waktu yang bertugas melindungi Aragulli. Di ujung lorong sinar matahari menampakkan wajahnya. Semakin mendekati ujung semakin nampaklah bagaimana rupa Aragulli dari balik benteng kokoh yang dilihatnya di luar. Jantungnya berdegup kencang begitu pintu tersebut terbuka, katup penyimpan adrenalinnya juga ikut terbuka dengan semua perasaan ingin tahunya di dalam hatinya.

Benar Aragulli adalah negeri yang ramai. Begitu berada di balik pintu kerumunan orang sudah terlihat bersliweran di mana-mana dengan kesibukan masing-masing. Banyak panji-panji berkibar di banyak bangunan. Xëylon kemudian membawa Laya masuk ke dalam pusat kota Aragulli di mana lebih banyak lagi keramaian di sana. Begitu berwarna, begitu sibuk. Yang membuat Laya kagum adalah bangunan yang ada di sana semaunya didominasi dengan warna putih yang berasal dari batu granit yang halus. Tapi tak sepenuhnya putih karena, yang menarik adalah, terdapat batuan kristal yang menempel di dinding-dinding bangunan tersebut seakan-akan itu adalah hiasan yang yang ditempel di sana layaknya batu bata. Kristal-kristal yang beragam warna itu juga memiliki bentuk yang tak beraturan. Persegi panjang, bulat, kubus, dan lainnya dengan permukaan yang sudah halus maupun masih kasar. Dan ukuran mereka juga beragam, mulai dari yang sebesar kerikil sampai yang sebesar lemari pendingin dua pintu seperti yang ada di rumah bibi Laya. Tiap rumah dan bangunan yang ada menjadi berwarna dengan adanya kristal-kristal itu. bukan itu saja. Jalanan batu yang ada di setiap sudut negeri juga berhiaskan dengan batu-batu kristal raksasa berwarna-warni tersebut.
Dan bangunan-bangunan granit tersebut sepertinya adalah bagian dari bukit granit itu sendiri yang dipahat hingga akhirnya membentuk rumah atau bangunan lainnya. Banyak bangunan yangberdempet satu sama lain atau memiliki tinggi yang seragam.
‘Layaknya negeri dongeng saja.’
Xëylon sengaja membawa Laya berjalan dengan pelan. Ia tahu kalau hal seperti itu tidak akan Laya jumpai di tempat asalnya. Bukan itu saja yang membuat Laya kagum. Penduduk yang tinggal di sana sebagian juga memiliki bentuk tubuh dan wajah yang aneh. Seperti halnya Xëylon. Laya tertawa sepanjang jalan Aragulli, terkadang ia menunjuk ke suatu arah dan melakukan apa ini dan apa itu pada Xëylon karena ingin tahunya.
Seperti yang dilihatnya di suatu sudut, seorang bapak yang sedang berjualan semangka. Ia memiliki tubuh manusia tetapi memiliki rambut kuning keemasan yang menutupi hampir seluruh wajahnya, yang membuat ia terlihat seperti seekor singa. Tangan kanannya memegang semangka tersebut sementara mulutnya terus menawarkan pada setiap orang yang lewat. Atau seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang menangis. Ia dan anaknya memiliki kulit yang berbelang dan bermata layaknya mata ular. Mereka sedang menaiki sebuah kereta yang ditarik oleh seekor hewan berkaki dua yang terlihat seperti seekor burung yang sangat besar berwarna hijau namun tidak memiliki bulu dan sayap, hanya dua tangan kecil yang seperti cakar pada dadanya, bentuknya lebih mirip seperti salah satu spesies dinosaurus atau burung unta hijau yang bertangan dalam bentuk yang lebih jelek dan lebih besar, pikir Laya, matanya merah begitupun dengan paruhnya. Ada semacam antenna pada atas kedua matanya dengan ujung yang seperti bola golf. Ibu dan anak itu sepertinya berasal dari golongan berada karena mereka terlihat seperti itu.
Dommu, kata Xëylon. Saat Laya bertanya binatang apa itu. Dommu. sepertinya nama itu cocok untuk binatang itu, lalu terlihatlah dommu-dommu yang lain yang berkeliaran di jalan-jalan Aragulli sebagai kereta atau tunggangan.
Masih belum terbiasa dengan apa yang dilihatnya, di satru sudut laya melihat seorang perempuan yang memiliki telinga yang panjang seperti halnya kucing namun berwajah biru, yang sedang berjalan bersisian dengan temannya yang berbentuk seperti manusia normal layaknya.
Hey, benarkah mereka itu manusia?
Atau ada sekumpulan lelaki dan perempuan yang berpakaian jubah putih yang - dalam pandangan Laya sepertinya mereka - bersinar dan berjalan dengan tenang seperti tidak menapak bumi. Seseorang dari mereka melirik kepada Laya,
‘Kaum peri Lembah Radu. Mereka tidak berjalan di atas tanah namun melayang. Jangan menatap mereka terlalu lama, pandangan mereka dapat menarikmu.’ Xëylon tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan kata ‘dapat menarikmu’. Ia sendiri bahkan berbicara dengan melihat lurus ke depan.
‘Benarkah?’
‘Ya,’
Laya menatap mereka semua dengan heran.
‘Tuan Xëylon, apakah wajah mereka memang seperti itu?’
‘Maksudnya?’
‘Maaf, tapi semua ini sangat aneh bagiku, sebagian orang-orang ini memang berbentuk manusia namun sebagian lagi adalah perpaduan binatang.’
‘Seperti aku?’
Laya terdiam, ia tidak bermaksud begitu pada Xëylon.
‘Ya. Kau harus sadar Laya kalau ini bukanlah Dunia Atasmu. Masing-masing dari kami, atau mereka, berasal dari golongan yang berbeda. Aragulli kadang mendapat tambahan penduduk dari beragam golongan yang datang karena mereka ingin mendapat perlindungan dari peperangan yang terjadi di negeri mereka. Jadi artinya, kau tidak perlu heran kalau setiap makhluk di Dunia Tengah adalah pribadi yang unik yang bentuknya tidak seperti manusia kebanyakan yang seragam seperti di duniamu. Coba saja nanti kau lihat bagaimana bentuk kaum Abatu. Aku sendiri saja sulit percaya kalau mereka memiliki bentuk seperti itu he he he…’ Mereka terus berjalan hingga tiba-tiba seseorang menyapa mereka.
‘Hey, salam tuan Xëylon, senang sekali dapat bertemu anda di sini. Apa kabar anda? Lama sudah kita tidak berjumpa?’
Seorang lelaki gemuk pendek dengan kuping yang bergerak-gerak seperti kuping kucing dan cambang di wajahnya. Ia mencegat Xëylon dan Laya di tengah jalan. Mukanya terlihat ramah dan lucu.
‘Salam juga untukmu Marco. Apa kabarmu?’
‘Ah, aku baik saja. Hey, kemana saja anda selama ini? Ouw, siapa yang bersamamu itu Tuan Xëylon? Hmm… Gadis kecil yang manis sekali.’ Laya tersenyum padanya. Marco lalu mengambil tangan kiri Laya dan menciumnya. Laya masih terpaku olehnya.
‘Dia temanku, namanya Laya.’
‘Oh apa kabar Laya. Ini untukmu anak manis.’ lelaki bernama Marco itu lalu menyerahkan sebatang gulali kepada Laya.
‘Terima kasih.’ ucap Laya, sekilas ia melihat pada tangan Marco yang penuh dengan tato sulur-sulur tanaman.
‘Terima kasih Marco, tapi kami harus pergi sekarang, ada urusan yang harus diselesaikan. Nanti kita akan berjumpa lagi.’
Lain waktu, kata Xëylon dalam hatinya.
Xëylon memberi salam kepada Marco sebelum meninggalkannya. Dan Marco masih terus menatap mereka walaupun mereka telah pergi menjauh.
‘Siapa namanya tadi tuan Xëylon?’ tanya Laya, tangannya menjejalkan gulali pemberian Marco ke dalam mulutnya.
‘Marco.’
‘Lelaki yang baik.’
‘Hah! Begitukah menurutmu? Jangan terlalu percaya padanya. Dia itu pedagang gelap, kadang ia menjual barang-barang juga kepada para Fax.’ Laya melihat ke belakang pada Marco sekali lagi tapi lelaki itu sudah entah di mana tertutup kerumunan, ‘Kalau ia mau, ia juga dapat menjualmu pada para Fax. dan kurasa itu alasannya mengapa ia masih terus menatap kita walau kita sudah pergi jauh darinya. ’
Laya terdiam lalu melirik ke belakang pada Marco. Benar, lelaki itu masih memperhatikan mereka. Dan ia terseyum saat Laya melihat pada dirinya. Laya lalu melihat gulali pemberian Marco. Kini ia tidak bernafsu untuk menjilati gulali tersebut.
‘Hey, bodohnya aku. Kau pasti lapar Laya, bagaimana menurutmu kalau kita makan sebentar?’
‘Tapi aku baik-baik saja kok. Aku belum lapar’
‘Kau yakin?’
‘Ya,’
‘Hmm… baiklah.’
Sebuah kereta dengan seekor dommu yang lain lewat memotong jalan mereka. Tanpa tumpangan.
‘Laya, keberatankah dirimu kalau aku mengunjungi salah seorang temanku di kota ini?’
‘Tidak tuan Xëylon, aku tidak keberatan.’
‘Baiklah, terima kasih.’
Mereka kemudian menjauhi pusat kota dan berjalan berkelok-kelok menuju ke tempat yang lain dari sisi kota. Melintasi jalan-jalan dan lorong-lorong yang menghubungkan jalan yang satu dengan yang lain. Hingga kemudian Xëylon memasuki sebuah kawasan yang lengang. Tak banyak orang yang melintas di kawasan itu walaupun hari masih siang, beberapa perempuan berjalan-jalan di sana dengan lelaki yang menggandeng mereka dengan mesra. Sebagian lainnya tersenyum pada Xëylon dan menyentuh tubuh kudanya begitu melihat ia mendekat. Xëylon tidak memberi mereka perhatian. Hingga kemudian mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang kurang lebih sama dengan yang lainnya, namun letaknya terpojok. Bangunan itu juga lebih panjang dari rumah-rumah di sekitarnya.
Laya turun dari punggung Xëylon dan berdiri di sampingnya. Xëylon mengetuk pintu rumah tersebut empat kali dengan jarak sekitar 1 detik per ketokan, dan menunggu. Agak lama sehingga Laya merasa tidak akan ada orang yang akan mendengar bila ia mengetuk pintu seperti itu, namun, Laya salah. Terdengar suara bergeser dari dalam dan tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka,
‘Xëylon! Oh kemana saja tuan. Lama tidak berjumpa.’ seorang perempuan dengan rambut ikal merahnya yang panjang menyambutnya di depan pintu,
‘Maura, apa kabarmu?’ perempuan yang dipanggil maura itu walaupun terlihat sudah berumur, namun wjahnya masih menampakkan garis-garis kecantikan yang belum pudar.
Maura hanya tersenyum,
‘Mari masuk, masuklah bersama kami. Ayo sayang kau juga.’ sebenarnya Xëylon ingin membiarkan Laya menunggu di luar, namun, kemudian ia berpikir lagi kalau kawasan itu bukanlah daerah yang aman untuk gadis asing seperti Laya, dan Maura juga meminta Laya untuk masuk juga.
‘Tidak baik bagi gadis kecil seperti dirimu berada di luar sini.’ kata Maura. Sehingga kemudian mereka berdua memasuki rumah itu. Xëylon meminta Laya untuk duduk di sebuah bangku di pojok sementara ia berbicara dengan perempuan itu. Maura melihat pada Laya,
‘Sayang, lihatlah tubuh kurusmu?’
Laya terkejut, siapakah yang dipanggil Maura dengan kurus. Dirinya?
‘Oh Xëylon, kau tidak memberi anak ini makan yang benar ya? Dasar kau. Tunggu sebentar sayang.’ lalu ia berlalu ke belakang, sementara Xëylon hanya memandang dengan bingung.
Sebentar kemudian Maura telah kembali ke hadapan lay dengan membawa semangkuk makanan seperti bubur dan sekerat roti. Ia juag membawakan segelas besar air berwarna biru ke hadapannya.
‘Makanlah sayang, kau akan membutuhkan nya. Ini tidak begitu enak tapi juga tidak akan membuatmu lupa padaku.’ lalu Maura tertawa, suatu pujian halus untuk dirinya sendiri.
‘Tapi aku…’
‘Ah ah…’ Maura lalu mengeleng-gelengkan telunjuknya. Dari jauh Xëylon mengangguk pada Laya.
Laya lalu mencoba memakan apa yang disajikan baginya.
Hmmm… ini enak sekali. Maura sungguh merendah ketika mengatakan bahwa ini tidak enak. Laya tidak tahu apa nama makanan itu namun ia merasa sayang untuk menghabiskannya cepat-cepat. Dan roti itu juga terasa nikmat.
‘Lihat kan. Kau tahu, dulu Xëylon kecil dapat menghabiskan bermangkuk-mangkuk makanan itu. Tapi sayang, sepertinya ia sudah melupakan makananku sekarang.’ katanya sambil melirik pada Xëylon.
‘Bukan begitu Maura.’ bantah Xëylon.
‘Baiklah sayang, maaf, tapi aku dan tuan Xëylon permisi ke belakang dulu. Kau nikmati sajalah waktumu dengan makanan itu. Jangan terburu-buru.’ kata Maura pada Laya dengan sedikit berbisik. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya.
Laya tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan di belakang sehingga Laya terus saja menikmati makanannya dan berpura-pura saja untuk memperhatikan sekeliling tempat itu dari tempat ia duduk. Namun sesekali tubuh maura dapat terlihat sekilas dari balik dinding. Adakalanya Maura terlihat seperti gusar atau membantah Xëylon hingga menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Xëylon lalu memegangi pundak Maura dan mengelusnya.
Makanan di hadapannya telah habis dan minuman biru itu juga sangat segar di kerongkongannya. Laya kembali melirik ke Maura. Ia tidak dapat melihat Xëylon, namun ia dapat melihat tangan Xëylon menyerahkan sebuah kantung kain kecil dan mengeluarkan isinya. Laya hanya dapat melihat beberapa koin yang sepertinya emas berpindah dari tangan Xëylon ke tangan Maura. Maura bersikap seperti menolaknya namun Xëylon memaksa dan menggenggamkan koin-koin tersebut ke dalam tangan Maura. Lalu kemudian Maura meletakkan satu tangannya di dada Xëylon sementara tangan yang lain masih menutup mulutnya. Ia terlihat sedih.
Lalu Maura dan Xëylon kembali ke ruangan depan di mana dirinya berada. dan,
‘Sayang, bagaimana makananmu?’
‘Enak sekali bu, terima kasih.’ Maura tersenyum.
‘Baiklah Laya, kita harus cepat ke tempat Orakel.’
‘Kalian yakin tidak berniat untuk tinggal semalam saja di sini dulu?’
‘Maura.’
‘Hey, aku hanya bertanya. Ya ya ya baiklah. Kalian pergilah dan berhati-hatilah.’ lalu Maura menghampiri Laya,
‘Anak yang manis sekali, senang sekali bertemu dengan dirimu. Jaga dirimu baik-baik Xëylon. Dan kau juga harus menjaganya ya.’ pintanya pada Xëylon.
Xëylon hanya mengangguk pelan lalu keluar dari rumah tersebut. Laya mengikuti dari belakang.
‘Ayo naik Laya.’ Laya menuruti Xëylon dengan naik ke atas punggung kudanya. Xëylon kemudian berbalik lagi menghadap Maura.
‘Kau juga jaga diri Maura. Keadaan sering kali tidak aman sekarang.’
‘Ah, apalah yang bisa diambil dari perempuan tua ini. Tak ada. Dan kalaupun aku harus mati, aku sudah siap.’
‘Hey!’ Maura tersenyum,
‘Sudah, kalian pergilah, aku tidak akan apa-apa. Berhati-hatilah ke sana, mungkin sang Orakel telah menanti kedatangan kalian.’
‘Baiklah,’ Xëylon mengangguk, lalu mulai berjalan menjauhi bangunan itu. Laya masih sempat melirik ke belakang, Maura masih ada di depan pintu dan melambai padanya, Laya membalasnya dengan senyuman hingga kemudian maura kembali masuk ke dalam rumah.
‘Jadi, bagaimana makanannya tadi?’ tanya Xëylon pada Laya.
‘Itu enak sekali.’ Laya senang mengatakannya pada Xëylon.
‘Dan aku senang kau menyukainya. Dan dia tidak bohong, aku dapat menghabiskan bermangkuk-mangkuk pakia itu.’
‘Ya, aku sangat yakin itu.’ sambung Laya.
Xëylon lalu mempercepat langkahnya. Mereka melintasi keramaian dan menuju suatu jalan arah keluar dari kota. Dari jauh Laya dapat melihat sebuah bangunan seperti menara yang besar yang seakan terpahat menyatu dengan bukit granit besar di belakangnya., Istana kerajaan Aragulli. Istana yang bangunannya juga sama seperti yang lainnya, didominasi dengan warna putih granit dan bermacam kristal besar yang menempel di dindingnya. Istana itu terlihat sangat tinggi dan kokoh. Terdapat jalan menanjak yang melintasi bukit di sisi-sisinya.
‘Itulah istana Aragulli.’ kata Xëylon.
‘Wah, besar sekali…’ kata Laya seperti berbisik.
‘Ya memang besar.’
‘Di sanakah Orakel temanmu itu tinggal tuan Xëylon?’
‘Tidak, kita tidak akan ke sana. Istana itu adalah istana raja Araguli. Orakel tidak tinggal di situ, ia memiliki istananya sendiri, kuilnya sendiri. Kita akan berbelok mengambil jalan yang lain untuk ke istananya, nah nanti di sana kau akan ….’ Xëylon masih membicarakan sesuatu sambil berjalan, namun Laya tidak menangkapnya lagi. Matanya terus melihat ke arah istana Aragulli yang megah.

