Selasa, 06 Desember 2011

Merah itu Senja

Aku heran mengapa kau juga mengotakkan dan menaruhku dalam salah satu dari entah berapa banyak susunan kubikel yang masih kosong dalam sudut hatimu.
Okelah kalau itu memang itu kau lakukan, setidaknya kalau aku berarti khusus maka aku minta satu kompleks besar kubikel dari yang lainnya sehingga aku nyaman di situ.
Maaf kalau itu berpengaruh pada tak sensitif dan tak perhatiannya aku belakangan ini karena aku butuh kepastian.
Karena kau memaksaku untuk melakukan ini dan kita selalu bertaruh dan berdebat akan banyak hal.

- masihkah kita mencinta? -

Seperti halnya saat kau mengatakan merah itu marah
Itu membuatku gelisah
Sesuatu melenting geming dalam dada,
tak diam,
berdebam...
Merah itu senja
Karena bagiku marah itu Hitam tingkat II
Abu-abu adalah bimbang dan salju


- kau tahu, aku mengambil selingkar besar senja sore kemarin dan menempatkannya dalam sisi depan pikirku.
Indah sekali, terasa kalau bumi itu besar dan juga kecil sekaligus. Sementara aku memang kecil dari dulu. -

Merah itu senja dan kuning adalah fajar,
Aku sudah memaku keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar