Kamis, 22 September 2011

My Journey to Mentawai

Pada tanggal 19 September 2011 kemarin adalah pengalam pertama saya menginjakkan kaki ke Mentawai. Perjalan ini berkenaan dengan pendampingan perusahaan rekanan tempat saya bekerja berkaitan dengan pekerjaan Pendataan yang akan mereka lakukan.
Pada malam saya akan berangkat ke Mentawai menggunakan Fery KM Ambu-Ambu saya sudah merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Mengapa? Karena ketua rombongan saya yang sudah beberapa kali bolak-balik Padang-Mentawai terus saja berjalan melintasi dermaga untuk memasuki kapal padahal saat itu pintu kapal masih tutup. Dan benar saja, kami masuk ke dalam kapal melalui jendela besar di dinding kapal yang ternyata di dalamnya Ya Allah... tempat yang seharusnya hanya diisi dengan kendaraan penumpang, kini penuh dengan, tidak saja kendaraan, namun juga ayam, kardus-kardus segala makanan dan minuman, mie instan, sayuran, telur, dan banyak lagi. Dan dengan terpaksa kami pijak dan langkahi hanya untuk naik ke atas kapal. Saya merasa menyesal namun itulah tidak mungkin menyingkirkan satu persatu barang tersebut dan setiap penumpang melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan. Tidak terpikir lagi body kendaraan yang penyok, lampu yang pecah, atau lainnya, yang jelas setiap dari penumpang harus dapat naik.

Di atas ternyata penumpang sudah berjubel bahkan sampai ke setiap sudut lantai. Rombongan kami yang sedari awal tidak dapat jatah kamar karena habis dipesan akhirnya harus terus mengikuti ketua rombongan yang terus naik ke atas, ke atas, dan akhirnya sampai ke HAH!!! Dek luar di atas kapal. Dan disitulah kami harus berpuas diri. Harapan saya malam itu hanya satu, jangan hujan.



Namun semua doa itu gagal, karena akhirnya hujanpun turun pada jam 03:00 WIB.

'Dek Titanic' begitulah saya menyebutnya. Dan semua tempat telah terisi.


Semua penumpang yang ada langsung bereaksi, berdiri dari tidurnya dan langsung merapat menghindari hujan. Sementara saya? Saya yang semula sudah sedikit terlena dan bersyukur karena perjuangan untuk menahan rasa pusing karena goyangan kapal sedikit terobati kini harus menambah lapisan tenaga dalam untuk menahan serangan angin dan hujan yang mengucur deras, namun akhirnya... saya menyerah, saya menumpahkan semua isi yang ada dalam operut saya setelah 'tersugesti' penumpang lainnya yang sudah 'menumpahkan isi perut mereka' duluan.
KM Ambu-Ambu akhirnya merapat pada pukul 06:30 WIB di Tua Pejat, ibukota Mentawai. Setelah sebagian kerjaan selesai, barulah saya bisa sedikit bersantai dengan melihat sebagian kecil dari salah satu pulau terluar Indonesia itu

dan saya berjalan-jalan, melintasi pelabuhan Fery,

Safety First? Mana penerapan pernyataan itu ketika saya menumpang di malam sebelumnya? Mana aturan tidak boleh overload penumpang itu?? Namun saya harus memaklumi kalau transportasi adalah salah satu masalah yang sangat dibutuhkan di sini, sehingga overload adalah hal yang 'biasa'. Masyarakat butuh transportasi yang murah dan tidak perlu banyak namun mencukupi.


Melihat anak-anak berenang,



Setiap kali saya mencoba mengambil gambar pada saat mereka terjun bebas saya selalu gagal :P



Melihat penduduk lokal lengkap dengan topi tradisionalnya bersampan,



Melintasi kota



Pasar tradisional,



melihat nelayan menarik sampan,



melintasi jalan pedesaan,



melintasi pantai,










hingga kemudian mata saya melihat sesuatu...

KIMO!! Saya ingat salah satu teman saya yang menitip Kimo/Kima ini.
I found it, now you can envy me Jo Simanjuntak! :P



That's me. Doing... eeeengggg nothing :P



































Dan setiap perjalanan harus berakhir. Aku harus kembali esok harinya, kali ini melalui udara. Mungkin karena anggota yang lain trauma bila harus mengalami perjalanan dengan Fery lagi.
Bandar udara Rokot Sipora berada jauh dari Tua Pejat. Akses darat menuju tempat itu sangat terbatas dan hanya bisa dilalui dengan sepeda motor karena medannya yang berat. Untuk itu jalan tercepat adalah memutar melalui laut. Perjalanan menyeberang ini memakan waktu 45 menit sampai 1 jam, namun pemandangannya juga tak kalah indahnya. 