* * *

Rabu, 15 September 2010

Ģīlīŗaņ Şcoŗpīo Beŗķīşaħ



IV
Ðī maņa? Şīapa?


Ļelaki itu duduk di samping Laya.
Dengan kemeja yang sewarna langit hari ini, lengannya di gulung sekenanya hingga ke siku. Ia berbadan gempal dengan tangan dan punggung yang kokoh. Kulitnya sedikit gelap namun bersih. Wajahnya tidak tampan namun enak dilihat. Di cambangnya ada rambut-rambut kecil yang baru tumbuh setelah mungkin dicukur dua hari lalu. Lelaki itu tidak bergerak dari duduknya. Pandangannya lurus ke depan, matanya terlihat bening dan tulus. Ada sebuah senyum yang tak terlalu kentara menggantung di bibirnya.
‘Ayah.’ lelaki itu menolehkan kepalanya, dengan pandangan yang masih terasa tulus namun senyum yang makin jelas.
‘Ya sayang?’
Laya menghambur pada lelaki itu dan serta merta memeluknya. ‘Aku kangen ayah’. Lelaki yang dipanggil ayah itu membalas erat pelukan anaknya.
‘Ya, ayah juga kangen samamu.’ Laya melepas pelukannya dan menatap pada ayahnya, sekejap, lalu ia kembali memeluknya. Ada rasa lega yang terbebaskan dalam dadanya.
‘Ayo,’ ayah bangkit dari duduknyan dan membantu Laya untuk berdiri. Laya menuruti ayahnya walau sebenarnya ia masih ingin memeluknya. Ia mendongak melihat kapada ayah yang juga melihat padanya dengan senyum yang masih tetap sama. Angin memainkan rambut ayah yang memang berpotongan berdiri. Hari yang cerah, dan sinar matahari tidak terasa panas dirasa.
‘Ayah, kita kemana?’
Ayah tidak menjawab, namun ia menunjuk ke depan. Laya melihat ke arah yang ditunjuk. Di sana seseorang duduk di atas ayunan yang terpasang pada dahan sebuah pohon kesemek yang rindang dan besar seakan ia telah berusia ratusan tahun.
‘Ibu?’ mata Laya membesar, ia sumringah.
‘Bukankah ibumu sangat cantik?’ tanya ayah padanya, namun matanya masih menatap ke depan pada ibu. Laya mengiyakan. Di sana, ibu yang telah melihat mereka dari kejauhan melambaikan tangannya. Laya segera melepas genggamannya dari ayah dan berlari ke arah ibunya. Angin terasa sekali menerpa wajahnya. Ia terus berlari ke arah ibu melalui jalan setapak berbatu putih. Kulit putih ibu terlihat cerah kontras dalam gaun merahnya.
Begitu mencapai ibu ia lalu duduk di ayunan di sebelah ibunya,
‘Ibu, nyanyikanlah lagu bintang-bintang untukku?’ pintanya,
Ibu tersenyum, tangannya terangkat dan membelai kepala Laya namun ia tidak melakukan pinta Laya. Sementara ayah hanya berdiri memandang mereka berdua tak jauh dari situ. Ayunan masih mengayunkan mereka berdua. Laya lalu menghentikan gerakannya.
‘Laya senang sekali di sini. Bersama ibu dan ayah.’ Ia lalu memeluk ibunya. Ibu membalas pelukannya namun berdiri.
‘Aku ingin bersama kalian selamanya, aku tidak ingin kalian pergi.’
‘Kami tidak pergi sayang, kami selalu bersamamu?’ balas ibu.
‘Kami akan selalu ada bersamamu.’ sambung ayah.
‘Berjanjilah.’
‘Ayah janji.’ kata ayahnya, pandangannya masih tulus dan membebaskan. Lalu sosoknya seperti samar perlahan dan semakin samar.
‘Ayah,’ suara Laya tertahan pelan. Matanya mulai berkaca. ‘Ibu, berjanjilah, berjanjilah kalau ibu tidak akan meninggalkanku?’ tangannya masih menggenggam tali ayunan, ibu mengangguk sekali. Ia memegang pipi laya dengan kedua tangannya, rambutnya berkibaran ditiup angin. Lalu sosoknya juga sama seperti ayah, samar perlahan lalu menghilang. Air mata Laya lalu jatuh,
‘Kalian berjanji.’ Ia tertunduk kemudian, suara dedaunan pohon kesemek saling bergesekan karena angin terdengar mendominasi.
‘Kenapa kakak pergi?’
Laya mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping kirinya,
‘Kenapa kakak pergi meninggalkan kami?’ ulang suara itu lagi, Ali. Laya menghapus air matanya dengan lengan kanannya.
‘Kakak harus pergi.’
‘Kami kesepian sejak kakak pergi. Elias dan aku.’ Ali tertunduk dengan muka murung. Laya turun dari ayunannya dan mendekati Ali.
‘Kakak harus pergi,’ ia lalu ikut duduk di samping Ali, ‘dulu kalian kan bisa hidup tanpa kakak di rumah, sekarang kalian pasti bisa seperti itu lagi.’
‘Tapi tidak sama.’ Ia masih tertunduk. ‘Ayah berbuat jahat ya?’
Deg! Jantungnya berdetak kencang. Laya terdiam, ia memeluk Ali di sampingnya dan menyandarkan kepalanya di kepala Ali.
‘Maukah kakak membawa kami bersama?’ tanya Ali.
‘Kakak tidak bisa membawa kalian, seandainya saja kakak bisa.’ Ali diam, Laya lalu menyadari kalau ada yang berbeda pada diri adiknya itu, tubuh Ali kemudian sama seperti ayah ibunya, perlahan-lahan samar lalu menghilang akhirnya. Tiba-tiba sinar matahari mencapai dirinya, Laya menengadah ke atas, rindangnya dedaunan kesemek ternyata menyingkir menyilakan matahari menunjukkan kuasanya pada Laya. Sinarnya yang semula bersahabat kini mulai terasa panas, namun Laya tak kuasa memalingkan wajahnya ke arah lain, ia hanya bisa memejamkan matanya menghindari silaunya cahaya, sangat silau kemudian, hitam.
Laya membuka matanya. Lamat-lamat.
Pupil matanya masih tertutup dan berusaha untuk beradaptasi dengan terangnya sinar matahari di atas kepalanya. Beberapa kali ia terbatuk dan muntah karena air yang masih tersangkut di tenggorokannya.
Dirinya dapat bernafas kembali sekarang dengan normal dan tenang. Ia terbaring di atas tanah yang keras dan kering, bukan kelilingan air yang menyesakkan dada dan kepala. Matanya masih kabur, namun ia dapat melihat dedaunan di hadapannya, beberapa burung yang terbang atau beberapa bajing yang berloncatan di dahan pohon. Kepalanya masih sangat pusing setelah apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya terasa seperti layaknya kain basah yang dipilin dan diperas. Sendi-sendinya terasa sakit. Tubuhnya telentang dengan satu kaki yang tertekuk. Laya mencoba menggerakkan tangannya, bisa, walaupun sedikit. Ia coba menggerakkan kakinya, bisa, walaupun masih kaku dan sakit. Masih terbaring, ia memalingkan wajahnya ke samping, menggerakkan tangan kirinya ke atas lalu melewati sisi kanan tubuhnya, ia kemudian mencoba bangkit ke arah kanan dengan kekuatan tangan-tangannya yang menopang pada tanah. Menggerakkan kakinya perlahan dan mencoba untuk bangun dan duduk.
Mungkinkah aku bermimpi tadi? Sekarang aku ada di mana? Satu yang kutahu, ini bukanlah hutan kecil yang kumasuki tadi siang, apalagi sungai bawah tanah yang menenggelamkanku hingga aku tidak bisa bernafas. Dan… ya ampun kedua makhluk aneh tadi. Di mana mereka ? Di mana aku ini?
Dirinya masih mencoba untuk duduk sambil menata pikirannya , menerka-nerka di mana dirinya berada kini. Dipandanginya sekeliling. Jejeran pohon, pohon, akar yang menyembul dari tanah, rontokan dedaunan kering coklat kehitaman, pohon, beberapa kumbang yang berterbangan pada bunga hutan dan pohon. Dia berada di sebuah tempat terbuka di tengah hutan yang lebat.
Dimanakah ini? mimpikah ini? Lalu ia mencubit pipinya sendiri. Sakit.
Ini tidak mungkin mimpi, aku masih dapat mengingat jelas semua yang kulihat, dan ini bukan tempat dimana aku berada sebelumnya. Di mana ini sebenarnya? Bagaimana ia dapat berada di sini. Sebentar lalu ia seperetinya masih ada di sungai di bawah tanah tapi kini ia ada di mana? Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?
Air yang masuk ke dalam telinganya membuatnya agak susah untuk mendengar dan… kembali ia mengusap matanya dan memegang kepalanya yang masih sangat pusing. Dan sesaat ia kembali terdiam.
Pusing ini? Aduuh… sakit sekali kepalaku.
Dilihatnya ke belakang, ada sebuah bangunan batu dengan pintu terbuka yang berbentuk seperti sebuah kuil kecil, atau gua batu yang dipahat sedemiklian rupa menyerupai kuil? Berusaha ia mendongak untuk melihat lebih dalam ke dalam gua batu itu. Yang ternyata memiliki tangga mengarah turun setinggi kira-kira entah berapa meter jauhnya menuju ke sebuah… entahlah gelap sekali di dalam sana. Namun terdengar seperti suara air.
Mungkinkah itu sungai bawah tanah tempat aku berada tadi? Kembali pada tempatnya kini, ada sesuatu yang aneh mengelilingi tempatnya berpijak.
Apakah itu…?
Laya baru menyadari kalau ada lingkaran besar berwarna biru yang – ia mengikuti ke mana arah lingkaran itu dengan pandangannya – mengelilingi tempatnya berdiri dan kuil itu. Terlalu banyak yang mengisi pikirannya dalam waktu yang dirasanya singkat. Padang ilalang, hutan kecil, sumur, air, makhluk-makhluk aneh, kuil dan kini lingkaran biru.
Apakah semuanya nyata? Dan di mana aku sebenarnya?
Laya mencoba berdiri dan kembali mengamati hutan itu. Namun kepalanya yang masih pusing memaksanya untuk duduk kembali.
Pasti. Ini bukan hutan yang sama yang kumasuki siang tadi. Ini hutan yang besar. Hutan ini terlihat sangat tua dan terasa aneh. Ada bunga-bunga yang berwarna sangat semarak dan berbentuk asing di sana, daun-daun besar yang tumbuh dari sebuah pohon, akar yang menjulang dan panjang menjulur rmembentuk sosok-sosok aneh atau suara-suara burung yang terdengar sangat asing. Tapi di sini terasa sangat damai dan berwarna. Bukan. Ini bukan hutan kecil dimana aku berada tadi. Dan tidak ada sumur yang menelanku. Ini pasti tempat lain. Tapi siapa yang membawaku ke sini?
Lalu di bawah, ia melihat pedang patah miliknya. Pedang itu tersembunyi di balik dedaunan kering di luar lingkaran biru. Ia pasti terlempar bersamaan dengan diriku yang terlempar kemari. Laya mencoba berdiri dan mengambil pedang itu. Ia kembali melihat lingkaran itu.
‘Lingkaran apa ini?’ lalu,
SRRRREEEK! Brrrrhm….
Cepat mata Laya mencari apa yang menyebabkan suara tadi. Laya berlari ke arah datangnya suara yang diyakininya. Ia yakin ada di balik sebuah pohon yang besar di hadapannya. Ketika ia melihat ke sana, tak ada siapa-siapa di sana. saat ia berbalik, tiba-tiba ia seperti melihat sesuatu di sana. Seseorang.
Layaaaa…
Suara itu, seperti suara yang kukenal.
Layaaaa, kemarilah…
Ibu! Itu ibu! Ia yakin sekali itu suara ibunya. Terus ia mengejar ke arah datangnya bayangan tadi.
Ibu, itu memang dia, ia memakai blus kuning yang sering dikenakannya.
‘Ibu! Ibu di mana?’ ia memanggil ibunya, berharap agar suaranya dapat didengar.
‘Ibu di mana? Ini Laya. Ibu di mana?’ kembali ia memanggil agar ia dapat menemukan jejak ibunya.
‘Ibu, Laya ingin ikut ibu. Ibu di mana?’ ia mulai cemas, sosok bayangan yang dilihatnya tadi tidak ditemukan lagi. Bayangannya kembali kepada kenangan antara dirinya bersama ibunya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Shreeeek! Kembali terdengar suara. Dirinya telah jauh kini dari tempat di mana ia sadar tadi.
Sekilas tampak bayangan lewat. Tidak kelihatan rupanya namun jelas itu seperti seorang permpuan. Blus kuning yang dipakainya dan gerai rambut ikal panjangnya jelas terlihat oleh Laya.
‘IBU! INI LAYA, IBU TUNGGU!’ kembali ia mengejar dan bayangan itu kembali hiulang di antara rimbunan dedaunan. Lalu kembali terdengar suara.
Breeeeeeikkk…!
Apa itu?Ibu kau di mana? arah suaranya datang dari belakang.
Dia hanya melihat daun-daun bergesekan dan bergerak menyeruak. Ada satu sosok yang bergerak cepat di balik semak. Cepat sekali sehingga ia tidak dapat menangkap sosok apa itu tadi.
Shreeek! Grrrrrr….
Suara itu kembali terdengar, bahkan seperti bukan itu saja, suara yang sama kini terdengar dari arah yang lain lagi. Laya berpaling, matanya menangkap sesuatu yang bergerak tak jauh dari dirinya tapi ia tidak bisa memastikan itu apa. Semuanya tertutupi oleh rimbunan daun dan ranting.
Braak!
Ada sosok lainnya dari arah berlawanan. Sosok yang bergerak sama cepatnya. Dirinya mulai cemas.
Ibu, itukah dirimu? Mengapa Ibu bisa bergerak secepat itu?
Perlahan matanya dapat menangkap sesuatu yang bergerak perlahan. Lalu telinganya mendengar seperti suara menggeram. Ia benar-benar cemas kini. Bayangan itu berwarna keperakan dan berjalan perlahan mengitari di antara semak-semak di hadapannya. Ia palingkan wajahnya. Bayangan yang satu lagi juga terlihat sama. Terkadang ia diam, terkadang ia bergerak, terkadang ia menghilang. Namun ia tahu bayangan itu sedang memperhatikan dirinya.
Apa itu? Apa mau mereka? Ada dua. Apakah masih ada yang lain lagi, ada berapa banyak mereka semua?
Telinganya yang kemasukan air juga membuat dirinya bingung sehingga tidak dapat menentukan di mana pastinya makhluk-makhluk itu bersembunyi. Matanya masih berusaha mencari-cari apa yang bergerak sangat cepat itu dari balik semak. Lalu ia teringat dengan dua sosok bermata hitam besar berambut panjang yang mengerikan yang menarik dirinya di dalam sungai bawah tanah lalu.
Hah! Mungkinkah itu mereka? Dua makhluk air aneh itu?
Ia kemudian berdiri, mencoba berlari dari tempatnya berada. Pikirannyapun dipenuhi dengan beragam kilasan dan ingatan tentang banyak hal. Pikiran-pikiran buruk tentang kamar, dirinya dan pamannya kembali terulang. Lalu ada ibu di sana. Ibu yang sedang tersenyum memakai blus berwarna kuning.
Ibu tadi ada di sana, sekarang engkau di mana? Ibu…
Kini air matanya sudah jatuh. Ia ketakutan. Dan bayangan-bayangan itu seperti mengikutinya. Ia dapat mendengar suara-suara dari beberapa sudut di belakangnya sedang menginjak ranting dan daun kering. Dan derap-derap beraturan seperti kaki-kaki yang berlari. Ketika Laya berhenti mereka ikut berhenti, ketika Laya berjalan walau perlahan, mereka juga bergerak perlahan. Mereka mengikuti.
Kemana aku harus pergi? Aku tak tahu hutan ini.
Hutan itu sangat luas, dirinya terus berlari ke arah mana saja yang dia rasa perlu. Perasaannya masih mengatakan kalau ada yang mengikutinya dari belakang. Bayangan-bayanagan itu. mereka ikut mengejar dirinya. Suara-suara kaki berlari itu masih terdengar olehnya. Dan itu bukan dirinya.
Dirinya ketakutan, kembali melintas di benaknya beragam kilasan yang pernah dilaluinya. Dan kali ini berputar semakin kencang di hadapannya. Wajah pamannya, wajah ibunya saat ia terbaring tak bernyawa, ibunya yang memangkunya dan bercerita tentang putri dan raja. Elias, sekolahnya. Boneka kelinci lusuhnya. Darah dari selangkangannya. Perasaan yang mengatakan ia tak mau lagi mengalami saat-saat itu. Semuanya seperti berputar terus dan terus di hadapannya. Air matanya masih mengalir. Ia mencoba berlari dengan kakinya yang telanjang.
Tuhan tolonglah aku, selamatkan aku dari apapun yang mengejarku.
Sementara dirinya sendiri masih terasa lemas, perutnya berbunyi karena lapar. Tapi ia harus terus berlari menghindari entah apa itu yang mengejarnya. Yang jelas ia tidak mau berada di dekat mereka.
Hingga …
Tuk!
Kakinya menyenggol sebuah akar pohon yang timbul hingga dirinya terjatuh. Dengkulnya berdarah dan memar. Perlahan ia mencoba berdiri sambil menahan sakit. Namun bulu di tengkuknya lalu berdiri seiring ada suara yang menyeringai di belakangnya.
Ia tahu ada sesuatu yang salah yang sedang menantinya di belakang. Perlahan ia mencoba melihat. Ketika ia berbalik dirinya telah mendapati tiga ekor serigala yang memiliki taring yang panjang dengan liur yang menetes keluar sedang melihat lapar ke arah dirinya. Mereka menggeram. Kuku kaki mereka hitam dan panjang yang terjulur keluar dan siap siaga untuk menerkam dan mencabik dagingnya. Hidung mereka mengembang dan mengempis karena nafas yang mengendus cepat seakan bau dirinya adalah bau daging segar yang paling lezat yang takkan mereka dapatkan lagi dalam waktu yang lama. Laya akan menjadi santapan yang nikmat bagi mereka.
Grrrhh… seakan mereka menggeram saling bersahutan satu dengan yang lainnya. Laya sangat ketakutan kini. Ia tidak berani bergerak, ia tahu sedkit saja bergerak akan sangat bahaya baginya, walaupun sebenarnya, diam atau tidak, serigala-serigala itu akan tetap memangsanya.
Badan mereka ternyata lebih besar daripada yang Laya perkirakan selama ini apalagi bagi dirinya yang masih berusia dua belas tahun. Tapi mereka bukan serigala yang biasa dilihatnya di televisi yang berwarna coklat keemasan atau hitam putih seperti serigala salju, mereka berwarna abu-abu keperakan yang mengkilat, atau memang ada species serigala yang berwarna seperti itu? entahlah, dan ekor mereka pendek podol seperti terpotong. Telinga mereka tegak berdiri dengan sedikit bulu-bulu yang lebih panjang dari yang lainnya terdapat di puncak telinga.
Dan mata mereka, mata mereka berwarna putih dengan garis-garis urat merah namun tak memiliki hintik hitam apapun di sana dan terlihat sangat kejam bagiku.
Setidaknya itulah yang tampak oleh Laya. Satu hal yang pasti, mereka telah sangat siap untuk menerkam dirinya yang tak mampu bergerak lagi.
‘Hhhhh, pergi kalian… husss huusss. Biarkan aku. Hhhhh.’ Laya mencoba mengusir mereka dengan nafas yang tinggal satu-satu. Tangannya menyabetkan pedang patah itu pada mereka, sama seperti sewaktu ia melakukan itu pada makhluk-makhluk air. Sementara matanya tetap menatap pada para serigala itu. Tapi sepertinya hal itu tidak membuat para serigala untuk mundur, seperti magnet mereka malah menyalak dan semakin tertarik untuk mendekat.
‘Hrrrgggh…’
Sambil menggeram, secara perlahan mereka bergerak membentuk lingkaran untuk mengepung Laya. Terkadang mereka seperti berniat untuk maju dan kemudian mundur lagi dan maju lagi. Seperti ada sesuatu yang menyuruh mereka untuk menahan nafsu mendekat. Tapi sepertinya mereka berhasil memastikan bahwa korban mereka sudah tidak berdaya dan takkan lari kemana-mana. Laya terkepung. Di belakangnya terdapat sebatang pohon yang menahan lajunya, dan kini ia menempatkan dirinya seakan-akan sebagai papan sasaran yang siap di lempari pisau oleh orang-orang.
Tepat di saat salah satu di antara mereka hendak menyerangnya, tiba-tiba terdengarlah suara nyaring seperti ringkikan yang diiringi dengan derap kaki, seperti kaki kuda yang mengagetkan serigala-serigala itu..
Hingga…
BRUK!! PLAK!
Dan entah terkena serangan dari mana, tiba-tiba seekor serigala terlempar jauh dari tempatnya semula diikuti oleh serigala kedua ke arah yang berlawanan. Laya hanya melihat sekelebatan sosok yang menyebabkan kedua serigala tersebut tak berkutik. Nampaknya seperti seorang penunggang kuda yang duduk di atas kuda besar dan gagah yang menghalau para serigala dengan pedangnya. Tapi ia tidak melihat lebih lama karena ia sibuk menutup matanya dari pertarungan yang sedang terjadi. Ia berteriak-teriak ketakutan.
Penunggang kuda dan serigala itu masih bertarung di dekatnya, serigala ketiga yang melihat kedua serigala temannya telah dapat diatasi maka ia merasa tidak senang dan mencoba fokus dengan tujuannya semula, menerkam Laya. Dari hadapan si penunggang kuda, ia berbelok arah menuju ke arah Laya.
Hup!
Serigala itu melompat pasti ke arahnya. Laya tak sanggup melihat makhluk itu. Serigala itu bergerak tepat di hadapannya, gigi-giginya sudah sangat siap untuk mencabik-cabik tubuhnya. Laya memekik dan masih memalingkan kepalanya menghindari serangan walaupun ia merasa itu tidak mungkin. Namun sebelum Laya sadar apa yang akan menimpanya, sebuah bayangan bergerak cepat disertai dengan hentakan kuat tepat di kepala dan dada serigala ketiga yang segera menghentikan langkahnya untuk menyerang. Ia masih belum menyadari situasinya namun untuk sementara kembali Laya aman.
Serigala ketiga itu kini tak jauh berbeda dengan kedua temannya. Terjengkang jauh dari tempat Laya jatuh. Si penunggang kuda itu sendiri dapat mengambil nafas sejenak dari jeda pertarungan itu. Perlahan Laya hanya melihat kalau penolongnya itu adalah sesosok penunggang kuda yang dapat bergerak cepat, yang,…
Ya ampuuuun… apa dia?! Mata laya membelalak meyakinkan benarkah yang dilihatnya.
Tapi kedua serigala yang lain ternyata dengan cepat kembali dan sigap. Mereka mencoba menyerang penunggang kuda itu sekarang. Si penunggang kuda yang telah siap kembali, dengan sigap mencoba menghindar serangan si serigala hingga akhirnya menebaskan pedangnya yang membuat kedua serigala menjadi ragu untuk menyerang dan mendekat pada Laya.
Lalu kuda penolongnya itu berdiri dengan kedua kaki belakangnya seolah hendak memperingatkan serigala-serigala itu untuk pergi menjauh dari Laya dan itu berhasil. Kaki-kakinya berderap menimbulkan debu di sekitar mereka. Dan Laya melihat hal itu dan … penunggang kuda itu.
Apa itu …? Dia …??
Serigala-serigala itu pergi berlari menjauh, menghilang di antara rerimbunan meninggalkan Laya dan penolongnya. Hingga kemudian sang kuda penolong itu berbalik ke arah Laya dan jelaslah sosok sebenarnya ia.
Kau …?!!
Laya mundur dari tempatnya. Ia semakin terpojok kini di batang pohon itu. Dirinya masih tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Laya hanya menatapnya dengan terpaku dengan pandangan matanya sendiri.
Apakah ini nyata atau tidak. Siapakah dia? Atau apakah engkau? Apakah kau nyata adanya. Kau…
Kini ia tidak yakin apakah serigala yang menyerangnya atau sosok di depannya yang harus di waspadainya sekarang.
Sosok penunggang kuda itu kini berdiri di hadapannya.
Sosok penunggang kuda yang… ternyata kuda itu sendiri. Ia membelakangi sinar matahari hingga tubuhnya membentuk siluet di hadapan Laya, tetapi Laya masih dapat melihat jelas bagaimana ia sebenarnya.
Tapi itu bukanlah semuanya, itu hanya bagian bawahnya saja. Tak ada kepala seekor kuda di sana. Yang ada sesosok lelaki yang... pinggangnya menyatu dengan badan seekor kuda yang seharusnya bagian dari sebuah leher, bagian seekor kuda, leher ke atas sosok itu adalah… apa yang hendak dikatakan oleh benaknya kini, ia sendiri juga tidak yakin. Dirinya masih berusaha merangkai kata-kata untuk menyusun kalimat yang benar mengenai sosok apa yang sedang berdiri di hadapannya.
Lelaki itu menatap tajam ke arah Laya kini, menatap serius dengan kerisauan. Tangannya terjulur ke hadapan Laya. Sungguh Laya terperangah dengan apa yang ada di hadapannya. Ia seorang lelaki kuda.



‘Ħah! Sosok centaur, aku tahu!
Terima kasih telah memasukkanku ke dalam ceritamu Scorpio.’ Sagitarius segera berteriak karena ada karakter dirinya masuk ke dalam cerita Scorpio.
‘Ya, Sagi, tapi bukan sepenuhnya seperti dirimu.’
‘Apa maksudmu? Centaur is centaur.’
‘Iya. Tapi tetap saja, ini bukan sepenuhnya dirimu.’ Scorpio lalu melanjutkan ceritanya.
‘Hey, di mana pun cerita itu berasal, di mana pun kisah itu diceritakan, seperti yang kubilang sosok centaur tetap centaur. Tak ada yang bisa mengubah itu.’
‘Ya ya baiklah, tapi bisakah kau diam agar aku dapat melanjutkan ceritanya?’
Sagitarius diam, kaki depannya mengetuk-ngetuk tanah pertanda kesal.


Ļaya menatap lelaki kuda itu lekat.
Pada awalnya ia merasa takut, tetapi kemudian ia merasa terbiasa dengan pandangannya.
‘Ayo naiklah ke punggungku!’ Laya hanya terdiam.
‘Ayo, cepat! Waktu kita tak banyak gadis kecil!’ Laya masih terdiam terperangah.
Hingga kemudian Lelaki kuda itu mencengkram tangan Laya dan menaikkannya ke atas punggungnya hanya dengan satu tangan.
‘Kita belum aman dari mereka. Sekarang berpegang eratlah padaku.’
Laya kini berpegang erat pada lelaki kuda itu di atas punggungnya. Tangannya mencengkeram bukan leher tetapi pinggang sang lelaki kuda. Ia tidak dapat leluasa memegang pinggang itu karena di sana juga ada sebuah busur yang di sandang sebagai senjatanya. Laya kemudian di bawa berlari mengikuti arah yang di pilih oleh penolongnya itu. Sungguh, ia dapat berlari kencang sekali. Juga dapat menghindari ranting dan pepohonan yang melintasi jalan mereka.
Bila lelaki kuda itu sigap, tidak halnya dengan Laya, walaupun ia berada di belakang badan sang lelaki kuda, tetap saja ia tidak dapat menghindari ranting dan semak yang terasa tajam mengenai tubuhnya. Ujung dan punggung bajunya koyak tersangkut oleh ranting-ranting itu. Tapi tetap saja hal itu tidak berarti apa-apa bagi lelaki kuda. Ia terus saja berlari berusaha menyelamatkan mereka berdua.
‘Mereka tidak akan begitu saja melepaskan buruan mereka. Kau tidak dapat melukai mereka hanya mengandalkan pisau kecil itu. Mereka akan kembali.’
Betul saja, ketiga serigala itu kini sudah siap siaga lagi. Mereka telah ikut berada di belakang, menyeruak menghindari akar dan semak pepohonan mengejar lelaki kuda dan Laya. Laya tak menyangka kalau sedari tadi mereka hanya bersembunyi dan menunggu waktu yang tepat untuk dapat kembali dan menyerang lagi.
Lelaki kuda terus saja berlari mencoba menghilang dari serigala-serigala itu, walaupun sebenarnya ia tahu hal itu sepertinya tidak mungkin. Mereka tidak akan dapat menghilang begitu saja tanpa mangsa mereka. Hingga akhirnya sampai di tempat yang sedikit terbuka, langkah lelaki kuda terhenti dan ia berbalik arah dengan sigapnya. Sungguh ia sigap. Ia dapat menjaga keseimbangannya dengan sangat baik sekali padahal ia membawa perlengkapan perangnya dan tentu saja Laya yang berada di atas punggungnya.
Ia berbalik dan langsung menuju ke arah serigala-serigala itu dengan pedang di tangannya. Tentu saja serigala-serigala itu tidak menyangka akan serangan dadakan itu. Mereka gugup dan mencoba untuk berhenti dan berbalik arah tetapi tak sempat. Salah satu dari mereka terkena sabetan pedang sang lelaki kuda dan yang lain untungnya dapat menghindar. Laya tetap berada di atas punggungnya sambil menutup mata karena takutnya. Salah satu serigala mencoba membelakangi lelaki kuda itu tapi malang baginya, perbuatannya diketahui. Kaki belakang sang lelaki kuda langsung bergerak menyerang, menendang dada dan kepala si serigala hingga ia terpental jauh dari teman-temannya. Tapi ternyata yang dua lagi juga cukup sigap, saat mereka melihat temannya terpental mereka langsung menyerang lelaki kuda dan mencoba melukai dengan taring atau cakar yang mereka punya.
‘Grrrrghh….’
Lelaki kuda tak sempat mengelak dengan baik. Kaki depannya terluka oleh sabetan cakar salah satu penyerangnya, beruntung serigala yang lain sempat dihindari sehingga luput melukainya, walau hampir saja merobek betis Laya yang terbuka.
Laya menutup matanya, ia bersembunyi di balik punggung sang lelaki kuda. Tangannya masih memegang erat pinggang penolongnya itu.
‘Arrgggh…’ Lelaki kuda itu mengerang menahan perih pada kaki depannya.
‘Cukup sudah!’
Ia berbalik dan balas menyerang mereka. Kedua serigala itu juga sudah siap menyerang kembali. Seperti di komando, dalam satu hentakan. Ketiga pihak yang bertarung bergerak bersamaan.
‘Hiyaaa!’
‘Rrrgh…’
Lelaki kuda mengayunkan pedangnya, salah satu serigala dapat menghindar dari tebasan. Tapi …
CESSS… BRUUK!
Malang bagi serigala yang lain. Lelaki kuda itu dapat menebas putus kepalanya dan kini kepala itu menggelinding berpisah dari badannya dan berhenti tepat di bawah kaki temannya, serigala pertama yang terpental karena tendangan lelaki kuda.
Laya terpekik. Ia dapat melihat darah mengucur deras keluar dari leher yang terpisah dari badan serigala itu, menggenang di bawah kepala. Kepala itu masih bergerak, dan mata dan lidahnya masih berkedip dan bergerak seakan masih belum menyadari bahwa kini ia telah terpisah dari badannya.
‘Hiyaaa….!’ Lelaki kuda itu berteriak, mencoba menggertak.
‘Majulah kalian!’
‘Grrrrrrh…’
Kedua serigala yang tinggal masih menggeram. Mereka masih belum mau pergi dari tempat pertempuran.
‘Ayo maju. Hiyaa…!’ Kali ini ia berteriak sambil mengangkat kedua kaki depannya. Dan malang, Laya terjatuh dari dudukannya.
Lelaki kuda itu gugup. Ia berusaha menjangkau Laya kembali tetapi ia juga terdesak oleh para serigala. Laya segera bangun dari jatuhnya dan merapat pada sebuah batang pohon. Kini dihadapannya lelaki kuda dengan pedangnya dan kedua serigala besar yang siap menerkam mereka berdua. Tetapi kemudian kedua serigala itu saling menjauh, seperti mengisyaratkan satu orang satu buruan. Lelaki kuda tak dapat berbuat banyak ia mencoba mundur untuk lebih mendekat kepada Laya tapi ia juga sadar kalau ia tak dapat bergerak cepat untuk kedua serigala demi menjaga Laya. Hingga kemudian. Serigala yang di kiri mencoba menerkam dan mengakibatkan lelaki kuda mengarah padanya dan menyabetkan pedangnya. Tapi keliru, itu hanya trik dari serigala. Ia hanya menggertak agar perhatian si lelaki kuda terpecah. Serigala yang di kanannyalah yang bergerak cepat dan menggigit kaki belakangnya. Lelaki kuda itu berteriak dan ia mencoba mengibaskan kakinya dan pedangnya untuk melepaskan gigitan. Laya terbuka. Serigala yang di kiri kini merangsek maju dan siap menerkam Laya.
‘Lari!’ lelaki kuda masih sempat berteriak padanya.
‘Lari! Selamatkan dirimu.’ Ia terluka tapi masih menyabetkan pedangnya ke kanan dan kiri untuk kedua serigala.
Serigala semakin jarak terkamnya.
‘Larilah! Aku masih…’ Laya bingung, giginya menggemeretak tak tentu. Ia tak lagi menghitung. Hingga ia rasakan tangannya bergetar. Pedang itu bergerak.
‘Ghoooarrrr!’ Serigala itu menerkam kini dan Laya tak sanggup melihat.
TEP!