Pelabuhan Rokot






























Dan pesawatpun akhirnya tiba dan bersiap membawaku kembali menyeberang lautan menuju Padang selama 1 jam ke depan.



One thing for sure, Mentawai is a beautiful place. Indeed.

Minggu, 18 September 2011

Sekali Lagi Soal Bahasa

Saya ada sedikit komplain terhadap penggunaan beberapa kata yang dipakai dalam kalimat percakapan belakangan ini. Menurut saya penggunaan beberapa kata itu terlalu berlebihan dan tidak tepat pada fungsi dan perannya dalam kalimat.
Yang pertama adalah penggunaan kata aku yang menurut saya berlebihan. Saya tidak tahu sejak kapan penggunaan aku ini menjadi tak terkontrol. Yang jelas kecenderungan pemakaiannya dipengaruhi oleh para pesohor pada setiap kali mereka diwawancara. Jangan dulu membahas kata saya yang menurut saya memang terkesan lebih sopan dan beretika.
Contoh:
- “Mbak S, kenapa sekarang senang menggunakan baju blazer?”
- “Ya biar simpel aja, menurut aku, itu lebih menunjukkan kepribadian aku belakangan ini. Tapi yang pasti, baju-baju aku, perhiasan aku, semua itu untuk kepentingan manggung kok.”
Akan lebih enak didengar bila menggunakan kata ganti ku seperti:
- “Mbak S, kenapa sekarang senang menggunakan baju blazer?”
- “Ya, biar simpel aja, menurutku, itu lebih menunjukkan kepribadianku belakangan ini. Tapi yang pasti, baju-bajuku, perhiasanku, semua itu untuk kepentingan manggung kok.”

Atau seperti dalam wawancara pesohor lainnya yang mengunjungi pacarnya di Lembaga Pemasyarakatan.
- "Iya, aku memang sudah menyiapkan kue itu dari sebelum aku berangkat. Dan tadi pagi sudah dibawa oleh orang kantor aku ke Bandung. Ya aku pengen ngasih kejutan aja buat dia, karena aku kebetulan ngga bisa dateng ke Bandung sekarang"
Akan lebih nyaman didengar telinga kalau misalnya;
- "Iya, aku memang sudah menyiapkan kue itu dari sebelum aku berangkat. Dan tadi pagi sudah dibawa oleh orang kantorku ke Bandung. Ya aku pengen ngasih kejutan aja buat dia, karena aku kebetulan ngga bisa dateng ke Bandung sekarang"

Yang kedua adalah penggunaan kata sambung secara yang trend digunakan dalam keseharian, yang menurut saya tidak pada tempatnya. Mengapa? Karena secara kalau diartikan maka akan bermakna dengan cara. Namun dalam penggunaannya akhir-akhir ini sangat jauh dari fungsi dan tidak ada korelasi antar fungsi dan maknanya.
Contoh:
- Wah, Rin baju kamu bagus!’
- Ya iyalah, secara, kita ngomongin gue gitu lho…’
Atau:
- Kamu yakin pada saat itu kamu lihat Donni punya pacar baru?’
- Yakin dong, secara waktu itu aku ada di samping mereka, tapi mereka gak liat aku.’

Kalau mengikuti fungsi katanya maka kalimat pertama akan berarti:
- Wah, Rin baju kamu bagus!’
- Ya iyalah, dengan cara, kita ngomongin gue gitu lho…’. (???) Sungguh tidak ada korelasi antara kata sambung secara itu dengan anak kalimat selanjutnya.

Sedangkan untuk kalimat kedua,
- Kamu yakin pada saat itu kamu lihat Donni punya pacar baru?’
- Yakin dong, karena waktu itu aku ada di samping mereka, tapi mereka gak liat aku.’
Kata sambung secara dengan telak menggantikan posisi kata sambung karena yang seharusnya berfungsi lebih tepat dalam kalimat tersebut.

Dan yang ketiga adalah yang sekarang sedang digandrungi yaitu sesuatu banget yang menurut saya juga tak jauh beda nyelenehnya dengan penggunaan secara tadi.
Contoh:
“Hari ini awan mendung, membuat… sesuatu banget kan?”
Dan sayapun semakin melongo karena tidak mengerti. Apakah itu juga membuat saya sesuatu banget?

September 18, 2011