Dalam dunia Laya, sesaat semua hening. Ia tak dapat mendengar apa-apa lagi. Ia masih menutup matanya tapi ia merasakan sakit pada tangan dan pipinya dalm gelap pandangannya, ada titik cahaya seperti kunang-kunang yang beterbangan di sudut-sudut pandangannya.
Perlahan-lahan pendengarannya seperti kembali, seperti volume televisi yang sedari awal bisu kemudian menjadi bervolume normal. Lalu ia membuka matanya sangat perlahan. Dan memalingkan wajahnya ke depan. Ia dapat melihat tangan kanannya yang teracung ke depan, dan berat, seperti mengenai sesuatu. Dan di ujung tangan itu, pedang patah itu menancap pada leher si serigala tepat membelah kerongkongannya dan menembus tengkoraknya. Darahnya mengucur deras membanjiri pedang dan tangan Laya. Matanya putihnya masih membelalak dan Laya masih dapat melihat kakinya menunjang-nunjang tanah dan perutnya yang naik-turun. Tangan kirinya berhasil menggores lengan Laya dan tangan kanannya menggores pipi laya. Tapi cuma itu, rasa sakit dan ketidakberdayaannya untuk bergerak bebas hanya membuatnya mengapai-gapai ruang kosong kini. Laya masih belum habis pikir bagaimana ia dapat bergerak cepat secara refleks seperti itu dan mengakibatkan satu serigala terbunuh. Lalu,
Ces!
Kedua tubuh serigala itu terbelah dua. Bagian pinggang ke atas masih menempel pada tangan dan pedang Laya sementara pinggang ke bawah telah jatuh ke tanah. Lelaki kuda yang menebasnya. Dan di sana, Laya melihat serigala satu lagi telah mati terlebih dahulu.
‘Kini mereka tidak akan menggangumu lagi.’ Katanya pada Laya yang masih terdiam. Lelaki kuda itu kemudian menyingkirkan sisa tubuh serigala pada pedang Laya hanya dengan menggesekan pedangnya pada pedang Laya saja.
Ia menyimpan pedangnya dan menurunkan tangan Laya. Laya yang masih syok hanya menuruti saja. Giginya bergemeretak deras sekali sampai lelaki kuda itu dapat mendengarnya. Tapi Laya masih diam saja.
‘Tarik nafasmu dalam-dalam nak.’ Laya melakukan apa yang si lelaki kuda perintahkan. Untuk beberapa saat kemudian ia dapat bernafas dengan tenang.
‘Semua akan baik-baik saja. Ayo. Kita pergi dari sini.’ Lalu ia menaikkan Laya ke atas punggungnya hanya dengan satu tangan.
‘Kita harus segera pergi dari sini sebelum gelap.’ Ia bersiap untuk berlari tapi,
‘Tunggu tuan!’ lelaki kuda itu menghentikan langkahnya.
‘Mengapa?’
Dan Laya turun dari punggung penolongnya itu,
‘Hei, apa yang kau lakukan? Naik ke punggungku kita pergi dari sini.’
‘Tuan, kau terluka.’ Sesaat lelaki kuda itu terdiam dan heran,
‘Tidak apa-apa hanya luka gores kecil, sekarang naiklah.’
Tapi Laya tidak beranjak. Ia merobek ujung bajunya yang koyak tak beraturan dan menjadikannya sebuah potongan panjang untuk membuat suatu perban yang dapat melingkari luka lelaki kuda. Dan mencari potongan kain lainnya dalam ranselnya untuk ia buat perban yang lain. Kemudian ia membalut luka itu dan menyimpulnya untuk menghentikan darah yang keluar. Lelaki kuda masih tidak mempercayai apa yang dia lihat.
Anak ini mengalami syok dan hampir mati, dan ia masih memberikan pertolongan padaku.
‘Terima kasih.’ Katanya pada Laya.
‘Tidak, aku yang berterima kasih padamu tuan karena telah menyelamatkan aku dari serigala-serigala itu.’ Lelaki kuda itu tersenyum,
‘Namaku Xëylon. Dari golongan Chlom. Namamu?’
‘Laya.’
‘Salam, Laya, senang berkenalan denganmu. Kau pasti makhluk Dunia Atas. Selamat datang di Dunia Tengah.’ Dan lagi lagi ia tersenyum menampakan gigi putihnya yang tersusun rapi sempurna.
‘Terima kasih.’
‘Hutan ini tidak aman bagimu, apalagi hari sudah mulai gelap. Ayo ikut denganku ke Aragulli. Kau akan aman di sana.’
‘Aragulli?’
‘Iya. Ayo naiklah ke punggungku.’ Kemudian ia menaikkan Laya ke punggung kudanya. Cukup sekali sentakan satu tangannya, Laya telah berada di punggungnya. Xëylon adalah sosok yang mirip dengan centaur.


Xëylon memiliki badan tinggi besar berwarna hitam mengkilap, dan badannya itu adalah badan seekor kuda yang besar. Ia berbadan kuda dari pinggang ke bawah tetapi memiliki sosok manusia ke atasnya. Ia memiliki wajah tampan dengan rambut hitamnya yang terkadang jatuh lemas menutupi dahinya. Badannya yang kekar terbungkus rompi kulit berwana hitam yang pas melekat di badannya. Ada semacam simbol di bagian dadanya. Pada pergelangan tangannya juga terdapat kulit pembebat dengan strap-strap yang mengikatnya. Walaupun ia manusia-kuda namun tubuh kuda Xëylon tidaklah seperti kuda layaknya, tubuhnya yang besar liat adalah tubuh kuda, Xëylon memiliki bulu yang tebal hitam mengkilap seperti layaknya Llama. Ekornya juga tidak panjang bersurai seperti kuda tetapi lebih pendek sedikit dan berbulu layaknya Llama. Sementara kuku-kukunya terbuat dari logam, dan itu kerap menimbulkan percikan api bila mereka berlari kencang. Di punggungnya terselip sebuah busur yang terbuat dari kayu eik. Sedangkan pada pinggangnya terselip sebuah pedang yang bentuknya tidak seperti pedang umumnya yang lurus panjang.
Mungkin itu hanya pisau yang aneh. Pikir Laya
‘Ayo, karena tadi ingin menyelamatkanmu, aku meninggalkan bawaanku di bawah pohon sana,’ ia lalu membawa Laya ke tempat yang dituju. Dua buah tas besar berada di bawah pohon tersebut,
‘Bekal dan yang lainnya,’ katanya pada Laya. Ia lalu menambat bawaannya tersebut di badan kudanya dan mengikatnya erat. ‘hey, kemana sepatumu?’ tanyannya lagi.
Laya teringat kalau dirinya tidak memakai sepatu lagi,
‘Pasti tertinggal di … sana.’ katanya merujuk pada Dunia Atas.
‘Hmm… baiklah, pegang yang erat ya, kau akan kubawa seperti mengendarai angin, ha ha ha...’
Laya dibawa berlari di atas punggung Xëylon. Kedua tangannya memeluk punggung Xëylon dari belakang. Xëylon benar, ia dapat berlari kencang sekali seperti angin dan seakan-akan tidak terpengaruh dengan beban yang dipakainya juga Laya yang berada di punggungnya. Selama sepuluh menit mereka berlari, kemudian mereka dapat keluar dari hutan itu dan kini melintasi padang rumput yang luas.
Xëylon memperlambat jalannya, kini ia hanya berjalan. Padang rumput itu sangat luasnya. Sejauh mata memandang hanya rumputan yang mengeluarkan bunga jingga dan kuning di sana-sini. Di ujungnya terlihat barisan pegunungan dan bukit yang berwarna biru suram. Padang ini terasa hampa. Hanya rumput dan rumput lagi. Terus seperti itu selama setengah jam ke depan. Xëylon juga tidak bericara, jadi mereka hanya mendengar deru angin yang melintasi telinga mereka. Tak lama kemudian mata Laya menangkap banyak struktur besar berwarna putih jauh di depan mereka. Sekilas mirip batu namun banyak rongga padanya. Bentuk itu terlihat jelas ketika mereka mendekat. Kerangka. Terlihat banyak kerangka binatang yang mati di tempat ini. Beberapa diantaranya bahkan sangat besarnya sehingga kau harus mendongakkan kepalamu untuk dapat melihat ujung ketinggiannya. Dan Laya berada tepat di bawah salah satunya. Kerangka itu sangat besarnya, kira-kira setinggi dua puluh meter ke atas. Xëylon berhenti untuk memberi kesempatan pada Laya melihat hewan mati itu dari dekat. Ia mengambil sebatang kelakanji dan menyelipkannya di antara giginya.
‘Binatang apa yang tinggi sekali ini tuan Xëylon?’
‘Gorgom. Mereka tinggal di gua-gua di bukit-bukit batu di seluruh pegunungan di Dunia Tengah. Mereka seringkali menjadi tunggangan sekaligus binatang yang dipakai sebagai senjata penghancur karena ukuran tubuh mereka. Tidak sembarang orang yang dapat menjinakkan dan menaiki mereka. Ini adalah Padang Shiir. Padang yang biasa dijadikan sebagai tempat pertarungan banyak pihak, termasuk binatang. Hanya sedikit sekali makhluk hidup yang mau berada di tempat ini kalau tidak penting sekali, bahkan untuk melewatinya saja. Serangga saja enggan menyentuhkan kaki mereka di tempat ini.
Bahkan kerangkanya saja setinggi ini, bagaimana tingginya mereka sewaktu masih hidup?
Benar yang dikatakan oleh Xëylon, banyak sekali terlihat kerangka berserakan di tempat ini. Yang kecil maupun yang besar seperti gorgom. Di suatu sudut terlihat oleh Laya sebuah tonggak yang pada ujungnya sebuah bendera yang telah kusam dan koyak tak beraturan. Terlihat layaknya sebuah panji perjuangan dari sebuah kelompok yang bertikai di padang ini dulunya. Dan dibawahnya terdapat sebuah kerangka dan sebuah helm prajurit, kerangka seseorang,
Mungkin ia adalah seorang prajurit dulunya. Tapi apakah benar ia ‘seseorang’ karena ia tidak terlihat seperti layaknya manusia.
Di dahinya terdapat semacam tanduk, walaupun tidak panjang tapi cukup untuk menegaskan kalau ia terlihat seperti hewan, tetapi kerangkanya adalah manusia.
Makhluk apa itu? Aneh sekali? Lalu terpikir olehnya Xëylon,
Bagaimana dengan Tuan Xëylon?
Ia tidak terlihat seperti manusia seutuhnya. Ia berbadan kuda yang aneh.
‘Tuan Xëylon, di mana aku sebenarnya?’
‘Ha ha, kau tidak menyimakku ya. Seperti yang kubilang tadi, ini adalah Dunia Tengah. Katakan saja Dunia Tengah adalah dunia lain yang berdiri sejajar dengan Dunia Atas, duniamu. Bangunan batu di hutan tempat kau berada pertama kali tadi, dengan sungai bawah tanah di dalamnya adalah pintu penghubung antara Dunia Atas, Tengah dan Dunia Bawah, tetapi tidak sembarang makhluk dari Dunia Tengah yang bisa atau pernah menginjakkan kakinya ke Dunia Bawah selain orang-orang yang terpilih. Tidak seingatku. Dan kami semua tidak mau tahu akan hal itu. Pintu penghubung dikelilingi oleh lingkaran biru suci, di mana setiap makhluk yang memiliki niat jahat takkan dapat melintasinya bahkan yang terkuat sekalipun, seperti semacam janji yang sangat bertuah yang tidak tertulis yang telah ada sejak pintu penghubung itu diciptakan. Bila para serigala itu dapat mengejarmu, itu karena kau telah melewati lingkaran biru suci yang mengelilingi pintu. Bila kau tetap di sana maka takkan ada sesuatupun yang dapat menjamahmu. Bila mereka memaksa masuk, maka mereka akan terpental atau terbakar, kecuali mereka menghapuskan niat jahat mereka dahulu dari pikiran mereka.’
Oooh, karena itu para serigala tadi bersembunyi melihatku. Itu karena aku masih berada dalam lingkaran suci.
‘Hei, bagaimana denganmu? Bagaimana kau dapat masuk dan menyeberang dari duniamu ke dunia kami? siapa yang membawammu ke sini’
‘Eeeeng, entahlah..’
‘Apa maksudmu? Apa kau tidak ingat?’
‘Seingatku, aku berada di sebuah hutan kecil dan aku ingin mengambil air dari sebuah sumur kecil yang terdapat di tengahnya. Aku memasukinya dan kemudian sumur itu menelanku. Dan ketika sadar aku telah berada di tempat ini.’
‘Hmm, cerita yang aneh. Tapi mungkin juga karena aku belum pernah memasuki duniamu. Bagaimana sebenarnya Dunia Atas itu Laya? Apakah indah? Baguskah? Ramaikah? Dari yang kudengar banyak hewan-hewan yang aneh yang memenuhi tiap jalanan. Dan makhluk dari rasku tidak akan dijumpai di sana? Benarkah begitu?’
‘Emm, ya, kurasa.’
‘Ha ha ha, kau terdengar tidak yakin.’
‘…’
‘Hei, apa kau lapar? Di kantung pelanaku sepertinya masih ada sisa bekal roti. Kau bisa memakannya bila kau mau.’
Satu tangan Laya lalu mencoba merogoh kantung pelana itu, dan benar, ada sepotong besar roti yang harum. Dan
Hmm…. rasanya enak sekali.
‘Xëylon, sewaktu aku berada di dalam goa, aku melihat ada yang menarikku di bawah air di goa itu. Mereka memiliki rambut panjang dan…’
‘Dan mereka memiliki badan setengah ikan, ya, mereka adalah para Keepak. Penjaga Pintu Penghubung. Mereka memang bukan makhluk yang ramah. Tapi mereka tidak terikat dengan kelompok manapun. Terkadang mereka juga terlihat muncul sekilas di danau-danau es di Arragulli. Atau di puylau-pulau karang Laut Mati. Kurasa merekalah yang menaruhmu di luar pintu penghubung. Mereka adalah makhluk mistis, walaupun mereka tidak terikat dengan kelompok baik atau buruk, tapi mereka bukan makhluk yang ramah. Apalagi pada pendatang asing yang berasal dari duania yang berseberangan dengan Dunia Tengah. Karena itu sebaiknya jangan dekat-dekat atau bahkan mengganggu mereka karena kau akan mendapat celaka. Takkan ada yang berani mengganggu para Keepak, bahkan Shylam dan anak buahnya.’
‘Shylam, siapa dia?’
‘Oh, tidak, tidak apa-apa.’ Xëylon memutuskan perkataannya.
Sementara Laya juga terpaku pada pemandangan alam Dunia Tengah dari atas punggung Xëylon dan mulutnya juga tak berhenti mengunyah roti di tangannya. Di kejauhan gunung dan bukit-bukit batu yang berdiri menjulang di kejauhan seperti hendak menjangkau langit. Sementara langit yang mulai gelap memancarkan cahaya merah di antara awan.
‘Sepertinya kita tidak akan sampai di Aragulli saat malam. Mungkin kita akan sampai esok pagi. Kalau itu yang terjadi, kita akan bermalam di suatu tempat. Jangan takut, aku akan menjagamu. Kau tenang saja Laya dan tetap berpegangan yang erat ya.’
Xëylon memacu larinya lebih cepat. Tujuannya sekarang adalah goa yang berada di kaki bukit di depan mereka agar dapat bermalam di sana. Padang rumput bukanlah tempat yang baik untuk bermalam. Udara malam di tempat terbuka dapat membuat mereka mati kedinginan. Ia tak dapat membayangkan bila anak sebesar Laya harus tidur di tempat yang dingin seperti padang rumput ini.

Hari telah gelap dan Laya kini sendiri di dalam goa tersebut hanya ditemani suara malam dan derak suar kayu yang terbakar api. Xëylon telah pergi selama setengah jam lebih, katanya ia akan mencari sesuatu yang lebih untuk makan malam nanti dengan berburu. Laya sudah tidak tahan, ia lapar sekali. Dua hari ini ia tidak merasakan makanan yang layak untuk perutnya. Tak lama kemudian bayangan seseorang perlahan mendekat, Xëylon telah kembali. Di tangannya kini terdapat beberapa ekor burung dan seekor kelinci. Mereka semua telah mati dan bahkan sudah dibersihkan. Betapa sigap ia melakukannya. Dan perkiraan itu benar adanya, ia memang seorang pemburu ulung. Setengah jam tadi ia meninggalkan Laya tetapi lihatlah sekarang apa yang didapatnya. Xëylon lalu membagi dua perapian tersebut di hadapan mereka. Hasil buruan itu kemudian di bakar di atas salah satu nyala api unggun di depan mereka, dan perapian yang satu lagi digunakan untuk menjerang air.
‘Engkau baik sekali padaku, tuan Xëylon.’
‘Hey, kau tidak memiliki siapapun di tempat ini selain aku kan. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendiri. Kalau kau tidak kutemukan kemungkinan besar kau akan diserang kembali oleh serigala-serigala tersebut atau mungkin hewan buas lainnya. Kau tidak akan pernah menyangka bagaimana hewan-hewan di sini dapat begitu mengerikan dengan bentuk mereka yang beragam.’ kemudian ia menyerahkan sepotong daging burung itu kepada Laya. Bukan rasa yang diharapkan oleh Laya begitu ia menggigitnya, tetapi untuk udara yang dingin dan perut yang lapar. Daging buruan itu sudah sangat sempurna.
‘Sekarang ceritakan mengenai dirimu Laya. aku masih penasaran dengan ceritamu. Mengapa kau bisa berada di sini? Mana orangtuamu? Apa kau lari dari rumah’
‘Engg… Aku sudah tidak memiliki ayah ibu lagi.’
‘... Oouw, jadi apakah kau tidak memiliki rumah juga?’
‘Aku tidak… tidak ada, aku tidak memiliki rumah lagi.’ Laya berbohong.
‘Baiklah, kalau kau sendiri sudah memilih jalan hidupmu dan merasa nyaman dengannya. Maka itulah yang harus kau jalani kan. Walaupun sebenarnya kau tahu bahwa tidak baik untuk pergi sendiri untukmu gadis kecil.’ Xëylon dapat merasakan kalau Laya berbohong padanya. Tapi ia juga merasa kalau keinginan untuk pergi datangnya dari Laya sendiri, dan ia harus menghargai itu.
‘Nah sekarang ceritakanlah padaku mengenai Dunia Atas.’ Laya tersenyum padanya. Hingga kemudian mereka terlibat dalam percakapan yang saling menyambung seakan-akan mereka adalah sahabat lama yang telah lama saling mengenal. Laya menceritakan ‘Dunia Atas’-nya dengan sangat bersemangat. Ada televisi di sana, gedung-gedung tinggi, mesin ini dan itu, dan semua yang diketahuinya.
Goa tempat mereka terlihat seperti lampu kecil yang berkelap-kelip karena bayangan yang bergerak dari kejauhan. Sementara di atas terlihat dua buah bulan menggantung di langit Dunia Tengah, yang satu berwarna biru dan yang satu berwarna merah redup namun keduanya tetap terlihat indah.


Şosok itu berjalan pelan perlahan.
Bukan, bukan berjalan, seperti terbang tetapi sangat tenang. Pakaian yang dikenakannya berwarna putih terang. Bukan seperti putih yang biasa kau lihat. Putih yang dikenakannya seperti cahaya. Ia seperti mengenakan cahaya itu sendiri. Setiap lantai yang dilalui kakinya yang tak menjejak kemudian terang, layaknya taburan bubuk yang berpendar dalam gelap secara perlahan hingga kemudian meredup, hilang. Dan lampu-lampu minyak yang ada dua sisi lorong gelap itu kemudian menyala hidup begitu saja di depannya untuk kemudian padam kembali bergantian begitu ia melewatinya. Kulitnya halus seperti pualam yang terus digosok dalam kasih. Jemarinya yang lentik menyentuh lembut tiap bongkahan batu hitam besar yang terpahat kasar pada dinding lorong saat ia berjalan. Rambutnya yang lurus panjang hitam kontras dengan pakaian cahayanya, jatuh terjurai menutupi sebagian wajah putih pucatnya yang halus mulus tak bercela. Matanya berwarna abu kehijauan yang bening lembut dengan tatapan yang dalam dan tua, setua gunung batu dan ribuan bintang dan ledakan-ledakannya, layaknya seorang saksi saat diciptakannya jarak antara timur dan barat. Sebuah cahaya kecil menunggu di depan di ujung lorong. Hingga kemudian ia mencapainya dan sampai di suatu taman yang penuh dengan pohon dan bunga di mana matahari dapat menyinari dengan sempurna. Di atas, awan bergulung-gulung seperti corong waktu yang mengarah entah kemana. Ada kilat yang saling menyambar dan sahutan guruh menandakan badai pekat yang akan datang. Suasana aneh bagai udara dingin kelu yang menghimpit sampai ke tulang rusuk dan pori-pori.
Bunga-bunga yang ada di taman itu terlihat indah, tetapi tanah dan bebatuan di sekitarnya bernuansa merah pupus murung terkena pantulan langit yang memerah yang melingkupinya dari atas. Paduan yang aneh antara bunga-bunga tersebut dan hawa merah tersebut membuat mata menjadi sakit dan menutupi indah tanaman di taman itu.
Tapi sosok itu tidak mempedulikannya. Ia tetap saja mengitari taman tersebut perlahan seperti mengambang. Menciumi bunga-bunganya dan mencabut daun-daun yang layu menggantung dari dahannya. Bibirnya menyunggingkan senyum ketulusan. Pancaran matanya menyiratkan keteduhan yang dalam. Langkahnya menciptakan pola-pola di antara pasir dan rerumputan. Sama seperti yang telah ia lakukan selama bertahun lamanya - atau mungkin beradab? -. Ia begitu menikmati waktunya di sana. Seperti tak ada satupun yang menghalanginya untuk menikmati keindahan pemandangan hari itu. atau keindahan hanya pada taman itu saja. Karena itulah taman terakhir yang dimiliki negeri itu setelah kegersangan bertahun-tahun lalu lamanya. Ia mendekat ke arah mata air yang jatuh mengalir di antara bebatuan dan semak. Kedua tangannya terpadu di depan dada dengan jari-jari yang saling bersentuhan. Perlahan ia julurkan sebuah tangannya mencapai mata air tersebut dan menangkupnya. Hawa dingin tercipta seketika membuat sebagian air dan batuan membeku. Ia lalu mencecap perlahan air dalam tangkupannya unrtuk kemudian meminumnya. Ia berkonsentrasi sejenak, matanya terpejam dan sebuah senyum tipis terbentuk di bibirnya. Sosok itu lalu berbalik dan memandangi setiap sisi tamannya dari tempatnya berdiri kini. Ia lalu berkeliling-keliling di taman tersebut untuk kemudian mendekati sebuah tungku besi sebagai penerang di tengah taman. Tungku itu berisi minyak yang menyala di atasnya dan berukuran sekitar-sepuluh-orang-yang-mampu-menggeser-nya di tengah taman. Dipandanginya tungku itu lekat hingga kemudian ia memetik sebuah tangkai bunga dan mencampakkannya itu ke dalamnya. Bunga itu membuat nyala api langsung membesar begitu menyentuh masuk ke dalamnya langsung terurai sudah menjadi karena minyaknya meninggalkan pusaran-pusaran yang melebar ke sisi tungku. Jilatan api yang menyala merefleksi pada pupil mata sosok cahaya tersebut. Seketika mata yang teduh kemudian berubah layaknya mata seseorang yang terluka dengan sangat dalam sedalam palung keabadian. Bibirnya yang semula menyunggingkan senyum kini berubah menyeringai menampakkan giginya yang menyimpan dendam setua jaman purba.
Ia kemudian berpaling meninggalkan tungku tersebut kembali ke tempat di mana ia datang semula. Tapi ia berhenti, kemudian ia berbalik menampakkan sisi lain wajahnya yang buruk penuh bekas luka dan menghitam yang ditutupi oleh rambut hitamnya. Ia mendengus dan dengan sapuan tangannya, ia balikkan tungku raksasa itu ke tanah hingga terjungkal menumpahkan minyak dan bara dari api yang menyala. Mengalir di atas bebatuan dan menghampiri bunga-bunga yang tak tahu apa kesalahan mereka. Sejenak kemudian taman itu telah berubah menjadi taman api dengan dendam dalam keheningannya. Setetes air jatuh dari mata sosok cahaya yang terpejam. Dan itu bukan air mata kesedihan. Giginya menggigit bibir indahnya hingga meninggalkan luka.
Ia lalu berjalan menjauhi taman itu kembali masuk pada pintu lorong tempat ia datang semula, tertunduk dalam kemurungan dan amarah. Tanpa melihat ke belakang, tangan kanannya lalu terangkat dan mengibas menciptakan angin yang seketika memadamkan semua api yang membakar taman. Hingga kemudian ia pergi menjauh lalu menghilang dalam hening lorong yang gelap selayak ia datang. Meninggalkan pemandangan hangus dan kepulan asap hitam di belakangnya. Udara yang berbau sangit di sekitarnya membuat nafas serasa sesak. Tetapi itu takkan ditemukan di tempat manapun kau berada di sana. Tidak juga akan dijumpai jejaknya.


Ħening. Semua terdiam.
Scorpio mengambil secangkir coklat panas di dekatnya dan meminumnya. Ia berdehem dua kali dan memandang ke arah langit. Masih belum tampak tanda-tanda cuaca akan baik. Langit terlihat kemerahan karena mendung, rintik air mulai turun satu-satu seiring dengan angin yang masih kencang seperti sore tadi.
‘Sepertinya hujan mulai turun. Tidakkah kalian dengar itu?’
Yang lain kemudian melihat sekeliling. Ya, hujan mulai turun, titik-titiknya mulai terdengar turun di antara pepohonan dan tanah.
Leo mengambil vodka yang ada di sampingnya dan menyiramkannnya ke dalam api unggun. Api kemudian membesar menyebarkan nyalanya di tempat mereka berkumpul.
‘Aku kira kau sudah tidak minum lagi?’ Tanya Gemini.
‘Memang, dan aku salah.’ Leo menjawab dengan entengnya.
‘Payah.’
‘Hei, aku sudah jauh mengurangi keinginan minumku ya. Ini adalah kali pertama aku menyentuh cairan ini. Kali pertama setelah setahun yang lalu.’
‘Kau tidak berharap aku percaya akan hal itu?’
‘Tidak, kau bahkan tidak tahu apa aku minum atau tidak kan selama ini. aku tidak berharap kau percaya tapi itulah yang sebenarnya terjadi.’
‘Aqua, hujannya…?’
Aqua melihat ke atas, hujan mulai deras kini. Ia lalu mengambil sebotol air mineral yang ada di sebelahnya, mengoyang-goyangkan isi botol yang masih penuh itu sambil mengucapkan mantra. Lalu dengan satu hentakan Aqua menyemburkan air tersebut dari mulut botol hingga ke udara. Air mineral itu dengan ajaibnya lalu membentuk suatu kubah raksasa yang membentengi tempat di mana mereka berkumpul. Kini seperti ada kubah kaca yang melindungi mereka dari terpaan tetes hujan yang jatuh.
Perlahan hingga menderas kemudian. Menebarkan bau yang sensual dan khas pada hidung. Membasahi apa yang dapat disentuh olehnya, tapi tidak di tempat mereka berkumpul. Hujan seperti tidak menyentuh tempat mereka berkumpul, bahkan tidak juga api unggun mereka. Tetes-tetes yang menderas dan mengalir itu jatuh mengikuti lekuk kubah yang dibuat Aquarius. Hanya angin kencang dan dedaunan yang jatuh yang terus menampar tubuh dan wajah mereka.
Tapi tidak tetes hujan.
Api yang marak kini telah mengecil kembali. Libra kemudian mengambil vodka Leo dan dengan tenangnya menyiramkannya pada api hingga marak kembali. Botol itu isinya hanya tinggal sedikit saja
‘Hey, itu…’
Tapi Libra diam saja.
Leo menghela nafasnya kemudian bangkit dari tempatnya.
‘Kau mau kemana?’ Libra bertanya padanya
‘Panggilan bisnis dari alam. Kenapa? Kau mau melihatnya?’
Libra terdiam. Pipinya memerah. Yang lain tersenyum sendiri.
Leo keluar dari kubah air seketika hujan membasahinya tapi ia tidak peduli. Kantung kemihnya seakan tidak dapat lagi menahan tekanan di dalamnya. Merangsek meminta untuk segera dikeluarkan.
Ia menuju ke semak-semak yang rimbun untuk kemudian melakukannya di sana.
‘Haaaah…’ kelegaan menyelinap. Ia teringat akan tingkah Libra tadi yang membuang minumannya. Ia kesal tetapi sebenarnya ia tahu Libra melakukan itu karena ia peduli padanya
atau ada perasaan lain?
Ia sempat melihat wajahnya memerah ketika menggodanya untuk melihatnya tadi
benarkah ada perasaan yang lain?
Leo tersenyum sendiri kemudian. Badannya yang besar telah basah oleh hujan.
Semuanya masih terdiam. Di dalam kubah Scorpio meneguk kopi pahitnya dan mengambil jeda sejenak. Tak lama Leo kembali dari bisnisnya.
‘Ayo lanjutkan ceritanya.’
‘Lanjutkan saja dulu tanpaku. Aku juga ada bisnis yang sama seperti Leo.’ Kata Sagi.
‘Kenapa kalian tidak melakukannya sama-sama saja tadi.’ Gemini perempuan protes padanya. Sagitarius hanya menyengir.

* * *

Ģīlīŗaņ Şcoŗpīo Beŗķīşaħ



III
Ðaņ Şebūaħ Pīņťū Ŧeļaħ Meņaņťīmū Đī Şaņa Meņūjū


Ļaya berlari.
Berlari meninggalkan paman yang bejat menodai, meninggalkan bibinya, meninggalkan adik-adiknya, meninggalkan sekolahnya, meninggalkan teman-temannya di mana ia biasa bermain dan bernyanyi bersama, meninggalkan satu boneka kelinci lusuh yang salah satu telinganya selalu terjulur turun yang selalu menemaninya dalam setiap tidur malamnya di kamar, dan meninggalkan rumah itu dengan tekad bahwa ia tidak akan melihatnya kembali. Tidak akan kembali lagi. Bahkan ia tidak berniat untuk melihatnya lagi. Kini, atau nanti. Bahkan dari kejauhan. Bahkan bila semuanya kembali seperti dulu lagi.
Laya hanya berlari dan berlari entah kemana. Dan di malam yang tergelap di antara semua itu, ia menemukan sebuah gang di sebelah sebuah toko dan membiarkan tubuh lelahnya terbaring dan terpejam walaupun itu hanya untuk beberapa menit. Dan malam yang tergelap itu memberinya mimpi. Sebuah mimpi yang menempatkannya kini di suatu tempat yang sangat asing, tetapi ia merasa sangat nyaman untuk berada di sana. Tempat yang penuh warna dan ceria. Bahkan setiap orang yang ditemuinya menampakkan senyum bahagia dan menariknya untuk dapat bermain bersamanya. Semua menginginkannya. Laya bahagia. Inilah tempat yang diinginkannya. Dan di sana, ia melihat ibunya melihat dari kejauhan di bawah sebuah pohon rindang yang kau bahkan tak dapat melihat ujungnya karena tertutup tingginya awan.
Namun tiba-tiba di dalam mimpinya ia melihat langit terkoyak, seperti kertas minyak layangan yang tersangkut pada paku atau ranting pohon. Dan sebuah tangan raksasa menjulur keluar dari lubang langit itu dan menjangkau dirinya. Ia berontak, namun tak dapat melakukan apa-apa. Dan tiba-tiba ia telah berada di pojok gelap sebuah ruang di menara kastil yang tinggi. Laya tahu bagaimana tingginya menara itu karena ia dapat melihat awan yang bergerak sejajar dengan letak jendela yang ada di satu sisi kastil. Jendela besar satu-satunya di menara ruang itu memberi jalan bagi sinar matahari siang untuk menembus melaluinya. Di bawah sinar tersebut ada seorang perempuan yang sedang memutar roda pada sebuah alat yang berisi dengan benang yang sangat besar gulungannya. Dan gulungan-gulungan benang beraneka warna lainnya berserakan di lantai. Dari sini Laya dapat menebak bahwa kini ia berada di dalam cerita Aurora, si Putri Tidur. Namun sang putri tidaklah seperti yang dibayangkannya selama ini. Tidak seperti cerita ibunya dan cerita di dalam buku cerita, yang ini berwajah bulat dengan pipi yang memerah, bibirnya kecil dan tipis, rambutnya juga keriting dengan warna pirang kecoklatan, badannya cenderung gemuk dengan jari-jarinya yang seperti wortel muda yang bulat pendek, dan kakinya, kakinya tidak dapat menampung sepatunya yang kekecilan (atau kakinya yang kebesaran?) sehingga tumitnya harus memijak sisi belakang sepatu itu. Bajunya cukup bagus dan berkelas. Terbuat dari bahan mahal dan dihiasi dengan manik-manik dan payet-payet yang menunjukkan kelasnya sebagai putri. Namun Aurora kelihatan tidak dapat bergerak bebas karena ukurannya yang kekecilan, dan punggungnya yang menjadi tegak dan kaku karena korsetnya yang membebat ketat. Tangannya seringkali tersandar di perut seakan ingin melepaskan beban yang ada, beberapa kali ia berasa ingin muntah karena korset pakaian ketat itu membuatnya mual. Laya geli sendiri melihatnya. Untungnya Aurora tidak menyadari kehadiran Laya di sana (atau sama sekali tidak melihatnya?) karena pojok di mana ia berdiri memang sangat gelap walaupun jaraknya tidak begitu jauh darinya. Tak lama setelah itu datanglah seorang perempuan tua dengan pakaian bertudung merah darah menaiki tangga menara itu dengan tongkat kayunya seperti hendak menjumpai sang putri, namun sebelum sampai kakinya menginjakkan pada lantai atas,
Plak!! Sebuah gulungan benang besar mengenai kepala si nenek sihir sehingga membuatnya terkejut.
‘Mana benangku?! Mana benang emasku?!’ Aurora berteriak ketus kepada nenek tersebut setelah ia melempar gulungan benang tersebut ke kepalanya.
‘Hamba belum menemukannya, tuan putri, bahkan setiap orang di kerajaan ini belum menemukan benang emas seperti yang tuan putri minta.’
‘Jadi harus berapa lama lagi aku harus menunggu hah! Kalau kalian tidak menemukan benang yang tepat maka tidak akan ada cerita ini. Untuk apa sihirmu kalau kau tidak dapat menemukan laba-laba itu hah! Maka cepat pergi dari hadapanku dan jangan kembali sebelum mendapat benang emas itu atau benang selanjutnya akan mendarat lagi ke kepalamu nenek jelek!!’
Seketika Laya menyadari kalau perempuan tua itu adalah seorang enek sihir. Tapi, apakah dia neneks sihir yang mengutuk Aurora higga tertusuk jarum pemintal dan tertidur panjang? Mengapa ia malah tunduk pada Aurora, bukankah kebalikannya?
Nenek sihir itu lalu pergi dengan wajah lesu lalu menuruni tangga kembali.
Aurora lalu kembali sibuk dengan alat pintalnya sementara mulutnya terus menceracau apa saja. Laya coba berjingkat menggerakkan kakinya karena ia lelah terus berdiri, namun malang tangannya menyenggol tempat lilin di sampingnya sehingga jatuh. Dan Aurora berpaling padanya.
‘Hei, siapa kau? Sedang apa kau di situ? Sudah berapa lama kau ada di pojok dan mengapa aku tidak melihatmnu selama ini?’
Laya gugup ia berusaha lari tapi sepertinya sia-sia. Mau lari kemana sementara ruangan menara itu tidak seberapa besar dan tidak banyak barang di sana untuknya berkelit. ‘Hai! Aku bicara padamu!’ Aurora marah. Ia berusaha mendekat pada Laya dan mencoba menangkapnya. Namun, korset yang dipakainya menahan geraknya. Ia merasa sesak di perutnya dan mual. Segera Laya berbalik menuju jendela dan mengeluarkan isi perutnya. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan Laya untuk segera untuk menuruni tangga melarikan diri.
‘Hei, mau kemana kau, aku…’ tapi sebelum kalimatnya selesai, isi perutnya sudah meminta untuk dikeluarkan lagi sehinggga Aurora kembali mengeluarkan kepalanya keluar jendela.
Laya terus menuruni anak tangga dan ia masih dapat mendengar Aurora berteriak di belakang.
Cepat atau lambat ia akan mengejarku, bisiknya.
Entah mengapa menara yang tinggi tersebut menjadi tidak setinggi yang diperkirakan. Kini ia telah sampai di lantai bawah dan masih terus berlari menghindari Aurora, namun langkahnya terhenti karena di depannya ia melihat si nenek sihir yang masih berjalan memunggunginya.
Langkahnya terhenti. Kalau ia maju tentu si nenek sihir akan melihatnya dan menagkapnya, sementara Aurora masih ada di belakangnya, dalam pikiran kalutnya ia melihat sebuah pintu di depan di antara dirinya dan si nenek sihir. Segera saja ia berlari menuju ke pintu tersebut yang untungnya tidak terkunci. Pintu tertutup kembali bersamaan dengan si nenek sihir yang melihat ke arah belakangnya. Ruangan itu ternyata sangat luas. Seakan luasnya tidak sepadan jika di lihat dari arah luar. Dengan banyak pilar dan mewah, dan…
‘Ya. Ada yang bisa kubantu?’ suara seorang perempuan itu mengejutkan Laya dari belakang.
‘A…, aku tersesat.’
‘Yah, sudah sepantasnya.’
Laya memalingkan kepalanya. Maksudnya?
‘Sudah sepantasnya kau tersesat,’ lanjutnya, mengerti dengan apa yang ada dalam benak Laya.
‘Terkadang aku juga tersesat dengan ruangan yang di istana ini, setiap pintu di lorong yang kau lewati tadi mengarah ke tempat yang berbeda, bahkan berubah setiap jamnya. Perlu waktu lama bagiku untuk mengetahui tanda-tandanya. Jadi mengapa kau ada di istana ini?’
Laya menggeleng, ia sendiri tak tahu mengapa ada di sini.
‘Aku Cinderella. Kamu?’
Laya terpana.
‘Cinderella. Ini sungguhankah?’ tapi ia tetap menjulurkan tangannya.
‘Laya.’ balasnya pelan.
‘Di lorong tadi kau bertemu siapa?’
‘Kurasa ia yang bernama Aurora.’
‘Ow, yah, putri pemarah.’
‘Apakah ia memang seperti itu?’
‘Yah, dia frustasi karena kutukannya tidak selesai juga.’
‘Tapi, bukankah si nenek sihir yang mengutuknya? Dan tadi nenek sihir itu itu malah dimarahinya habis-habisan.’
‘Hey, di cerita yang lain itu mungkin terjadi. Tapi di sini tidak begitu. Bukan si penyihir tua yang mengutuknya. Tapi Sang Ratu, ibunya sendiri. Ibunya sangat marah begitu mengetahui kebenaran bahwa Aurora bukan anak kandungnya. Anaknya tertukar. Dan selama ini kelakuan Aurora nya juga selalu menyusahkan dirinya, makanya ia punya banyak alasan untuk mengutuknya.
‘Tertuka?’
‘Ya, Aurora anak dari seorang perempuan yang ditemui raja ketika ia berburu di hutan. Sang Ratu sendiri kini pergi dari istana entah kemana.’
‘Lalu anak ratu sendiri di mana?’
‘Entahlah. Mungkin ratu, maksudku ratu dalam cerita Aurora bukan ratuku, sedang mencari di mana anaknya berada. Aku tidak terlalu peduli mengenai cerita tetanggaku.’
‘Dan dirimu? Apakah kau benar memiliki sepatu kaca dan tikus-tikus.?’
‘Hah! Cerita yang lama sekali. Yah, benar, aku memang memiliki sepatu kaca dan tikus-tikus. Tapi itu dulu. Kau tahu, aku tidak menikahi pangeran seperti dalam ceritamu, yah, iya tapi tidak…’
‘Maksudnya?’
‘Aku menikahi saudaranya.’ Cinderella mengatakannya dengan riang gembira. ‘Setelah ternyata aku tahu dia tidak begitu pandai dan dia bukan penerus langsung raja, maka aku memutuskan untuk mencampakkannya dan beralih ke abangnya. Putra sulung raja, dia lebih pantas. Lebih tampan dan cerdas. Dan sejauh ini tidak ada yang bermasalah dengan itu.’
‘Bahkan juga… ratu dalam versimu?’
‘Tidak! Ssstt… ratu dan raja bukan orang yang pintar. Mereka ada dalam genggamanku hihihi.’
Tiba-tiba pintu terbuka, dan si penyihir tua telah ada di hadapan mereka berdua.
‘Penyusup! Seharusnya kau malu.’
‘Hey, ini ceritaku!’ Cinderella protes ada orang lain masuk ke ceritanya.
Namun si penyihir tak peduli akan itu. Tangannya menggoyang-goyangkan tongkat sihir di hadapan mereka berdua dan sekilas sinar terang muncul dari ujungnya. Cinderella yang sudah tahu apa yang bakal terjadi langsung teriak.
‘Lari!’
Tapi tidak bagi Laya, ia tidak dapat kemana-mana. Kakinya masih terpaku di tempatnya berdiri padahal sinar itu sudah sangat dekat dengannya. Ia hanya bisa mendekapkan kedua tangannya ke depan untuk menghalau sinar itu,
Bruk!
Kepalanya terjatuh pada lantai. Rasa sakit membuatnya membuka mata. Ia bermimpi.
Fajar yang datang mengusik matanya. Menyebarkan hangatnya dan memaksanya untuk tetap membuka mata hingga ia benar-benar terbangun.
Mimpi yang aneh. Cinderella yang ingin kaya.
Jarinya mengucek-ngucek matanya, memaksa kedua bola itu untuk benar-benar terbangun. Ketika matanya sudah bisa menyesuaikan diri, di hadapannya telah berdiri seorang lelaki yang terus menatap pada dirinya. Dengan kepala yang agak botak, perut besar dan dada yang mirip payudara yang lembek karena lemak mengintip di sana-sini dari balik singlet putih kusam yang dipakainya. Entah sudah berapa lama lelaki itu menatapnya, namun laya tahu bahwa tatapan itu buka tatapan yang bersahabat baginya. Dagunya terangkat ke atas dengan pandangan mata yang masih menatap tajam tak suka.
‘Hey, anak kecil. Apa yang kau lakukan di sini hah? Sudah berapa lama kau tidur di sini? Sepertinya kau bukan pengemis. Mengapa kau tidur di sini semalaman? Pulang sana!’
Dari cara berbicaranya dan perintahnya untuk menjauh, Laya tahu kalau ia adalah pemilik toko yang kemudian meminta Laya segera pergi dari tempat itu. namun Laya yang masih dalam keadaan setengah sadar butuh waktu untuk berkemas dan berpikir dahulu.
‘Hey!. Kau dengar tidak? Tokoku akan segera buka dan aku tidak mau ada anak yang tidak jelas berkeliaran disekitar toko ini. Mengerti? Nah pergi sana! Ayo!’
Dan dari sikap dan wajahnya mengusir Laya, ia kelihatan benar-benar ingin agar Laya pergi dari lingkungan tokonya.
Dengan bersungut-sungut, Laya meraih bawaannya, dan lalu pergi menjauh.
Aku akan tetap pergi dari situ walaupun kau tidak menyuruhku. Gendut!
Tiba-tiba ada yang salah. Perutnya terasa melilit, cacing di dalam perutnya telah berbunyi minta makan. Ini sudah waktunya untuk sarapan. Di rogohnya ransel yang dibawanya serta dan mengambil sebungkus keripik kentang dan sebotol air mineral yang telah kosong sepertiganya.
Cukuplah untuk beberapa lama, pikirnya,
tapi tak cukup lama…
Sementara uang yang berjumlah tak seberapa di dalam dompetnya masih utuh belum tersentuh.
Aku hanya akan menggunakan uang ini kalau aku sangat membutuhkannya.
Laya kemudian berjalan terus dan terus. Keripik kentangnya sudah habis dan ia mengambil dua bungkus batangan coklat karamel sekarang sebagai sarapannya. Yah lumayan untuk pagi ini. Batinnya.
Tak terasa sudah entah berapa jam sekarang ia berjalan sejak bangun pagi tadi. Kini telah lewat tengah hari dan dirinya telah berada jauh dari kota, di mana kini ia bisa melihat ladang atau padang rumput dan samar pegunungan yang berwarna biru pupus di kejauhan. Panas matahari masih terasa menyengat di kulitnya tapi ia mencoba untuk tidak terlalu merasakannya. Mengapa hari ini terasa panas sekali? Ia yang tak tahu akan tujuannya hanya berjalan di sisi jalan yang ditumbuhi pepohonan yang bisa melindunginya sedikit dari sinar mentari.
Kakinya sudah terasa lelah dan ingin beristirahat. Pada sebuah pohon ia bersandar. Apakah ia harus terus berjalan? Tapi kemana? Ia sendiri tidak mengetahui arah dengan pasti. Belum pernah ia pergi sejauh ini sepanjang hidupnya. Terduduk ia sambil termenung dan mengipasi dirinya sendiri dengan sebuah daun besar yang jatuh dari atas pohon yang ia sandari. Tak ada seorang atau kendaraan apapun yang melintasi jalan ini. Laya menoleh ke arah kanannya. Matanya melihat beberapa pohon besar yang membentuk kelompok sendiri di tengah padang ilalang, persis seperti halnya sebuah oase di tengah panas teriknya gurun pasir. Dalam pandangannya terlihat seperti sebuah pulau hijau yang dikelilingi dengan lautan emas yang semakin berkilau tertimpa cahaya matahari. Di atasnya terbentang kontras langit biru dengan awan-awan tipis yang menggaris. Burung-burung kecil terlihat bagai kumpulan camar yang menari-nari menanti gerombolan ikan menawarkan diri mereka untuk disantap. Ilalang-ilalang itu terlihat seperti ombak yang mengalun serentak disentuh angin. Berirama, berkelanjutan.
Terlihat teduh sekali.
Masih memegang daun besar di tangannya, Laya berdiri dari sisi jalan dan mulai menuju padang rumput itu. Semakin jauh semakin ia menyadari kalau padang ilalang itu ternyata lebih tinggi dari kelihatannya. Bahkan lebih tinggi dari dirinya. Tangannya menyibakkan tinggi ilalang itu berusaha melihat arah yang benar menuju pulau hijau tersebut. Tak ada yang terdengar kini selain gesekan ilalang yang tertiup angin seakan saling berbisik dalam bahasa daun yang rahasia. Pijakan kakinya menciptakan jejak tundukan ilalang yang mengular di belakangnya. Dan gerombolan pepohonan itu, ternyata lebih jauh dari perkiraannya, dan semakin jauh ketika ia merasa semakin mendekati. Hingga akhirnya semua ilalang seperti merunduk memberinya pandangan yang leluasa ke depan, begitu dekat dirinya kini dengan pinggir rerimbunan itu. Gugusan pohon-pohon itu seperti tangan raksasa yang membuka dan mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam mereka. Matanya tertegun begitu menyadari betapa sebagian batang pepohonan itu begitu kecil dan ramping tinggi dengan daun-daun yang lebat, tetapi pohon yang lain terlihat begitu besarnya bahkan untuk oaring dewasa, sangat lebat dan dipenuhi dengan banyak cabang dan ranting.
Semakin ia maju semakin ia menyadari kalau gugusan pepohonan itu sangat mirip dengan pulau kecil yang tumbuh di antara ilalang. Hutan kecil yang sedikit lebih tinggi dari ilalang di sekelilingnya. Begitu ia mencapai pinggiran hutan itu, dilihatnya lagi sekelilingnya. Tak ada sesiapapun di sana, dirinya hanya sendiri di antara ilalang yang tinggi dan kumpulan pepohonan di belakangnya.
…tempat dimana kau temukan padang luas yang ditumbuhi dengan rumput-rumput yang tinggi sehingga bila kau main petak umpet dengan teman-temanmu, maka mereka akan kesulitan mencari dirimu di antara rerimbunannya. Tempat dimana banyak pohon-pohon yang besar yang memiliki banyak ranting sehingga kau dapat memanjat dengan mudahnya sampai ke puncaknya. Berbicara dengan tupai, burung bahkan ulat-ulat yang tinggal di atasnya.
Dirinya kembali teringat dengan perkataan ibunya.
Apakah ini tempat yang diceritakan ibu dahulu.
Perasaan senang mulai menyesaki dadanya. Senyumnya berseri di tengah rasa letih dan lapar. Laya kemudian memasuki hutan mini itu, mungkin ada seratus pohon di dalamnya. Dan benar mereka semua memiliki cabang dan ranting yang rendah sehingga mudah dipanjati,
Persis seperti dalam cerita ibu …
Karena senangnya, Laya melepas sepatu dan ranselnya di tanah. Lalu mulai berlari di antara satu pohon ke pohon yang lainnya, melompat, merangkak, terjatuh, bergulingan, dan tertawa di tanah dan ia merasa seperti burung atau tupai yang bergerak bebas ke sana kemari.
Rumput dan lumut di kakinya terasa lembab bahkan basah. Butiran-butiran air yang terbawa kabut pagi tadi bahkan masih menempel di rerumputan seperti ribuan mutiara kecil yang terbiar terserak di permadani hijau tebal. Ia melihat ke atas. Bahkan sinar matahari sendiri seperti enggan masuk ke hutan kecil ini karena rimbunnya dedaunan. Mereka seperti merapat menjalin diri satu dengan yang lainnya menciptakan suasana teduh di bawahnya. Semak-semak di sekitar mengeluarkan buah berri liar dan buah hutan lainnya yang sebagian sudah ranum bahkan jatuh ke tanah. Merah, hitam, ungu. Mawar hutan, bakung, dandelion, semua terlihat sangat cerah ceria berwarna berwarna. Semuanya.


‘Gadis kecil itu kini seperti dihinggapi perasaan ajaib yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia merasa kalau perasaan inilah perasaan yang mungkin sama adanya kalau ia memasuki negeri dongeng seperti yang sering diceritakan oleh ibunya. Seperti pada saat ia melihat ajaibnya negeri Narnia di dalam film yang pernah ditontonnya, atau cerita Peterpan dan si peri kecil Tinkerbell, atau seperti memasuki negeri pada cerita Keong Mas atau Cinderella yang sering dibacakan oleh ibunya pada saat ia hendak tidur dahulu. Tapi tentu bukan cerita Cinderella seperti yang diimpikannya tadi malam.’ Scorpio mendehem sebelum ia melanjutkan ceritanya.


Kemudian Laya memanjat sebuah pohon dan berusaha untuk mencapai dahan tertingginya, kakinya menapak mantap lalu kepalanya menyeruak dedaunan untuk melihat pemandangan di luar sana.
Matanya lalu beradu dengan padang ilalang yang menguning yang terus bergerak melambai dihembus angin. Beraturan. Jalanan tempat ia melintas tadi kini terlihat sangat jauh dan kecil. Banyak capung yang terbang bermain atau mencari tempat untuk hinggap di atas ilalang. Kalau burung layang-layang melihat capung-capung itu, mereka pasti senang sekali karena banyak makanan untuk ditangkap, pikirnya
‘Benar-benar ajaib…’ serunya.
Lama Laya memandangi pemandangan ajaib itu dari atas pohon hingga kembali turun memasang ransel miliknya. Tangannya kembali merogoh keripik kentang yang tinggal sebungkus lagi dan memetik buah berri pada semak-semak yang ada. Lumayan untuk mengganjal perutnya saat ini, walaupun ia tidak tahu apa yang bakal dimakannya nanti. Tak henti-henti dirinya takjub dengan pemandangan di sekitarnya, kakinya lalu melangkah, lalu kembali berlari kecil, berjingkat, melompat-lompat, dan berputar-putar menyusuri setiap inci hutan kecil itu seperti ia sanggup melakukannya sepanjang hari. Dan kemudian terbaring karena kelelahan di atas rumput dan lumut tebal di tanah. Sejuk dan nyaman. Dan tertidur beberapa lama di sana.
Hingga kemudian ia membuka mata dan mendapati pikirannya begitu tenang sekarang.
Mengapa aku bisa tertidur di sini? Sudah berapa lama?
Tak berapa lama memang, mungkin hanya sejam atau dua. Namun ia merasa sudah berjam-jam lamanya. Ada sesuatu di ujung pandangannya, di sana, di balik batang sebuah pohon besar. Matanya tertuju pada sebuah susunan batu. Ia berdiri dan mendekat ke sana. Susunan batu yang melingkar, rendah, dan tidak utuh lagi karena telah beberapa batunya tersebut telah terserak di sekitarnya. Dan berlubang.
Begitu ia mendekat ia menyadari kalau ternyata itu adalah sebuah sumur kecil yang terlihat sangat tua dan tentu saja tak dipakai lagi. Bebatuan yang terserak dan dinding-dindingnya tertutup oleh tumbuhan merambat dan lumut. Bahkan sebuah bakal pohon telah menjulur keluar dari dalamnya bersiap-siap untuk kelak menjadi satu dari pohon-pohon besar lainnya di hutan kecil itu. Laya melihat ke dalamnya dan menyadari kalau itu adalah sumur yang memiliki air yang dangkal dan jernih, tidak cukup dalam untuk ukuran orang dewasa, hanya setinggi tiga meter, tetapi cukup dalam untuk tubuh kecilnya. Dirinya kemudian bermaksud untuk turun atau setidaknya mengambil airnya untuk mengganti air minumnya yang telah habis. Lidahnya terasa seret dan kerongkongannya terasa kering sekali.
‘Aduh, aku haus sekali. Bagaimana caranya untuk mengambil airnya. Badanku masih terlalu kecil untuk dapat mengambil masuk ke dalam.’ ia tidak yakin kalau masuk ke dalam maka akan dapat keluar lagi dari sana. Siapa yang bakal menolongnya kalau hal itu terjadi. Tidak ada orang yang melintasi daerah ini apalagi tinggal di sini.
Ia mencari cara bagaimana agar dapat mengambil sedikit air sumur tersebut. Matanya kemudian melihat sekeliling mencari sesuatu yang mungkin dapat membantunya untuk mengambil air. Apapun.
Tapi nihil.
Tak ada sesuatupun di sekitarnya yang dapat dipakai untuk mengambil, atau setidaknya menciduk air sumur itu.
Tangannya mencoba meraih air yang ada di dalam sumur, walaupun ia kemudian menyadari kalau air itu masih terlalu jauh untuk diraih tangan kecilnya. Tentu saja hal itu sia-sia. Tapi ia tetap saja mencoba menjulurkan tangannya sejauh mungkin dan bahkan memasukkan sebagian tubuhnya ke dalam sumur. Sementara tangannya yang lain tetap menjadi tumpuan untuk menahan beban berat tubuhnya agar tidak terjatuh. Ia tidak mau terjatuh ke dalam, namun sedikit air sumur itu pasti akan cukup melepaskan dahaganya.
‘Tak ada cara lain.’
Laya merasa kalau bagaimanapun ia harus turun ke sumur itu. Ia lalu mencari tali atau sesuatu yang mirip dengan itu agar dirinya dapat turun dan naik kembali ke permukaan dengan aman. Ia panjat pohon-pohon yang ada, ia susuri semak-semak, ia cabuti ranting-ranting yang halus berharap mereka dapat dijadikan semacam sulur yang dapat membantunya turun ke sungai. Tapi mereka kemudian putus atau patah begitu tangan kecilnya memegang mereka. Laya berpikir keras untuk mencari pengganti tali yang dapat membantunya turun ke sumur tersebut. Dirinya tak pernah menyangka kalau untuk mendapatkan seteguk air dari sumur tersebut ia harus bekerja keras dan mengeluarkan keringat lebih banyak dari seteguk yang mungkin didapatkannya. Matanya lalu melihat ke sebatang patahan batang yang panjang. Tersembunyi di balik pohon yang paling ujung di hutan kecil itu. Ia lalu berlari untuk melihat apakah dahan itu cukup kuat untuk ditaruh ke dalam sumur sebagai tangga yang akan membantunya naik turun.
Kelihatannya cukup kuat dan panjang.
Kayunya juga tidak terlalu besar sehingga sedikit memudahkan dirinya untuk menarik dan melemparnya ke dalam sumur. Itu pikirnya.
Ternyata tidak. Batang kayu itu lumayan berat untuk gadis berusia dua belas tahun tersebut.
Tapi Laya tetap menyeret dahan itu dengan semua kekuatan yang ia punya. Walaupun sebenarnya ia seperti tidak punya kekuatan lagi. Dirinya sudah terlalu lelah. Sedikit demi sedikit dirinya menyeret dahan itu. Hingga akhirnya sampai di bibir sumur.
Tubuh kecil itu berhenti sebentar mengambil nafas. Dirinya sudah tidak kuat lagi. Tapi entah mengapa, seperti ada kekuatan yang menyuruhnya untuk jangan berhenti di situ sebelum ia masuk ke dalam sumur dan mendapatkan air yang diinginkannya. Dengan sisa tenaga yang dia punya. Ia seret batang itu terus mendekat pada sumur, ia angkat, dan akhirnya mencoba untuk memasukkannya ke dalam lubang sumur dan …
Terdengar suara jatuhannya beradu dengan air.
Berhasil!
Batang itu telah ada di dalam. Berdiri secara diagonal dengan ujung yang satu mencapai dasar sumur sementara ujung yang lain menyentuh hampir bibir sumur yang dirasa cukup untuk menjadi pijakannya turun dan naik kembali nantinya.
Ia mulai melangkah masuk dan mencoba menuruninya dengan pelan. Pelan… sambil ia juga berdoa untuk tidak terpeleset dan jatuh ke dalamnya.
Dingin. Dan sesuatu menahannya dari belakang, bajunya tersangkut pada ujung tepian sumur. Ia mencoba menariknya secara perlahan-lahan tapi malah membuatnya terkoyak dan menyisakan sisa bajunya di atas. .
Yah sudahlah. Hanya koyakan kecil. bisiknya. Ia melihat kembali ke bawah dan coba untuk kembali turun. Pijakan pertamanya dirasa cukup sukses.
Dan hup!
Pijakan kedua telah membuat kedua kakinya menapak di atas ujung batang. Sementara tangannya masih memegang ujung bibir sumur. Perlahan ia menurunkan tangan kanannya untuk memegang ujung dahan tempat kakinya berpijak. Seiring dengan kaki kanan yang diturunkan untuk meraih pijakan yang lebih rendah. Terasa sulit dilakukan ditambah dengan ransel yang masih juga dibawa di punggungnya. Ia merasa was-was. Kalau ia lepaskan tangan kirinya dari bibir sumur maka kemungkinan dirinya akan jatuh. Ia mencari batu atau permukaan timbul lainnya yang dapat dijadikan pegangan untuk kedua tangannya.
Ya, di sana.
Ada sebuah ceruk yang memungkinkan tangannya untuk menahan dirinya agar tidak terjatuh. Diraihnya ceruk itu sehingga ia mendapat pegangan yang lebih rendah. Perlahan kakinya turun selangkah dan selangkah lagi. Dan tangannya yang lain berusaha mencari ceruk-ceruk yang lain untuk pegangan. Ia melihat ke atas. Sinar matahari terlihat seperti bintang yang berkedip di waktu malam. Menyeruak di antara rerimbunan daun pohon-pohon yang besar. Begitu hening di dalam sini. Seakan suara dan waktu berhenti berputar. Senyap.
Hup!
Dirinya sudah sampai di bawah kini. Gelap dan lembab. Air sumur itu tidak dalam, dangkal malah hanya setinggi lututnya. Bening dan terasa dingin sejuk. Segera ia meminum airnya dengan senangnya. Air yang membasahi kerongkongannya bagai menghapus dahaganya selama berhari-hari. Hilanglah hausnya kini.
Ia membasuh mukanya di dalam sumur itu. Dan memandang ke atas ke bibir sumur. Di atas, sinar masih terlihat seperti bintang yang berkedip di waktu malam. Bibirnya tersenyum.
Aku akan menghabiskan malamku di sini sebelum aku melanjutkan perjalananku esok hari, pikirnya.
Kembali ia meminum air itu, membuka ranselnya, dan mengisi tempat minum kecilnya sampai penuh dan menaruhnya kembali dalam ransel.
‘Kurasa cukup sampai aku tak merasa haus lagi nanti.’ ia berbicara pada dirinya sendiri, kedua ujung bibirnya naik membentuk kurva kecil. Manis sekali. Ransel ini terasa membebaninya, maka dicobanya untuk melempar ranselnya ke atas melewati sumur agar bebannya untuk memanjat berkurang, tapi sia-sia, ransel itu terlalu berat untuk dapat mencapai bibir sumur. Dan sekali lagi, Hup! Tetap sia-sia. Dua kali mencoba sepertinya sudah cukup untuk meyakinkannya berhenti melempar ransel ke atas.
Baiklah, ransel ini akan tetap ada di punggungku hingga di atas nanti.
Kini ia berusaha untuk kembali naik ke atas dan berharap untuk beristirahat setelahnya.
‘Aku akan mencari makan setelah berada di atas. Buah-buahan dari pohon-pohon besar itu sepertinya boleh juga.’
Tangannya mulai mencari pegangan pada dinding sumur, sementara kakinya mulai menapak pada batang dan dinding yang berlumut.
Satu, dua langkah. Semuanya menjadi amat berarti kini.
Nafasnya satu-satu karena ia berhati-hati agar kalau ia terjatuh, maka jatuhnya tidak terlalu menyakiti dirinya.
‘Uh, Sedikit lagi, … ya, Laya sedikkit lagi. Ayo angkat kaki malasmu. Ayo cepat. Uhh.’ pada saat ia mendesak untuk naik, ternyata ranselnya tersangkut pada sebuah batu sampai menghalangi geraknya untuk naik kemudian, akibatnya...
Byurr!
Ia kembali ke dasar sumur. Dirinya jatuh terjerembab, tercebur ke dalam sumur hingga sebagian kepalanya ikut terbenam merasakan air sumur dan seketika membuat Laya megap, nafasnya tercekat di kerongkongan. Ia berusaha membalikkan tubuhnya ke atas dan meraih udara segar tetapi kemudian kepalanya terasa berat sekali ditambah dengan punggung yang sakit karena terjatuh. Batang dan dinding sumur pasti akan menjadi semakin susah untuk dinaiki. Air yang muncrat ke atas mengenai kulit batang kayu dan lumut pada dinding sumur membuat permukaan menjadi licin sekali,
Sekali lagi ia berusaha bangkit dan berdiri bersandar di dinding sumur. Dengan nafas yang mulai tersengal dan tangan kecil yang berusaha mencari pegangan yang pas, Laya kembali mencoba naik ke atas batang kayu tersebut. Satu kaki, dua kaki, lalu merubah posisi tubuhnya sedemikian rupa untuk dapat menjangkau sisi terjauh yang dapat diraih tangannya. Lalu ia terdiam mencoba berpikir sisi mana lagi yang akan diraihnya untuk menjadi pegangan yang pas. Dalam keadaan seperti itu, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Pada dinding di hadapannya terdapat sebuah lubang yang tak begitu besar. Namun, bukan lubang itu pokok penglihatannya, tetapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang berkilauan, seperti kilau logam. Sekilas saja, namun cukup baginya untuk menhgetahui kalau ia adalah memang sebentuk logam. Tak ada cahaya yang cukup yang masuk ke dalam sumur itu apalagi ke dalam lubang itu, namun benda itu entah bagaimana seperti mengeluarkan kilaunya sendiri, kecil tapi cukup menarik perhatiannya. Laya lebih mendekatkan wajahnya pada dinding sumur di hadapannya, dan mendekatkan matanya untuk melihat jauh ke dalam lubang.
Benar. Ada sesuatu di sana. Tapi entah apa itu?
Jari-jarinya kini berusaha menjangkau.
Terlalu kecil. Lubangnya terlalu kecil.
Ia memaksa untuk membongkar dinding sumur itu. Berusaha membongkar beberapa batu tuanya sementara kakinya terus berusaha menyeimbangkan badannya agar tidak terpeleset lagi. Dan berhasil. Batu-batu dinding sumur itu sudah terlalu lama dan lapuk karena lembab sehingga tidak terlalu sulit untuk dibongkar. Ia sibakkan jari-jarinya di antara tanah dan batuan dinding sumur, Dan kini… ia dapat melihat benda itu. Memang sebuah benda yang berkilau. Sebuah besi atau…
Ia mencoba mencongkel lagi lebih dalam dan,
Auu! Tajam!
Tangannya refleks menarik kembali. Sisi-sisinya tajam dan itu melukai ujung jarinya hingga berdarah kini. Benda apa itu?
Ia mencecap darahnya sedikit dan kembali berusaha mengambil benda itu dengan lebih berhati-hati. Tangannya membongkar batuan lebih besar dan leluasa untuk menarik benda itu keluar.
Dapat! Sebuah besi, bukan, sebuah pisau! Pisau yang…patah.
Ia menarik keluar pisau itu dan bukan pisau yang baik. Telah tertutup dengan lumpur kotor dan karat. Tapi itu hanya dipermukaannya saja.
Laya mencoba menjatuhkan dirinya ke dasar sumur dan membasuh pisau itu dengan airnya. Tangannya mengusap permukaan gagang pisau itu dengan lembut. Ada sebuah batu permata di ujungnya berwarna hitam. Lalu usapannya berpindah pada mata pisaunya. Sepertinya ini bukan sebuah pisau. Ia memang patah, namun masih saja ukurannya terlalu besar untuk menjadi sebuah pisau. Ini sebuah pedang, pedang yang patah. Dan ketika ia terus membasuhnya, semakin kelihatan bahwa itu adalah sebuah pedang dengan gagang keemasan yang berkilauan.
Wow. Ternyata ini pedang yang bagus sekali. Bukan karat. Pedang ini tak berkarat sama sekali. Hanya lumpur yang menutupinya.
Pedang itu bukan seperti pedang yang selama ini dilihatnya di televisi, bukan juga seperti pisau yang terang mengkilap karena logamnya. Tapi pedang itu berwarna hitam. Laya mencoba membersihkan lagi untuk meyakinkan dirinya. Siapa tahu itu adalah kotoran atau karat yang masih menempel. Tetapi bukan. Pedang itu bersih dan ia memang berwarna hitam. Hitam yang mengkilap. Saat Laya masih melihat benda yang ada di pegangannya, pedang kemudian itu mengeluarkan sinar. Bukan karena tertimpa cahaya mentari di atas tapi ia memang bersinar. Betul-betul bersinar dengan cahayanya yang biru kehijauan. Dan sepertinya ia mendesis atau mendesing. Merasa tidak yakin Laya lalu mendekatkan telinga pada pedang itu. Benar. Ia mendesing. Padahal laya tidak melakukan apapun pada pedang itu. Belum habis rasa kagumnya pada sinar pedang tersebut, tiba-tiba Laya merasakan angin yang berhembus kencang masuk ke dalam sumur. Menusuk dingin hingga ke tulangnya. Kembali ia melihat ke atas.
Baiklah, saatnya untuk mencoba kembali naik k atas.
Segera ia menyelipkan pedang itu di antara pinggang dan celananya. Kaki-kakinya kembali memijak pada batang pohon yang melintang tersebut. Mudah-mudahan kali ini ia dapat berhasil mencapai bibir sumur dan keluar dari situ.
Pada saat itu, kembali angin berhembus. namun kini lebih kencang, sepertinya ada angin dari atas sana yang sengaja masuk ke dalam sumur dan berputar di sana.
Ada apa ini? Laya bingung.
Hingga kemudian angin itu terus berputar lebih kuat di dalam sumur seperti tornado kecil. Laya mulai panik dan menjerit. Angin itu begitu kuatnya kini hingga batang pohon tempatnya berpegangan ikut bergerak. Saat matanya melihat ke bawah, ia dapat merasakan air sumur itu bergerak dan turun, seakan ada lubang di dasar sumur yang membuat arus datang entah darimana. Padahal ia yakin kalau dasar sumur bening itu adalah batu-batuan dan air mengalir masuk melalui celahnya. Tapi mengapa air sumur terus bergerak seperti mencipta arus sendiri atau ada kekuatan gaib yang memerintahkannya untuk bergerak berputar dan naik perlahan.
Laya benar-benar panik kini.
Dirinya berusaha untuk meraih apa saja yang dapat dipegang tangannya untuk naik ke atas lagi. Tapi tak bisa, nafasnya mulai terengah tak beraturan. Angin masih terus berputar dan perlahan batang pohon itupun sepertinya semakin tersedot turun ke bawah perlahan.
Tidak! Tidak! Aku harus mencapai ke atas. Aku tak mau ada di sini.
Tangannya mencoba mendaki ke atas kayu yang dijadikannya pijakan tadi lebih cepat kini. Tak peduli ia dengan licinnya dinding dan batang itu sendiri. Tapi usahanya sia-sia. Lumpur di dasar sumur seakan melembek dan segera kini semua yang ada di dalam sumur itu berputar semakin kencang dan kencang.
Entah kemana semua batu dan dasar yang keras tadi.
Kini air mulai merambat naik ke pahanya dan mulai meraih pinggangnya.
‘Aku mau keluar! Aku mau keluar! Tolong, siapapun di atas sana tolong aku, toloooong!’
Laya histeris, dirinya menolak dimakan hidup-hidup oleh sumur itu. tangannya meraba-raba dan menggapai semua yang ada di sekeliling sumur. Semua lumut telah terserabut oleh jari-jarinya.
Tapi sekali lagi itu semua tak ada artinya. Lumpur di dasar sumur seperti memegang erat kaki dan pinggangnya. Dan air sumur itu sendiri seperti mengikatnya dari segala arah yang bisa untuk menjeratnya tetap berada di dalam. Semakin ia mencoba untuk meronta, semakin cepat lumpur dan arus itu menariknya ke dalam. Kini seperti ada lubang yang membuka di dasar sumur yang menelan kayu itu dengan segera.
Hingga akhirnya semua yang ada di dalam sumur itu ikut berputar dengan arus dan tenggelam bersama.
Byuuur…
Air sudah menenggelamkan semuanya kini. Dan semua seperti bergerak dalam gerakan yang pelan, dirinya, batang pohon itu, bahkan arus air yang membawanya. Masih dalam kebingungan dan ketakutan Laya seperti berusaha mencari yang ia sendiri tidak tahu apa. Pandangannya mengabur di dalam air. Pikirannya bercabang kemana-mana. Ia masih bisa merasakan kalau ranselnya masih menempel di punggungnya. Di antara ketakberdayaannya, Laya masih bisa melihat sinar mentari yang berkelap-kelip seperti bintang di antara rimbunan dedaunan, bibir sumur yang tak seberapa jauh dari kepalanya. Ia masih bisa berpikir kalau sumur itu tetaplah sumur yang dangkal, dan tak habis pikir mengapa ia bisa tenggelam di sumur yang dalamnya hanya setinggi lututnya. Mulutnya menggembung karena udara yang disimpan paksa. Hingga kemudian tubuhnya kembali tersedot lebih dalam, entah menuju kemana, hingga kemudian ia melayang, ringan sekali. Laya tidak sadarkan diri untuk sesaat, beberapa detik yang terasa sangat lama.
Dimana aku? Mana sumur tadi?
Kini Laya melihat bahwa sumur itu seperti telah berubah menjadi sungai gua bawah tanah yang luas tetapi tidak gelap. Dan ia tenggelam di sana. Matanya masih dapat melihat sekelilingnya walaupun kabur. Tak nampak apapun di bawahnya selain hitam dan hitam. Sementara ia tidak tahu di mana jejak sumur yang dimasukinya tadi. Di atasnya adalah batuan karang solid yang sama gelapnya. Tak ada tanda-tanda permukaan atau udara di sana. Ia bingung sekali, pada saat ini ia merasa beruntung memiliki kemampuan berenang dan menyelam seperti yang diajarkan ibunya walaupun ini bukan di kolam tapi air yang luas yang tidak diketahui di mana dasarnya. Selain itu ia juga takut karena ia dapat tenggelam dan mati. Ia mencoba membuka mulutnya tetapi air segera menyergap masuk. Laya lalu menutup mulutnya dengan cepat.
Ini bukan sungai yang sering diceritakan ibu dalam cerita-ceritanya yang dapat dimasuki dan kita masih dapat bersuara di dalamnya bahkan bercanda dengan makhluk-makhluk air yang baik dan cantik. Bukan, ini nyata dan aku dapat merasakannya sekarang.
Dan ia tak tahu berapa lama akan bertahan. Kemudian matanya menangkap sinar mentari yang muncul dari balik bebatuan beberapa meter darinya dan memendarkan warna-warna pelangi dari kristal-kristal yang timbul di antara stalagtit dan stalagmit gua itu dan entah dari mana lagi. Dirinya masih mempertanyakan apakah ini penglihatan yang nyata atau tidak karena dirinya tidak tahu lagi harus bagaimana. Dan mungkin sinar itu satu-satunya jalan. Maka dicobanyanya berenang menuju sinar itu dan berharap mendapatkan permukaan.
Paru-parunya yang sesak menyadarkannya. Ia butuh udara saat ini.
Aku tak bisa menyelam lebih lama lagi, apa yang harus aku lakukan? Aku akan mati lemas tenggelam di sini. Aku akan mati di sini… aku tak mau!
Terus ia berusaha berenang menuju asal cahaya tersebut, semakin mendekati dan mendekati, hingga kemudian…
Laya tersekat. Ia ia tak dapat bergerak maju. Apa ini?
Ia merasa kakinya seperti dipegang oleh sesuatu.
Apa yang mengganjal kakiku!?
Ketika ia melihat ke belakang, samar, namun ia dapat melihat bahwa ada sesosok makhluk yang memiliki rambut yang panjang terurai melayang-layang menutup wajahnya,
Laya terbelalak dengan apa yang dilihatnya. Darahnya berdesir. Ia menjerit di dalam air. Tapi tentu saja tak ada suara yang keluar. Air malah masuk mengisi mulutnya yang terbuka. Dirinya meronta mencoba melepaskan pegangan makhluk air tersebut. Tapi tangan itu memang kuat mencengkram kakinya.
Kembali ia melihat ke belakang, tangan makhluk itu memiliki sisik dan selaput layaknya katak dan mencengkram mata kakinya dengan erat, dan ia ….
Siapa itu?
Belum habis terkejutnya, kini tangannya tiba-tiba juga ditarik dari atas, dan kini Laya dapat melihat bahwa makhluk itu tidak sendirian, ada temannya yang juga menarik satu tangannya ke atas, seperti mengajarinya berenang,
… atau malah menenggelamkannya?
Siapa kalian, apa yang kalian mau dariku?
Laya terus meronta untuk melepaskan diri. Sedikit air telah tertelan olehnya. Nemun mereka seperti tidak peduli dan terus mencengkeram tangan dan dua kaki Laya pada pegangan masing-masing. Dan Laya dapat melihat mereka dengan jelas kini. Mereka seperti telanjang tetapi pinggang mereka ke bawah layaknya ikan. Mata mereka besar sekali tetapi hanya hitam, atau satu warna gelap yang dapat ditangkapnya. Pikiran Laya lalu teringat pada cengkeraman pamannya di saat ia dinodai.
Laya kembali mencoba menjerit tetapi sia-sia. Ia memberontak dan semakin gigih dengan semua daya yang dimilikinya. Tangan dan kakinya berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan, tapi itu juga sia-sia. Apalah daya tangan dan tenaga anak perempuan berumur dua belas yang tenggelam di dalam air tahun di bandingkan dengan dua makhluk yang berukuran sama dengan orang dewasa. Lalu ia teringat dengan pedang itu, mungkin jika ia dapat melepaskan diri ia dapat membuat mereka takut. Laya seperti dikejar waktu. Ia semakin kehabisan udara tapi ia juga tak berdaya melepaskan diri. Hingga di dalam takutnya ia merasa putus asa dan memberontak sekuatnya. Satu tangannya yang dipegang dapat lepas tapi tidak untuk lama. Makhluk itu berusaha kembali memegangnya walaupun ia hanya berhasil mendapat tangan kanannya kini. Dengan cepat lalu Laya meraih pedang itu dari pinggangnya dan disabitkan sekenanya.
Cess!
Pedang patah itu berhasil mengenai lengan makhluk itu sehingga ia membebaskan tangan kanannya lalu berenang menjauh. Laya tak bermaksud untuk melukai, ia hanya ingin makhluk-makhluk itu pergi dari sekitarnya. Kini laya berusaha berbalik untuk melakukan hal yang sama pada makhluk kedua yang menyadera kakinya. Pedang itu tiba-tiba kembali bersinar danlebih terang kali ini sehingga berhasil membuat makhluk kedua gusar dan seperti berteriak. Tak seperti temannya, makhluk itu melepaskan kaki Laya dengan sendirinya. Sepertinya keduanya takut akan cahaya pada pedang itu. Laya dapat melihat mulut makhluk itu terbuka lebar dan mereka menjauh.
Ia semakin lelah. Kadar udara dalam paru-paru dan mulutnya sudah hampir dan hampir habis. Begitu juga dengan perlawanannya, ia begitu lelah, tak ada lagi tenaga yang tersisa. Air mulai masuk dan menyesaki kerongkongan dan paru-parunya. Tapi kemudian ia melihat makhluk pertama yang dilukainya itu datang kembali dan menyerangnya. Ia datang dan menubruk dirinya dan menghempas Laya dengan ekor ikannya yang besar. Bukan itu saja, dalam pikirannya yang telah memasuki antara alam sadar dan tidak, sepertinya Laya melihat makhluk yang satu lagi juga mendekat padanya, dan… entahlah. Yang ia tahu air terasa berputar dan bergerak sangat cepat membawanya menjauh dari dari tempatnya berada dan ia tak dapat melakukan apapun selain hanya dapat mengikuti arus itu.
Hingga matanya kemudian memberat dan mulutnya dibekap dengan sesuatu dan dirinya terasa seperti ditarik. Akhirnya ia tak dapat melihat apa-apa lagi, semua menghitam, …
hitam,…,
hitam,
dan Laya tak ingat apa-apa lagi.

* * *